Keempat Sifat yang Menjadi Penyebab Seseorang Diangkat Derajatnya oleh Allah
Dalam pandangan para hukama, terdapat empat sifat utama yang menjadi sebab seseorang diangkat derajatnya oleh Allah menjadi derajatul abdi. Derajat ini merupakan pangkat tertinggi yang diberikan kepada seorang hamba. Salah satu dari sifat tersebut adalah al-hilm, yaitu kebijaksanaan dan penyantunan.
Al-hilm merujuk pada sifat orang yang bijak dan penuh belas kasihan. Allah menggambarkan diri-Nya sebagai Al-Halim, yaitu Sang Penyantun. Dengan demikian, seorang hamba yang memiliki sifat al-hilm disebut Abdul Halim. Kaum muslimin, kita harus menghormati orang-orang yang memiliki sifat penyantun dan bijak karena mereka layak menjadi contoh dalam kehidupan.
Nabi Muhammad SAW pernah memperingatkan bahwa akan datang suatu zaman ketika seseorang tidak lagi merasa malu terhadap orang yang memiliki sifat penyantun. Oleh karena itu, kita harus menjaga rasa hormat terhadap mereka. Orang-orang yang memiliki sifat al-hilm akan diangkat derajatnya oleh Allah ke tingkat yang paling tinggi.
Sifat Tawaduk: Rendah Hati
Sifat kedua yang menjadi penyebab seseorang diangkat derajatnya oleh Allah adalah tawaduk, yaitu sifat rendah hati. Orang yang memiliki tawaduk tidak pernah menyombongkan dirinya, baik dalam hal pangkat, jabatan, harta, maupun ilmu pengetahuan. Semakin banyak anugerah yang diberikan oleh Allah, semakin rendah hati pula ia hidup.
Orang yang rendah hati ini akan diangkat derajatnya oleh Allah menjadi salah satu hamba yang paling tinggi. Sifat tawaduk ini sangat penting dalam membentuk kepribadian yang baik dan dekat dengan Allah.
Sifat Asaha: Derma dan Pemurah
Sifat ketiga yang menjadi sebab seseorang diangkat derajatnya oleh Allah adalah asaha, yaitu sifat dermawan dan pemurah. Rasulullah SAW sering mengingatkan bahwa orang-orang yang dermawan adalah orang-orang yang dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dan dekat dengan surga serta jauh dari api neraka.
Orang-orang yang pemurah memiliki rasa kesetiaan, kewarganegaraan sosial yang tinggi, serta rasa tanggung jawab atas nikmat yang diberikan oleh Allah. Mereka mampu memanfaatkan harta kekayaannya untuk kemaslahatan masyarakat.
Sifat Akhlak yang Baik
Sifat keempat yang menjadi sebab seseorang diangkat derajatnya oleh Allah adalah akhlak yang baik. Ini mencakup tutur kata, tindakan, dan perilaku yang menunjukkan kebaikan-kebaikan. Orang-orang yang memiliki akhlak yang baik akan diangkat derajatnya oleh Allah, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.
Lima Hal yang Menghalangi Seseorang Menjadi Baik
Para hukama juga menyampaikan bahwa ada lima hal yang bisa menghalangi seseorang menjadi baik. Pertama adalah al-qanaah bil jahli, yaitu merasa puas dengan kebodohan dan tidak mau menuntut ilmu. Orang yang seperti ini hidup dalam kebodohan dan tidak ingin menambah wawasan.
Kedua adalah orang yang terlalu serakah. Mereka lupa bahwa dunia adalah tempat bercocok tanam dan mencari bekal untuk kehidupan akhirat. Ketiga adalah orang yang kikir terhadap anugerah yang diberikan oleh Allah. Mereka tidak menjadikan karunia tersebut sebagai kesempatan untuk menjadi hamba yang baik.
Keempat adalah ‘arya fil amal’, yaitu orang yang selalu pamer dalam melakukan amal baik. Mereka ingin disebut oleh orang lain, bukan hanya untuk mendapatkan penghargaan dari Allah. Terakhir adalah ‘wal ajab’, yaitu orang yang selalu merasa benar dan menganggap dirinya yang baik, sementara orang lain dianggap salah.
Sifat yang Harus Dihindari
Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa orang-orang yang selalu menganggap segala-galanya tergantung pada dirinya sendiri adalah orang-orang yang sulit menjadi saleh. Oleh karena itu, kita harus menjaga diri dari sifat-sifat ini agar dapat menjadi hamba yang baik di hadapan Allah.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan anugerah-Nya kepada kita semua. Amin.











