Puluhan Kendaraan Diminta Putar Balik
Puluhan kendaraan diminta putar balik. Parkiran Gedung Lestari 45 penuh sesak. “Ke sebelah, Pak!” Seru sekuriti berseragam khusus di depan gerbang halaman parkir Gedung Lestari 45, Jalan Urip Sumoharjo, Kilometer 4-5, Makassar, Minggu sore, 22 Februari 2026. Ratusan pria dan wanita hilir-mudik, antre masuk ruang utama. Rerata mereka mengenakan baju putih. Mereka berdatangan menjelang waktu Shalat Asar. Semakin ramai setelah waktu Shalat Wustha.
Alam pun sakan ikut bersyukur. Langit turut bersujud. Makassar yang dalam tiga hari terakhir selalu dicurah air hujan, kali ini cerah ceria sejuk. Inilah puncak Bosowa Bersyukur dalam rangka Hari Ulang Tahun Ke-53.
Tudang Sipulung sebagai Pilihan Sadar
Undangan menyebar senyap. Tak ada baliho. Pada undangan itu, satu kata ditulis besar dan artistik: Tudang Sipulung. Bukan gala dinner, bukan annual meeting, bukan town hall. Bosowa dengan sadar memilih kosa kata lokal, bahkan kultural, untuk menamai ritual organisasionalnya. Ini pilihan yang sangat sadar. Menyadarkan. Penuh makna.
Dalam sosiologi, ini bukan pilihan netral. Ini adalah tindakan simbolik.
Tudang sipulung dalam tradisi Bugis-Makassar berarti duduk bersama, setara, tanpa jarak simbolik yang mencolok. Ia adalah ruang deliberasi, ruang mendengar, ruang mengingat. Ketika istilah ini dipakai oleh Bosowa, maka yang terjadi bukan sekadar pelokalan bahasa, tetapi lokalisasi kekuasaan simbolik. Korporasi tidak sedang berdiri di atas. Tidak memposisikan diri lebih tinggi. Mereka memilih duduk bersama. Pun di arena acara.
Undangan itu juga mencantumkan dress code: Atasan putih. Bawahan warna gelap. Ini tak kalah menarik. Putih adalah simbol universal kesucian, keikhlasan, dan niat baik. Gelap, hitam atau gelap, adalah simbol keteguhan, kedewasaan, dan pengendalian. Kombinasi ini membentuk estetika kesalehan moderat. Bahasa sosiologisnya: tidak flamboyan, tidak eksentrik, tetapi tertib dan terkendali.
Dalam foto, estetika itu hidup. Founder Bosowa HM Aksa Mahmud bersama para Para pimpinan, karyawan, hingga keluarga, termasuk anak kecil penerus, berdiri dalam satu barisan. Tidak tampak jarak mencolok antara elite dan non-elite. Tidak ada jas mahal. Tidak ada panggung simbolik yang meninggi. Yang tampak adalah keseragaman yang dipilih dan disepakati. Bukan yang dipaksakan.
Dalam istilah Pierre Bourdieu, ini adalah habitus yang telah menyatu. Kesalehan yang tidak perlu diumumkan. Kesalehan yang sudah menjadi kebiasaan kolektif.
Susunan Acara yang Berbeda
Lalu simak susunan acaranya:
* Khatam Al-Qur’an
* Registrasi
* Pembukaan oleh MC
* Sambutan CEO dan Founder Bosowa
* Buka puasa bersama
* Shalat berjamaah
* Sujud syukur
* Pemotongan tumpeng
* Tausiah Islamiyah
* Undian umrah
Itu bukan sekadar rentetan agenda. Itu ritual organisasi. Bosowa sedang membingkai ulang makna ulang tahun perusahaan. Ia tidak dimulai dari pidato kinerja atau capaian finansial. Acara justeru dimulai dari ibadah. Bahkan pemotongan tumpeng, ritual nasional-sekuler, diletakkan di tengah rangkaian ibadah, bukan sebagai puncak tunggal.
Secara sosiologis, itu adalah desekularisasi ruang korporasi. Bukan dalam arti eksklusif agama, tetapi dalam arti: perusahaan mengakui bahwa keberlanjutan tidak hanya ditopang oleh strategi, melainkan oleh makna.
CEO Bosowa Subhan Aksa berdiri berdampingan dengan Founder Bosowa HM Aksa Mahmud dan Ramlah Aksa. Diapit oleh Melinda Aksa dan Athirah Aksa. Kehadiran nak-anak generasi ketiga Bosowa di barisan depan memiliki makna simbolik kuat. Bosowa sedang menampilkan dirinya bukan hanya sebagai mesin ekonomi, tetapi keluarga besar lintas generasi.
Dalam sosiologi organisasi, ini jarang. Banyak perusahaan berbicara tentang family, tetapi hanya sedikit yang memvisualisasikannya secara nyata.
Pesan Symbolic Restraint dari Bosowa Bersyukur
Biasanya, ulang tahun korporasi adalah ajang akumulasi kapital simbolik. Ditandai oleh logo besar, panggung megah, dan klaim keberhasilan. Yang terjadi di sini justru sebaliknya. Tema “Bersyukur, Berbagi dalam Keberkahan” adalah bentuk symbolic restraint.
Symbolic restraint diperkenalkan sosiologis untuk menggambarkan suatu sikap menahan diri dalam menampilkan simbol-simbol kekuasaan, keberhasilan, dan superioritas, meskipun secara objektif sebuah institusi atau elite mampu melakukannya.
Memilih symbolic restraint bukan berarti kekurangan simbol. Ia justeru pengendalian simbol. Dalam bahasa sederhana, memilih symbolik restraint karena kesadaran bahwa “tidak semua yang bisa dipamerkan, harus dipamerkan.”
Dalam sosiologi kekuasaan dan organisasi, logo besar, panggung megah, pidato dominan, klaim keberhasilan adalah kapital simbolik. Ia berfungsi untuk menegaskan posisi, legitimasi, dan otoritas. Namun symbolic restraint muncul ketika sebuah organisasi secara sadar mengurangi intensitas simbol-simbol itu, dan menggantinya dengan bahasa kesederhanaan, kebersamaan, dan refleksi.
Menampilkan symbolic restraint bukan merendahkan diri secara palsu. Tapi untuk menjaga jarak dari kesan elitis, menghindari resistensi sosial. Tapi untuk membangun legitimasi moral, bukan hanya legitimasi struktural. Dalam konteks masyarakat yang sensitif terhadap kesenjangan, symbolic restraint adalah strategi kepercayaan, bukan strategi pencitraan.
Tema “Bersyukur, Berbagi dalam Keberkahan” tidak menonjolkan klaim “sukses”, “besar”, atau “terdepan”. Yang ditampilkan justru bahasa etis dan spiritual. Acara dibuka dengan khatam Al-Qur’an, buka puasa, shalat berjamaah, dan sujud syukur. Dress code putih dan gelap, tanpa kemewahan berlebihan, membentuk kesan kesederhanaan kolektif, bukan hierarki elite. Tudang sipulung, duduk bersama, menghapus jarak simbolik antara manajemen, karyawan, dan keluarga. Semua itu menunjukkan bahwa Bosowa tidak sedang mengakumulasi kapital simbolik, tetapi mengendalikannya. Itulah symbolic restraint.
Penampilan symbolik restraint itu sejalan dengan pernyataan Subhan Aksa dalam rangkaian HUT: bahwa Bosowa tidak hanya berorientasi pada laba, tetapi ingin tumbuh bersama masyarakat.
Dari Moneter ke Makna
Bosowa memang seakan terlahir lagi di tahun 2026 ini. HM Aksa Mahmud seakan dejavu pada situasi Februari 1973, 53 tahun silam. Pada awal 1973, Indonesia berada dalam tekanan ekonomi akibat krisis moneter global dan lonjakan inflasi. Pemerintah merespons dengan kebijakan moneter yang diumumkan Menteri Keuangan Ali Wardhana pada 21 Februari 1973. Kebijakan tersebut diberitakan luas oleh media nasional keesokan harinya dan dikenal masyarakat dengan satu istilah yang saat itu sangat populer: moneter.
Di tengah situasi ekonomi yang sulit tersebut, Aksa Mahmud, yang telah memutuskan mengorbankan pendidikan formal di Fakultas Teknik Unhas untuk fokus menjadi pengusaha, mendirikan CV Moneter pada Kamis, 22 Februari 1973. Tanpa menunda waktu, Aksa mengurus pendirian perusahaan pada notaris Teng Tjinleng SH. Nama “Moneter” sudah disiapkan sejak lama. Seiring semakin viralnya kata ini.
“Memang kebanyakan notaris pada masa itu adalah orang Tionghoa,” ujar Aksa Mahmud. CV Moneter berdiri melalui Akta Pendirian Nomor 6 Tahun 1973 dan bergerak di bidang pengadaan barang, mulai dari alat-alat kantor hingga material bangunan. CV Moneter kemudian menjadi fondasi bagi lahir dan berkembangnya Bosowa sebagai kelompok usaha nasional lintas sektor.
Pada 1973 Bosowa lahir dari krisis moneter, dari kata yang menakutkan, maka pada 2026, Bosowa merayakan dirinya dengan kata yang menenangkan: bersyukur. Secara sosiologis, ini adalah perjalanan dari: rasionalitas ekonomi, menuju rasionalitas bermakna. Bosowa sedang menegaskan identitasnya bukan hanya sebagai korporasi nasional, tetapi sebagai ruang sosial yang berakar, religius secara kultural, dan sadar akan keterbatasannya.
Lahir dari Kegelisahan Zaman
Tidak semua perusahaan lahir dari kenyamanan. Sebagian justru lahir dari kegelisahan zaman. Bosowa adalah salah satunya. Ia lahir ketika kata moneter bukan sekadar istilah teknis, melainkan kecemasan kolektif; bukan sekadar kebijakan, melainkan percakapan rumah tangga. Pada 22 Februari 1973, di tengah tekanan inflasi, gejolak nilai tukar, dan kebijakan moneter nasional yang keras, Aksa Mahmud mendirikan CV Moneter di Makassar. Kata “moneter” saat itu begitu populer. Moneter selalu menghiasi radio, televisi, dan halaman depan surat kabar. Apalagi setelah pemerintah melalui Menteri Keuangan Ali Wardhana mengumumkan kebijakan untuk meredam dampak krisis global, pada 21 Februari 1973.
Lima puluh tiga tahun kemudian, kata itu tinggal jejak sejarah. Namun ikhtiarnya menjelma Bosowa, sebuah kelompok usaha nasional yang kini menandai usianya yang ke-53 dengan satu kata kunci: bersyukur. Bersyukur sebagai Kesadaran Sejarah.
Bosowa Corporindo genap berusia 53 tahun pada 22 Februari 2026. Dalam peringatan tahun ini, Bosowa mengusung tema “Bersyukur, Berbagi dalam Keberkahan”. Tema ini bukan sekadar slogan seremonial. Ia adalah pembacaan ulang atas sejarah kelahiran Bosowa, perusahaan yang lahir bukan dari kelimpahan, melainkan dari krisis.
Ketua Umum Panitia HUT Bosowa ke-53, Dirjo Santoso, menegaskan bahwa tema tersebut berangkat dari tujuan awal Bosowa berdiri: membawa berkah dari Timur Indonesia untuk kemajuan bangsa. “Tema ini memastikan bahwa perayaan HUT Bosowa tidak hanya menjadi selebrasi internal, tetapi momentum untuk bersinergi dan berkolaborasi demi negeri,” kata Dirjo dalam konferensi pers di Hotel Aryaduta Makassar, Kamis (19/2/2026).
Konferensi pers itu membahas capaian, rangkaian kegiatan, sekaligus doa dan harapan Bosowa di usia ke-53. Hadir pula CEO Bosowa Corporindo, Subhan Aksa. Sebelum acara dimulai, Subhan, yang kala itu berpakaian dominan biru, menyalami satu per satu jurnalis. Gestur kecil, namun simbolik: Bosowa merawat relasi, bukan sekadar reputasi.
Duduk Bersama Mengingat Arah
Dalam tradisi Bugis-Makassar, tudang sipulung berarti duduk bersama tanpa hierarki yang kaku untuk berbicara, merenung, dan mengambil keputusan. Dalam acara ini, seluruh karyawan dari berbagai unit bisnis Bosowa duduk bersama, merefleksi perjalanan, sekaligus merayakan ulang tahun perusahaan. Tahun ini, tudang sipulung juga dirangkaikan dengan buka puasa bersama seluruh karyawan Bosowa, menegaskan dimensi spiritual di tengah perayaan korporasi.
“Tudang sipulung ini juga akan terhubung secara daring dengan yang ada di Jakarta,” ujar Dirjo Santoso. Dari Makassar hingga Jakarta, Bosowa ingin memastikan bahwa ulang tahun bukan sekadar peristiwa tanggal, melainkan ruang kebersamaan lintas geografis.
Rangkaian HUT Bosowa ke-53 dimulai lebih awal, melalui Kompetisi Olimpiade Bosowa yang digelar pada 2–14 Februari 2026. Beragam lomba dihadirkan: padel, futsal, bulu tangkis, esports, hingga lomba video konten. Seluruhnya melibatkan karyawan dan unit bisnis Bosowa. Kegiatan serupa juga digelar di Jakarta pada 14–15 Februari 2026. Tujuannya bukan semata kompetisi, tetapi mempererat sinergi antarunit bisnis yang beroperasi di ibu kota.
Namun perayaan ini tidak berhenti pada lomba dan selebrasi. Bosowa menekankan aksi kemanusiaan sebagai implementasi nyata tema bersyukur. Salah satu kegiatan utama adalah donor darah yang digelar di Jakarta (5 Februari 2026) dan Makassar (10 Februari 2026). Dalam menyambut Ramadhan, Bosowa juga menggelar program bersih-bersih masjid di 10 masjid di berbagai kecamatan di Makassar, serta Pasar Murah Ramadan pada 13 dan 20 Februari 2026. Bersyukur, dalam konteks ini, diterjemahkan sebagai tindakan konkret, menyentuh kebutuhan nyata masyarakat.
Bertumbuh Bersama Masyarakat
CEO Bosowa Corporindo, Subhan Aksa, menegaskan bahwa Bosowa berkomitmen untuk terus bertumbuh bersama masyarakat melalui kolaborasi dan kepedulian sosial. Menurut Subhan, perayaan HUT ke-53 bukan hanya refleksi atas perjalanan sejak 1973, tetapi momentum memperkuat kontribusi sosial di tengah tantangan ekonomi dan kemanusiaan.
“Usia 53 tahun bukan perjalanan yang singkat. Meski Bosowa kini berada pada fase generasi kedua sebagai perusahaan keluarga, transformasi harus terus dilakukan,” kata Subhan. Ia menegaskan, Bosowa tidak hanya berorientasi pada keuntungan dan penciptaan lapangan kerja.
“Kami ingin terus bertumbuh dan berkembang bersama masyarakat di wilayah tempat kami beroperasi,” ujar Subhan. Dalam kesempatan itu, Subhan juga menyinggung kepedulian Bosowa terhadap korban bencana alam di Sumatera beberapa bulan terakhir yang berdampak pada sektor industri. Peristiwa tersebut, menurutnya, menjadi pengingat pentingnya kolaborasi antara dunia usaha dan seluruh pemangku kepentingan dalam membangun ketahanan bersama.
Jika 1973 adalah tahun ketika Bosowa lahir dari kegelisahan moneter, maka 2026 adalah tahun ketika Bosowa menegaskan kematangannya melalui rasa syukur. Dari CV Moneter yang mengurus mesin tik dan semen, hingga Bosowa yang kini mengelola berbagai sektor strategis, satu benang tetap terjaga: keberanian membaca zaman. Bosowa tidak menafikan sejarah krisisnya. Justru di situlah ia menemukan identitas. Bersyukur, dalam konteks Bosowa, bukan sekadar mengingat keberhasilan, melainkan menyadari bahwa keberlangsungan perusahaan adalah hasil dari kepercayaan, kerja bersama, dan keberkahan relasi dengan masyarakat. Dari Timur Indonesia, Bosowa terus menegaskan ikhtiarnya: bukan hanya tumbuh besar, tetapi tumbuh bermakna.
Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”











