Penghormatan untuk Mendiang Zoel, Pencipta Lagu “Satu Jiwa” Persis Solo
Suporter Persis Solo, termasuk Pasoepati, akan memberikan penghormatan khusus kepada mendiang Zoel, yang merupakan pentolan grup band The Working Class Symphony (TWCS) dan pencipta lagu “Satu Jiwa”. Lagu tersebut kini menjadi anthem resmi klub dan selalu dinyanyikan oleh para suporter setelah pertandingan di Stadion Manahan.
Penghormatan ini akan dilakukan saat Persis Solo menjamu PSBS Biak di Stadion Manahan pada Sabtu (21/2/2026). Pasoepati rencananya akan memasang banner tribute bertuliskan “Karyamu Akan Tetap Abadi Bersama Kami, Rest In Peace Bang Zoel TWCS”. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Jendral DPP Pasoepati, Isnaini, yang menyatakan bahwa pihaknya ingin memberikan apresiasi terbaik bagi sosok yang sangat berjasa bagi klub.
Selain itu, manajemen Persis Solo juga akan menggelar doa bersama sebelum pertandingan dimulai. Direktur Persis Solo, Ginda Ferachtriawan, menyebutkan bahwa upacara khusus ini akan menjadi bentuk penghormatan terhadap Zoel, yang dianggap sebagai tokoh inspiratif yang memberikan warna bagi klub.
Curhat Zoel ke Sang Istri
Mei Wulandari, istri dari Hendra Gunawan atau Zoel, mengungkapkan rasa bangga atas apresiasi yang diberikan oleh Persis Solo dan para suporter terhadap karya sang suami. Lagu “Satu Jiwa” kini menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi laga Persis Solo, dan sering dinyanyikan setiap kali Laskar Sambernyawa bermain di Stadion Manahan.
Mei merasa terharu karena karya Zoel begitu berarti bagi klub dan para penggemarnya. Namun, ia juga menceritakan bahwa Zoel pernah curhat tentang kekecewaannya ketika beberapa laga terakhir Persis Solo mengalami kesulitan di dasar klasemen.
“Meskipun terkadang dia merasa kecewa juga pas pertandingan (Persis Solo) kalah. Anthem-nya itu meskipun ada orang yang ingin menyanyikan tapi dilarang-larang,” ujar Mei sambil menahan air mata.
Menurut Mei, Zoel sempat merasa sedih karena lagu ciptaannya tidak lagi dinyanyikan setelah kalah dalam pertandingan. Namun, sebelum meninggal dunia, Zoel tersenyum melihat lagu ciptaannya masih tetap dinyanyikan oleh para suporter meski tim tidak meraih kemenangan.
Riwayat Kesehatan Zoel
Istri mendiang Zoel, Mei Wulandari, mengungkapkan bahwa sang suami jarang mengeluh sakit dan dikenal sebagai sosok yang pendiam. Meskipun demikian, Zoel pernah terdeteksi memiliki riwayat hipertensi saat dirawat di rumah sakit.
“Dia sehari-hari pendiam, nggak banyak ngomong terus nggak banyak permintaan apa-apa. Mungkin salah satunya dia ngerasain sakit itu aku juga tidak diberitahu kalau dia ngerasain sakit,” tutur Mei sambil menahan kesedihan.

Kesibukan Akhir-Akhir Ini
Zoel juga aktif dalam bisnis barbershop miliknya. Ia bekerja sama dengan rekannya di Malang dan sering bolak-balik luar kota. Menurut Mei, aktivitas ini mungkin membuat Zoel kelelahan.
“Dia ada kerja sama temannya di Malang, buka barber juga. Wira-wiri, mungkin salah satu (penyebab) dia sering luar kota bolak-balik mungkin capek nggak dirasain,” jelas Mei.
Kondisi Drop Mendadak dan Meninggal Dunia
Meski tampak sehat pada Senin, Zoel tiba-tiba mengeluh pusing dan muntah malam harinya. Mei langsung membawanya ke RS PKU Sukoharjo. Sesampainya di rumah sakit, kondisi Zoel menurun drastis hingga tak sadarkan diri, dan akhirnya meninggal pada Selasa subuh.
Mendiang Zoel dimakamkan di TPU Astanalaya Sidomulyo, Gawanan, Kabupaten Sukoharjo pukul 13.00 WIB. Mei mengenang bahwa Zoel sangat mencintai keluarga dan selalu mengutamakan anak-anaknya, bahkan di tengah kesibukan. “Kemarin itu kayak nggak sakit nggak apa. Kemarin masih pergi sama anak-anak, padusan itu terus kemarin terakhir nonton konser MLTR itu juga nggak apa-apa, sehat,” jelasnya.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











