"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Budaya  

Cara Mandi Junub Menurut Rasulullah SAW yang Disampaikan Ustadz Abdul Somad

Pengertian Mandi Wajib dalam Islam

Mandi besar atau mandi wajib, yang juga dikenal dengan istilah mandi junub, merupakan salah satu bentuk ibadah yang wajib dilakukan oleh umat Islam setelah mengalami hadats besar. Hadats besar bisa terjadi karena berbagai hal seperti bersetubuh, keluarnya air mani, haid atau nifas. Dalam syariat Islam, mandi wajib ini bertujuan untuk membersihkan diri dari keadaan tidak suci agar dapat kembali beribadah dengan benar.

Secara etimologi, kata al-ghusl berasal dari kata ghasala yang berarti menuangkan air. Dalam konteks agama, mandi wajib adalah proses pembersihan seluruh tubuh dengan cara tertentu, yang diwajibkan bagi seseorang yang dalam kondisi junub.

Seluruh imam mazhab sepakat bahwa mandi wajib adalah wajib setelah laki-laki dan perempuan bersetubuh hingga kedua kelamin saling bersentuhan. Kewajiban ini tetap berlaku meskipun tidak ada air mani yang keluar. Oleh karena itu, penting untuk memahami rukun-rukun dalam melakukan mandi wajib agar tidak terjadi kesalahan dalam pelaksanaannya.

Rukun-rukun Mandi Wajib

Dalam kitab Safînatun Najâ, Syekh Salim bin Sumair Al-Hadlrami menyebutkan bahwa ada dua rukun utama dalam mandi wajib, yaitu:

  1. Niat

    Niat harus dibuat pada saat pertama kali menyiramkan air ke anggota badan. Niat ini sangat penting karena menjadi pemisah antara mandi biasa dengan mandi wajib. Jika niat tidak disertakan pada awal penyiraman, maka bagian tubuh yang disiram tersebut tidak dianggap masuk dalam proses mandi wajib.

Contohnya, jika seseorang menyiram wajah tanpa niat, lalu menyiram dada dengan niat, maka wajah harus disiram kembali agar dianggap sah. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya niat dalam mandi wajib.

  1. Meratakan Air ke Seluruh Tubuh

    Setelah niat, langkah selanjutnya adalah meratakan air ke seluruh tubuh. Bila ada bagian tubuh yang belum tersiram air, maka mandi wajib tersebut dianggap tidak sah dan orang tersebut masih dalam keadaan berhadats. Bagian-bagian yang sering terlewat seperti lipatan kulit, bawah kuku, belakang telinga, dan sela-sela jari kaki harus diperhatikan secara khusus.

Niat dalam Mandi Wajib

Niat dalam mandi wajib berbeda tergantung kondisi seseorang:

  • Untuk Orang yang Junub (karena keluar sperma atau bersetubuh)

    Niatnya:

    نَوَيْتُ الغُسْلَ لِرَفْعِ الجِنَابَةِ

    Artinya: “Saya berniat mandi untuk menghilangkan jenabat.”

  • Untuk Perempuan yang Haid atau Nifas

    Niatnya:

    نَوَيْتُ اْلغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَيْضِ أو لِرَفْعِ النِّفَاسِ

    Artinya: “Saya berniat mandi untuk menghilangkan haid” atau “untuk menghilangkan nifas.”

  • Niat Umum untuk Orang yang Junub, Haid, atau Nifas

    نَوَيْتُ اْلغُسْلَ لِرَفْعِ اْلحَدَثِ الْأَكْبَرِ

    Artinya: “Saya berniat mandi untuk menghilangkan hadats besar.”

Tata Cara Mandi Wajib

Menurut tuntunan Nabi Muhammad SAW, berikut langkah-langkah dalam melaksanakan mandi wajib:

  1. Niat

    Mulailah dengan niat mandi wajib untuk menghilangkan hadats besar. Meski niat tidak perlu dilafalkan, ia harus hadir dalam hati.

  2. Membersihkan Tangan

    Basuh tangan kiri dan kanan sebanyak tiga kali.

  3. Mencuci Kemaluan

    Bersihkan kemaluan dari kotoran dan air mani.

  4. Berwudhu

    Lakukan wudhu seperti ketika hendak shalat.

  5. Membasuh Rambut dan Kepala

    Gosokkan air ke kulit kepala dan siram tiga kali.

  6. Menyiram Seluruh Tubuh

    Pastikan semua bagian tubuh tersiram air, termasuk bagian yang tersembunyi seperti ketiak dan sela jari kaki.

Tata Cara Mandi Wajib Menurut UAS

Menurut Ustadz Abdul Somad (UAS), tata cara mandi junub hampir sama dengan tuntunan Nabi, hanya saja UAS menyarankan untuk mulai menyiram dari bagian bawah tubuh. Hal ini disarankan agar lebih efektif dalam pembersihan dan sesuai dengan prinsip kesehatan.


Harini Umar

Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *