"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Daerah  

Pemkot Tarakan Bantu Bersihkan Drainase Pasar Gusher, Infrastruktur Tanggung Jawab Pengelola

Wali Kota Tarakan Kritik Pengelola Pasar Gusher

Wali Kota Tarakan, Khairul, menyampaikan kritik terhadap PT Gusher yang mengambil retribusi hingga tahun 2031 namun tidak melakukan perbaikan infrastruktur pasar. Hal ini menjadi dilema bagi Pemkot Tarakan karena pengelolaan pasar berada di bawah kewenangan PT Gusher.

Infrastruktur Tidak Diperbaiki

Menurut Wali Kota, perbaikan infrastruktur seharusnya menjadi tanggung jawab pengelola agar pedagang dan pembeli merasa nyaman. Ia menegaskan bahwa jika infrastruktur baik, orang akan lebih nyaman berbelanja dan pedagang pun akan lebih mudah menjual barang.

Namun, Pemkot Tarakan tetap membuka opsi untuk membantu penanganan masalah tertentu, seperti kebersihan dan drainase. “Kalau masalah drainase, mungkin pemda bisa membantu pembersihan, karena biasanya banjir itu akibat sumbatan,” ujar Khairul.

Pedagang Harus Perbaiki Sendiri

Sementara itu, kerusakan bangunan seperti atap bocor harus segera diperbaiki oleh pengelola sesuai tupoksi mereka. Khairul menegaskan bahwa pihaknya akan mengingatkan pengelola untuk segera melakukan perbaikan.

Sebagai langkah cepat, Wali Kota juga menyiapkan opsi Safari Gotong Royong yang akan diarahkan ke Pasar Gusher, terutama untuk membersihkan saluran air. “Kalau bisa Safari Gotong Royong kita arahkan ke sini. Mungkin dipercepat sebelum puasa, karena kalau puasa kan kerja bakti juga berat,” tambahnya.

Keluhan Pedagang Pasar Gusher

Beberapa pedagang mengeluhkan kondisi lorong pasar yang sering banjir setiap turun hujan. Salah satu pedagang, Hj Suri, mengungkapkan bahwa beberapa bulan terakhir, kondisi di beberapa lorong Pasar Gusher selalu banjir ketika hujan deras. Akibatnya, ia dan pedagang lainnya harus memperbaiki atap seng yang bocor dengan biaya pribadi.

“Kemarin itu hujan deras banjir lagi, bocor sengnya. Lalu saya ganti di bagian atas. Kami kebanyakan sudah ganti seng sendiri. Biayanya ini banyak loh. Kalau saya punya ini Rp 6 juta,” ujar Hj Suri.

Ia juga mengatakan bahwa atap seng bocor ini sudah bertahun-tahun dialami pedagang. Oleh karena itu, beberapa pedagang berinisiatif sendiri memperbaiki atap dengan mengeluarkan uang pribadi dari Rp 2 juta hingga Rp 3 juta.

Dampak Banjir pada Pembeli

Dengan kondisi banjir seperti ini, tentunya sangat berpengaruh kepada pembeli, karena tidak mau masuk ke dalam lorong lapak pedagang. “Sangat pengaruh. Jadi tidak ada pembeli tidak ada masuk. Karena banjir kan,” ungkapnya.

Hj Suri berharap pengelola bisa membantu melakukan perbaikan dan membenahi fasilitas Pasar Gusher. “Kami harap itu saja supaya pengelola bantu. Sudah juga kami lapor,” akunya.

Masalah Drainase dan Atap Bocor

Ani, salah satu pedagang, juga mengungkapkan bahwa banjir di Pasar Gusher bukan kejadian baru. Ia menyebut kondisi tersebut sudah berlangsung lama dan terjadi hampir setiap kali hujan lebat mengguyur Kota Tarakan.

“Kalau hujan deras, pasti naik airnya ke sini, kebanjir. Soalnya paritnya sumpat, airnya nggak keluar, jadi tertampung di tengah,” ujar Ani saat ditemui di Pasar Gusher.

Menurutnya, saluran drainase di sekitar pasar tergolong kecil dan tidak terawat. Akibatnya, air hujan sulit mengalir keluar dan justru menggenang di bagian tengah pasar yang posisinya lebih rendah.

Keluhan Atap Bocor

Selain persoalan banjir, Ani juga mengeluhkan kondisi atap pasar yang banyak bocor. Ia mengaku sudah berulang kali menyampaikan keluhan tersebut, namun hingga kini belum ada perbaikan berarti.

“Atapnya bocor semua. Dari dulu sudah sering bilang, sudah dilapor, katanya nanti diperbaiki. Tapi sampai sekarang ya begitu,” lanjut Ani.

Biaya Sewa Lapak Mahal

Padahal, para pedagang tetap diwajibkan membayar karcis harian sebesar Rp2.000 yang disebut untuk kebersihan dan sampah. Selain itu, ada pula pedagang yang menyewa lapak dari pemilik meja dengan biaya yang tidak sedikit.

“Kalau kami sewa lapak dari yang punya meja, Rp70 juta per tahun,” jelas Ani.

Namun dengan kondisi pasar yang sering banjir dan bangunan yang bocor, ia mengaku kesulitan menutup biaya operasional. Apalagi jumlah pembeli yang masuk ke pasar terus menurun sejak 2025.

“Sekarang susah nutup biaya. Orang belanja juga sudah kurang. Tapi bukan karena banjir saja, mungkin ekonomi juga belum turun,” katanya.

Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *