Potensi Besar Tenis Meja Garut yang Tersandung Keterbatasan Anggaran
Kabupaten Garut dikenal memiliki potensi besar di bidang olahraga tenis meja. Banyak atlet asal daerah ini telah menorehkan prestasi di berbagai tingkatan, baik nasional maupun internasional. Namun, sayangnya, pembinaan atlet tenis meja di Garut masih menghadapi tantangan serius, terutama dalam hal keterbatasan anggaran operasional.
Organisasi resmi tenis meja di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Garut, yaitu PTMSI (Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia), selama ini konsisten melakukan pembinaan atlet. Meski begitu, dukungan biaya dari Pemerintah Kabupaten Garut dinilai tidak cukup untuk menjaga keberlanjutan pembinaan tersebut.
Ketua PTMSI Kabupaten Garut, Hasan Basri SAg, mengungkapkan bahwa anggaran yang diterima dari KONI hanya sebesar Rp500 ribu per bulan, dan pencairannya dilakukan setiap tiga bulan sekali. Meskipun ia bersyukur atas adanya alokasi anggaran tersebut, namun menurutnya, nominal itu jauh dari ideal untuk membiayai operasional organisasi sebesar PTMSI.
“Biaya operasional dari KONI hanya lima ratus ribu per bulan, dan dikasihkan tiga bulan sekali,” ujar Hasan Basri. “Itu sangat minim, terutama jika melihat tanggung jawab PTMSI yang membawahi sekitar 90 Persatuan Tenis Meja (PTM) di berbagai wilayah.”
Keterbatasan anggaran membuat PTMSI kesulitan dalam memenuhi kebutuhan operasional. Bahkan, dalam beberapa kejuaraan, iuran dari PTM terpaksa dilakukan untuk menutupi biaya pembinaan.
“Kita juga kemarin untuk kejuaraan kelompok usia, kita mewajibkan PTM-PTM untuk iuran lima puluh ribu per bulan agar pembinaan untuk atlet ketika ada kejuaraan bisa terpenuhi,” katanya.
Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang mendorong banyak atlet potensial asal Garut memilih pindah atau mutasi ke daerah lain. Di kabupaten atau kota lain, dukungan dana pembinaan tenis meja dinilai lebih baik.
“Alhamdulillah, atlet-atlet Garut tersebar di beberapa kabupaten karena jumlah atlet Garut banyak, sedangkan kuota porprov hanya empat laki-laki dan empat perempuan. Sehingga mereka mencari jalan dan bahkan dibutuhkan oleh kabupaten-kabupaten lain,” ujarnya.
Salah satu contohnya adalah atlet Garut yang saat ini bermain di Bahrain, yang dikontrak oleh perusahaan Sukun di Kudus. Atlet tersebut telah berkompetisi di level internasional.
Aspirasi dari DPRD Jawa Barat
Sementara itu, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi PKS, Ahab Sihabudi, dalam pengawasan penyelenggaraan pemerintahan tahun anggaran 2026 di GOR PTMSI, Kelurahan Margawati, Kecamatan Garut Kota, pada 7 Februari 2026, menyampaikan aspirasi dari jajaran PTMSI.
Ahab menyebutkan bahwa beberapa aspirasi yang disampaikan antara lain berkaitan dengan bantuan operasional, permohonan bantuan lapangan, meja tenis meja, serta fasilitas pendukung lainnya.
Namun, menurut Ahab, sebagian aspirasi tersebut masih bersifat jangka pendek dan belum menyentuh aspek sistemik pembinaan olahraga.
“Tadi, PTMSI mengajukan BOP, tetapi sifatnya insidental dan hasilnya sulit diukur,” ujarnya. “Saya ingin bantuan-bantuan itu lebih sistemik, sehingga hasilnya terlihat jelas.”
Ahab berharap PTMSI Kabupaten Garut ke depan mampu membangun sistem pembinaan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Dengan sistem seperti ini, peran pemerintah dapat terlihat jelas dan hasilnya dapat diukur.
“Saya ingin PTMSI atau cabang olahraga lainnya bisa membuat sistem yang baik, sehingga peran pemerintah dan negara terlihat jelas di situ,” harapnya.
Meski demikian, Ahab memastikan bahwa semua aspirasi yang disampaikan akan ditampung dan diupayakan untuk ditindaklanjuti.
“Walaupun konsep belum mapan, kita akan membantu ke depan,” katanya.
Lebih jauh, Ahab juga menyampaikan rasa bangganya terhadap perkembangan cabang olahraga tenis meja di Kabupaten Garut, yang dinilai memiliki banyak atlet berpotensi.










