"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Daerah  

Warga Pasar Lalang Khawatir, Tanggul Belum Dibangun, Banjir Mengancam

Warga Pasar Lalang Khawatir Banjir Kembali Terjadi

Sembilan hari setelah banjir yang melanda kawasan Pasar Lalang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, warga masih mengeluhkan belum adanya pembangunan tanggul penahan air. Meskipun banjir sudah terjadi sebanyak empat kali di daerah tersebut, tanggul permanen belum juga dibangun. Hal ini memicu kecemasan di kalangan warga, terutama menjelang Ramadan 2026.

Dampak dari banjir terakhir terasa sangat parah. Sedikitnya tiga rumah rusak berat akibat material kayu dan batu besar yang dibawa oleh air. Permukiman dan lahan pertanian masyarakat juga terkena dampaknya. Sebagian warga masih bertahan di rumah mereka karena tidak memiliki tempat lain untuk ditempati.

Menjelang bulan puasa, warga di Pasar Lalang diliputi rasa cemas. Mereka khawatir banjir akan kembali terjadi jika tanggul permanen belum juga dibangun. Banjir sebelumnya terjadi akibat debit air yang meningkat setelah hujan ringan hingga sedang. Akibatnya, tanggul dari material sungai yang ditumpuk jebol, menyebabkan air mengalir masuk ke permukiman.

Setelah banjir besar itu, sebagian warga mengungsi sementara, tetapi beberapa tetap tinggal di rumah karena tidak ada alternatif lain. Salah satu warga, Icu Trisnawati (27), masih menetap di kontrakannya di Pasar Lalang. Ia mengaku tidak punya tempat lain untuk ditempati pascabanjir.

Icu pernah mengungsi ke tempat penginapan, tetapi harus membayar biaya dan akhirnya kembali ke kontrakannya. “Sempat mengungsi setelah banjir tanggal 31 Januari 2026 sehari, harus membayar, lalu kembali ke rumah lagi,” katanya sambil membersihkan tanah yang menumpuk di depan kontrakannya.

Tanah dan material kayu serta batu besar yang terbawa oleh banjir masih terhampar di permukiman. Icu mengaku warga belum membersihkan material sisa banjir tersebut. Biasanya, warga melakukan gotong royong bersama untuk membersihkannya. Namun, Icu mengatakan bahwa ia secara perlahan mulai menata kembali kontrakannya dengan menggunakan sekop.

“Baru ini saya bersihkan, sebelumnya belum berniat, karena kalau cepat dibersihkan, takut banjir datang lagi, lalu menumpuk lagi,” ujarnya sambil mengelap keringat.

Dibayangi Ketakutan

Icu selalu dibayangi ketakutan saat memutuskan kembali menetap di kontrakannya. Tanggul penahan debit air belum kunjung dibangun usai banjir terakhir kali di Pasar Lalang. Warga tentu cemas, sewaktu-waktu debit air membesar dan kembali menghantam permukiman serta lahan pertanian masyarakat.

Di tengah ketakutan itu, Icu berharap tidak terjadi lagi banjir besar di Pasar Lalang menjelang tanggul permanen dari batu bronjong dibangun. “Sangat cemas sebenarnya tinggal di sini, tapi mau bagaimana lagi, semoga saja tidak terjadi banjir besar,” pintanya.

Tidak hanya Icu, warga lainnya seperti Doli Saputri juga dibayangi rasa cemas dan khawatir. Doli memilih mengungsi sementara ke rumah keluarganya yang berada tak jauh dari lokasi banjir di Pasar Lalang. Pilihan itu ia ambil usai rumahnya juga terdampak di bagian dapur dan depan rumahnya usai dihantam material banjir.

“Rumah saya rusak, kini tidak berani tinggal di sini sementara waktu, takut banjir kembali terjadi, sebab tanggul permanen belum dibangun,” terangnya.

Keputusan Menetap di Tengah Ketakutan

Beberapa hari lagi memasuki bulan Ramadan tahun 2026, warga di Pasar Lalang akan berpuasa di tengah kecemasan dan kekhawatiran. Bagaimana tidak, tanggul permanen di pinggir aliran sungai belum juga dibangun. Mereka khawatir kejadian serupa kembali terulang.

Warga baru mulai menata kembali kehidupan usai banjir akhir Januari 2026. Sewaktu-waktu kejadian terulang, mereka tentu khawatir. Bahkan hujan sempat mengguyur daerah itu pada Senin (9/2/2026). Icu si penghuni kontrakan sempat ingin mengungsi. Akan tetapi saat melihat debit air tidak membesar, ia mengurungkan niatnya. Sedangkan untuk ke depannya, Icu memilih menetap di kontrakannya.

Ke depannya, ia mengaku akan berpuasa di kontrakan tersebut bersama keluarga kecilnya. Meski rasa takut selalu menghantui. “Bulan puasa nanti, tetap di sini, walau cemas kalau banjir datang lagi, tapi tidak ada pilihan,” katanya dengan penuh harap.

Pintanya dan warga Pasar Lalang sederhana, tanggul penahan debit air segera dibangun. Tak hanya itu, warga juga meminta pengerukan dasar sungai dilakukan secepat mungkin agar tidak menimbulkan kejadian yang tak diinginkan. Terlebih, sebagian warga masih menetap di sana. Untuk itu ia mendesak pemerintah segera merealisasikan harapan masyarakat.

“Sempat ada rencana alat berat dan pengerjaan batu bronjong Sabtu (7/2/2026) kemarin, tapi sampai sekarang belum ada juga. Harapan kami tentu dibangun tanggul dan pengerukan sungai secepatnya, agar bisa aman tinggal di sini,” tambahnya.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *