Peluang Percepatan Transisi Energi Melalui Bioenergi
Jakarta — Peluang percepatan transisi energi terbuka lebar dengan pemanfaatan bioenergi. Selain bagian dari strategi mitigasi perubahan iklim, pemanfaatan bioenergi juga sebagai diversifikasi sumber energi nasional. Setelah sukses mendorong penggunaan biodiesel hingga 40% (B40), tahun lalu, Kementerian ESDM menggaungkan penggunaan bioetanol (E5) sebagai strategi mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM). Pemerintah pun mendorong Papua menjadi salah satu wilayah untuk basis produksi bahan baku etanol. Hal ini menjadi upaya pengembangan bahan bakar bioetanol guna mewujudkan swasembada energi.
Untuk mengakselerasi pengembangan bioetanol, pemerintah melalui Kementerian Keuangan memberi angin segar kepada pelaku usaha yang mengeluhkan rumitnya perizinan dan beban cukai yang menghambat ekspansi produk bioetanol Pertamax Green atau bensin dengan campuran bioetanol 5% (E5).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memerintahkan jajarannya untuk merevisi Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 82/2024 dan Peraturan Dirjen Bea Cukai No. 13/2024 dalam waktu satu minggu. “Keputusan rapat hari ini kita akan sesuaikan peraturan hasil diskusi. Ada penyesuaian NSPK, perubahan PMK 82/2024, dan perubahan Perdirjen Bea Cukai 13/2024. Semuanya akan selesai paling lama seminggu dari sekarang,” ujarnya, Jumat (6/2/2026).
Langkah ini dipandang sebagai bentuk adaptasi regulasi untuk menjawab target pencampuran bioetanol lebih luas serta memperkuat ketahanan energi nasional. Bagi pelaku usaha, kelonggaran fiskal ini memberi dampak signifikan. Mengingat, menurut Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza, saat ini pembebasan cukai etanol baru berhasil didapatkan untuk Integrated Terminal Surabaya setelah melalui proses panjang, termasuk pengurusan Amdal yang memakan waktu 2—3 tahun. Padahal, perseroan memiliki 120 terminal BBM yang potensial untuk melakukan pencampuran. “Kita sudah mengajukan pembebasan untuk satu titik di Surabaya. Mengingat dengan cukai Rp20.000 per liter, keekonomiannya menjadi sangat berat,” ujar Oki.
Di tengah akselerasi perizinan dan bea cukai, pelaku usaha merespons arahan pemerintah untuk mendorong pengembangan bioetanol. Pekan lalu, PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) bekerja sama dengan PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III) melalui subholding PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) bekerja sama membangun pabrik bioetanol di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Pembangunan ini ditandai dengan peletakan batu pertama pada Jumat (6/2/2026).
Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara, Mahmudi, mengatakan kerja sama tersebut merupakan bentuk dukungan SGN terhadap swasembada energi sekaligus mendukung rangkaian proyek hilirisasi fase pertama yang dijalankan Danantara secara serentak di berbagai daerah. “SGN siap mendukung pasokan bahan baku bioetanol berupa molases. Untuk kapasitas produksi sekitar 100 kiloliter per hari, kebutuhan molases diperkirakan mencapai 120.000 ton per tahun,” ujarnya dikutip Sabtu (7/2/2026).
Mahmudi menyebut produksi molases SGN saat ini mendekati 700.000 ton per tahun yang berasal dari lima pabrik gula SGN di wilayah Banyuwangi dan sekitarnya. Dengan ketersediaan tersebut, pasokan bahan baku dinilai mencukupi untuk mendukung operasional pabrik bioetanol secara berkelanjutan.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, mengatakan Banyuwangi dipilih sebagai lokasi awal pengembangan bioetanol karena memiliki dukungan sumber daya yang memadai. Pabrik ini dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 10 hektare. “Kami melihat bioetanol sebagai bagian penting dari transisi energi. Proyek ini merupakan kolaborasi antara Pertamina, PTPN, dan SGN untuk memperkuat ekosistem energi bersih nasional,” ujarnya.
Tidak hanya bioetanol, geliat mendorong pengembangan bioenergi juga dilakukan anak usaha Pertamina sektor swasta lainnya. Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) mendorong pengembangan ekosistem bioenergi nasional yang berkelanjutan. Bersama PT Medco Energi Internasional Tbk melalui afiliasinya PT Medco Intidinamika (MI), Pertamina NRE menjajaki pengembangan biodiesel berbasis High Acid Crude Palm Oil (HACPO) dan bioetanol.
“Kolaborasi ini menjadi langkah penting bagi Pertamina NRE dalam memperluas portofolio energi terbarukan, khususnya biofuel. Pengembangan biodiesel berbasis HACPO dan bioetanol tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga mengoptimalkan potensi sumber daya biofuel yang ada di Indonesia,” ujar Direktur Utama Pertamina NRE John Anis dalam keterangan tertulis, Senin (9/2/2026).
Untuk memperkaya penjajakan kerja sama ini, Pertamina NRE dan Medco juga menggali potensi teknologi bioenergi yang tersedia secara global. Salah satunya melalui Envien Group, perusahaan bioenergi global yang memiliki rekam jejak kuat dalam pengembangan biodiesel dan bioetanol di berbagai negara.
Direktur Utama Medco Energi Hilmi Panigoro berharap kerja sama ini dapat membangun sinergi yang konstruktif dalam menjajaki peluang pengembangan bioenergi. “Sinergi dengan Pertamina NRE kami pandang sebagai langkah positif dan komitmen untuk membangun kemitraan jangka panjang yang mendukung ketahanan energi dan keberlanjutan,” ujar Hilmi.
Ke depan, kerja sama pengembangan bioenergi diharapkan terus bermunculan. Mengingat bioenergi memiliki nilai strategis, terutama dalam meningkatkan bauran energi terbarukan untuk mendukung transisi. Peneliti Indef Imaduddin Abdullah menjelaskan bioenergi juga relatif lebih andal dibandingkan sejumlah jenis energi lainnya. Selain itu, bioenergi juga dinilai mampu menggerakkan ekonomi lokal.
Meski demikian, Imaduddin mengakui masih terdapat sejumlah tantangan seperti dalam arsitektur pasar bioenergi. Tantangan tersebut meliputi fragmentasi rantai pasok, volatilitas harga, pangsa ekspor dan arsitektur pasar yang masih terbatas. “Karena memang walaupun potensi kita besar, tetapi kalau pasar ini belum terbentuk secara baik, baik dari sisi supply dan demand, ini pada akhirnya pasar tidak terbentuk dan tidak tercapai. Jadi, walaupun permintaannya ada, tetapi jika pasar pasokannya tidak ada juga berubah. Jadi memang ini harus bergerak beriringan,” jelasnya.











