Moody’s Menurunkan Outlook Peringkat Kredit Indonesia
Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Ratings menyoroti ketidakpastian kebijakan pemerintah. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan mereka menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil ke negatif, meskipun tetap mempertahankannya di level Baa2. Pemerintah diharapkan segera mengakhiri ketidakpastian kebijakan supaya target-target untuk mendorong perekonomian tumbuh 5,4%, 6%, bahkan 8% bisa terealisasi.
Moody’s dalam publikasi terbarunya tersebut menekankan bahwa ketidakpastian dalam perumusan kebijakan bisa merusak reputasi pemerang. “Jika berlanjut, tren ini dapat menggerus kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama terbangun, yang selama ini menopang pertumbuhan ekonomi yang solid serta stabilitas makroekonomi, fiskal, dan keuangan,” dikutip dari pengumuman Moody’s pada Kamis (5/2/2026).
Moody’s memahami bahwa pemerintah Indonesia tetap berusaha menjaga kepatuhan terhadap kerangka kebijakan moneter dan fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi untuk mencapai status negara berpendapatan tinggi. Sayangnya, ketidakpastian kebijakan dalam setahun terakhir, disertai komunikasi kebijakan yang kurang efektif, telah meningkatkan risiko terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia di mata investor.
Hal ini tercermin dari meningkatnya volatilitas di pasar saham dan valuta asing. Perkembangan tersebut terjadi bersamaan dengan penurunan skor Indonesia dalam Worldwide Governance Indicators untuk efektivitas pemerintah dan kualitas regulasi.
“Jika berlanjut, melemahnya kohesi dan kredibilitas kebijakan dapat mengindikasikan kekuatan institusional yang lebih rendah dari penilaian saat ini, serta melemahkan kekuatan ekonomi dan fiskal melalui berkurangnya daya tarik investasi dan meningkatnya biaya pinjaman,” tertulis dalam pengumuman Moody’s.
Lembaga itu menegaskan bahwa peringkat kredit Indonesia tidak berubah, yakni peringkat senior unsecured jangka panjang mata uang lokal dan asing, juga peringkat program medium-term note (MTN) senior unsecured mata uang asing, serta program shelf senior unsecured tetap di level Baa2.
Penegasan peringkat itu mencerminkan ketahanan ekonomi Indonesia yang didukung oleh kekuatan struktural, seperti kekayaan sumber daya alam (SDA) dan demografi yang menguntungkan. Hal itu dinilai dapat menopang pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah.
“Terlepas dari munculnya sejumlah risiko, penegasan ini juga ditopang oleh kebijakan fiskal dan moneter yang pruden, yang telah menghasilkan stabilitas makroekonomi. Terjaganya kredibilitas kebijakan, dan dengan demikian stabilitas makroekonomi, tetap menjadi asumsi dasar utama yang menopang peringkat Baa2,” tertulis dalam pengumuman Moody’s.
Penegasan peringkat Baa2 Indonesia juga mencerminkan ekspektasi Moody’s terhadap ketahanan kekuatan ekonomi yang berkelanjutan, disertai pelemahan yang relatif terbatas pada metrik fiskal. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap berada di kisaran 5% dalam jangka pendek hingga menengah, dengan defisit fiskal di bawah 3%.
Bukan Fundamental Ekonomi
Sementara itu, Bank Indonesia menyatakan bahwa penurunan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s Ratings diyakini tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi negara. “Penyesuaian outlook diyakin tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian Indonesia,” terang Gubernur BI Perry Warjiyo melalui keterangan tertulis, Kamis (5/2/2026).
Perry menjelaskan bahwa kinerja ekonomi domestik tetap solid di tengah tingginya gejolak dan ketidakpastian global. Hal itu, terangnya, terlihat pada pertumbuhan ekonomi kuartal IV/2025 sebesar 5,39%, sehingga secara keseluruhan tahun lalu tumbuh 5,1%. Di sisi lain, inflasi tetap terjaga pada 2,92% atau berada dalam kisaran sasaran. Sementara itu, lanjutnya, stabilitas nilai tukar Rupiah terus diperkuat melalui komitmen kuat bank sentral.
Pada segi stabilitas sistem keuangan, Perry menyebut kondisinya tetap terjaga baik dengan ditopang likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang terjaga pada level tinggi, serta risiko kredit yang rendah. Tidak hanya itu, digitalisasi sistem pembayaran yang tetap terjaga ditopang oleh infrastruktur yang stabil dan struktur industri yang sehat turut mendukung pertumbuhan ekonomi.

Gubernur BI dua periode itu lalu menyoroti proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Moody’s yang tetap berada pada kisaran 5% dalam jangka pendek hingga menengah, dengan ketahanan ekonomi yang terjaga. Adapun Kementerian Keuangan tetap optimistis mampu mengejar target pertumbuhan ekonomi di tengah sorotan tajam Moody’s terhadap tata kelola kebijakan pemerintah Indonesia.
“Pemerintah mengapresiasi asesmen Moody’s yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada posisi Baa2, dengan penyesuaian outlook dari stabil menjadi negatif. Pemerintah terus melakukan transformasi ekonomi dan menghidupkan seluruh mesin pertumbuhan ekonomi,” terang pernyataan resmi Kemenkeu kemarin.
Selain itu, pemerintah terus memastikan bahwa setiap potensi risiko dapat dikelola dengan baik. Contohnya, berbagai upaya debottlenecking yang menghambat aktivitas usaha terus dilakukan. Dari segi stabilitas, pemerintah dan BI dinyatakan terus menjaga stabilitas harga dan nilai tukar serta stabilitas pasar keuangan. Pemerintah pun menyampaikan optimistis dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan kesejahteraan rakyat. Indikasi perbaikan ekonomi diklaim telah terlihat sejak semester II/2025 dengan berbagai indikator yang membaik.
Jadi Peringatan Keras
Sementara itu, Wakil Ketua DPR Dolfie OFP mengatakan penurunan outlook oleh Moody’s menjadi negatif adalah peringatan serius. Moody’s menegaskan bahwa masalah utama Indonesia saat ini bukan pada kapasitas ekonomi, melainkan pada tata kelola dan arah kebijakan.
‘Yang menjadi atensi adalah, kebijakan yang semakin sulit diprediksi dan kurang konsisten. Lemahnya komunikasi kebijakan, risiko fiskal akibat belanja sosial tanpa dukungan penerimaan yang memadai, Meningkatnya ketidakpastian terkait kerangka fiskal dan independensi Bank Indonesia (BI),’ jelasnya dalam sebuah keterangan resmi.
Dolfie menarangkan bahwa jika hal ini tidak segera diperbaiki kondisi ini dapat berdampak terhadap kenaikan biaya utang negara, meningkatnya volatilitas pasar keuangan, tertahannya investasi, serta tekanan pada APBN. Oleh karena itu, pemerintah bersama otoritas moneter dan sektor keuangan dapat merespons kebijakan yang cepat, tepat, konsisten, dan kredibel, yang diarahkan pada peningkatan kredibilitas kebijakan moneter, fiskal dan sektor keuangan.
‘Peringatan dari Moody’s sudah terjadi; kita jadikan hal ini sebagai momentum pembenahan dalam memperkuat kepercayaan pasar dan stabilitas ekonomi nasional.’
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”











