"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Iis Dahlia Menyangkal Intimidasi Ressa, Menangis Elus Anak Denada: Bingung Tunggu Kejelasan

Penyangkalan Iis Dahlia terhadap Tuduhan Intimidasi

Iis Dahlia, penyanyi dangdut ternama, dengan tegas menyangkal adanya tindakan intimidasi terhadap Ressa Rizky Rossano. Isu ini muncul setelah pertemuan tak sengaja antara Ressa dan Iis dalam sebuah acara fashion show yang dihelat oleh Shella Saukia, seorang pengusaha yang juga aktif di dunia fesyen tanah air.

Dalam momen tersebut, Iis sempat mengunggah foto dirinya berfoto bersama Ressa. Bahkan, ia turut merekam kejadian saat Ressa tampil di acara tersebut. Ia juga menyampaikan doa untuk anak Denada, yang menjadi pusat perhatian publik akhir-akhir ini.

Namun, beberapa waktu lalu, Ressa mengungkapkan bahwa ia merasa disalahkan atas kondisi yang menimpa Denada. Ia menyatakan bahwa dirinya adalah anak kandung Denada, hal yang baru diketahuinya setelah 24 tahun. Dalam wawancara, Ressa menirukan ucapan pihak-pihak tertentu yang menekannya dengan alasan hubungan darah. Ia menegaskan bahwa narasi tersebut dilontarkan secara langsung tanpa rekayasa.

“Intinya, (mereka bilang) ‘bagaimana pun itu kan masih darah daging’. Ini nggak saya tambahi, nggak saya kurangi,” ujar Ressa, seperti dikutip dari tayangan YouTube, Kamis 5 Februari 2026.

Setelah pengakuan Ressa, publik mulai berspekulasi bahwa tindakan Iis bisa dianggap sebagai intimidasi. Namun, Iis dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Polemik ini muncul terkait kasus dugaan penelantaran anak yang digugat Ressa terhadap Denada. Iis dituding telah melakukan intimidasi terhadap Ressa, terutama terkait isu boikot televisi yang tengah menerpa Denada.

Baru-baru ini, Iis kembali angkat bicara setelah dituduh melakukan intimidasi. Ia menjelaskan kejadian sebenarnya saat bertemu dengan Ressa. Menurutnya, saat itu ia sedang menuju ruang ballroom bersama Caren Delano dan suami Shella Saukia. Di area tersebut, ia berpapasan dengan Ressa.

Sebagai rekan dekat Denada, Iis merasa tidak enak hati jika hanya berdiam diri tanpa menyapa pemuda berusia 24 tahun itu. Iis langsung menghampiri dan mengelus Ressa hingga membuatnya menangis.

“Aku dari tempat ruang gantinya Shella. Aku bilang sama Caren ‘kita ketemu Shella dulu yuk di belakang’, dari situ si Abang (suami Shella) bilang ‘udah mau mulai kita ke ballroom yuk’,” kata Iis, dikutip dari YouTube TRANS TV Official, Kamis (5/2/2026).

“Jalan nih gue, Caren, gue, si Abang, ada si Ressa dari sana.”

“Nah ini kan urusan lagi hype banget dan aku kan kenal ibunya, masa ada dia lewat kita nggak tegur.”

“Gue karena ada di situ dan hati seorang ibu gimana sih ketika ada anak, gue ngerasa dia lagi bingung lagi menunggu kepastian.”

“Gue elus, baru elus aja gue udah nangis,” paparnya.

Iis kemudian memberikan dukungan moral kepada Ressa agar tetap bersabar menantikan waktu yang tepat untuk berkomunikasi dengan Denada. Ia juga memberikan nasihat mendalam tentang pentingnya menjaga hubungan kekeluargaan.

“Aku bilang gini, ‘Nak sabar ya, mungkin ibu kamu lagi nunggu momen untuk bisa keluar, ngomong dan ketemu kamu’.”

“‘Tapi biar bagaimana pun itu ibumu, ini saudaramu dan orangtua angkatmu yang membesarkan kamu, kamu udah dewasa, mudah-mudahan suatu saat kamu bisa jadi peredam untuk dua sisi’,” lanjutnya.

Seruan aksi boikot terhadap Denada gencar dilakukan warganet di media sosial. Aksi boikot ini tidak lepas dari dugaan penelantaran anak selama 24 tahun kepada Ressa Rizky Rossano, pemuda asal Banyuwangi. Ressa muncul ke publik dan menyatakan bahwa dirinya adalah anak kandung Denada. Klaim tersebut tidak berhenti pada pernyataan saja, karena Ressa telah resmi mengajukan gugatan terhadap Denada di Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi.

Gugatan itu diajukan atas dugaan penelantaran anak. Tak tanggung-tanggung, Ressa menuntut ganti rugi materiil sebesar Rp7 miliar.

Seruan Boikot Denada Viral di Media Sosial

Terseretnya Denada dalam kasus dugaan penelantaran terhadap Ressa membuat kariernya terancam. Posisi Denada sebagai salah satu juri program acara dangdut di sebuah stasiun televisi turut terimbas. Tagar #BOIKOTDENADA digaungkan memenuhi kolom komentar akun Instagram stasiun tv tersebut.

Pantauan Tribunnews, Jumat (30/1/2026), video-video cuplikan yang menampilkan Denada kini mulai tak nampak. Video yang beredar hanya menampilkan sejumlah rekan Denada di acara yang sama, di antaranya Irfan Hakim, Caren Delano, dan juga Iis Dahlia.

Tak hanya itu, Instagram Denada pun dipenuhi seruan tagar Boikot Denada. Setelah tagar itu viral, baru-baru ini video Denada menangis saat menjadi juri di acara dangdut itu viral.

Dalam cuplikan video yang beredar di media sosial, Denada masih duduk di bangku juri. Ketika seorang pemuda berusia 19 tahun tampil kurang bagus saat bernyanyi, Denada tidak menekan tombol buzzer seperti juri lain. Tombol buzzer dalam program itu menyiratkan penolakan atas penampilan talent di atas panggung.

Ketika ditanya alasannya oleh Irfan Hakim, putri mendiang Emilia Contessa itu terlihat ragu menjawab. Ia hanya tersenyum dengan mimik wajah kebingungan.

“Ih,” ungkap Denada seolah menahan tangis. Dia sesekali mengibaskan tangannya untuk mencegah air matanya turun.

Irfan Hakim terus menekannya dengan pertanyaan, memancing gejolak emosional Denada.

“Kenapa?” tanya Irfan.

“Nggak papa,” jawab Denada lirih, tersenyum dengan gaya centilnya.

Suaranya mulai terbata menahan isak tangisnya pecah.

Mendapati itu, Caren Delano yang ada di sisi Denada langsung memeluknya. Begitu pun dengan Iis Dahlia yang juga duduk di kursi juri.

Terdengar tangis Denada di balik wajahnya yang tenggelam dalam pelukan Caren.

“Semua pasti ada alasannya. Walaupun mungkin ada suatu alasan yang belum bisa diungkap. Dan kita tahu ini tidak hanya sebatas minta diakui, bisa tentang apa pun, tentang apa pun,” kata Irfan Hakim sebagai MC, diduga menyinggung kasus dugaan penelantaran anak yang tengah merundung Denada.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *