"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Daerah  

Menanti Peresmian Huntara, Korban Banjir Bandang Mulai Bangkit Harapan

Kehidupan yang Mulai Berjalan Kembali di Jorong Kayu Pasak

Di bawah terik matahari yang menyengat, Nurma berdiri di depan sebuah bangunan semipermanen berbahan asbes dan seng di Jorong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam. Pukul 11.15 WIB, ia memandang papan nama yang terpasang di pintu hunian itu, tertulis namanya. Di balik pintu tersebut, sebuah Hunian Sementara (Huntara) telah siap ditempati.

Bagi Nurma, bangunan mungil itu bukan sekadar tempat berteduh, melainkan penanda dimulainya kembali kehidupan setelah banjir bandang meluluhlantakkan nagarinya pada akhir November 2025 lalu. Sejak bencana itu merenggut rumah dan harta bendanya, ia terpaksa menumpang di rumah kerabat yang selamat dari terjangan air dan lumpur.

“Sudah rindu ingin punya dapur sendiri lagi,” ucap Nurma lirih. Meski unit Huntara telah siap, ia bersama warga lainnya masih menunggu prosesi peresmian yang kabarnya akan dilakukan langsung oleh menteri dari Jakarta. Informasi tersebut mereka peroleh dari wali jorong setempat.

Di dalam unit Huntara, berbagai kebutuhan dasar telah tertata rapi. Mulai dari kasur busa yang masih terbungkus plastik, tikar, hingga perlengkapan kebersihan seperti sapu dan pel. Bantuan logistik tersebut disiapkan agar warga dapat langsung menempati hunian usai serah terima.

Tak jauh dari Nurma, Ramalis, penyintas banjir bandang lainnya, tampak memperhatikan bangunan Huntara miliknya. Seluruh rumah yang pernah ia tempati hanyut tanpa sisa saat banjir bandang menerjang. “Kami sudah tidak punya tempat tinggal lagi. Semua dibawa air,” kata Ramalis. Meski ukurannya tidak besar, Ramalis mengaku bersyukur. Setiap unit Huntara telah dilengkapi kamar mandi pribadi, fasilitas yang menurutnya sangat berarti di tengah kondisi darurat.

Bagi warga Salareh Aia, sanitasi layak di dalam hunian menjadi kemewahan tersendiri. Mereka tak lagi harus mengantre di MCK umum atau berjalan jauh ke sungai hanya untuk membersihkan diri. Kini, Jorong Kayu Pasak berubah wajah. Deretan Huntara dengan nama warga di tiap pintu menghadirkan suasana haru sekaligus harapan baru bagi para penyintas. Namun, di balik rasa syukur itu, tersimpan harapan lebih besar: pembangunan hunian tetap (Huntap) dapat segera menyusul.

Warga membutuhkan kepastian jangka panjang demi masa depan anak-anak mereka. Hingga siang hari, warga masih berkumpul di sekitar Huntara. Mereka bercengkerama, saling berbagi cerita, dan membicarakan rencana hari esok. Angin pegunungan Palembayan berembus pelan, membawa harapan baru bagi Nurma, Ramalis, dan puluhan keluarga lainnya.

Dampak Banjir Bandang yang Luar Biasa

Seperti diketahui, Nagari Salareh Aia Timur menjadi salah satu wilayah yang paling parah terdampak banjir bandang. Seluruh jorong terdampak, yakni Subarang Aia, Koto Alam, Kampung Tengah Barat, dan Kampung Tengah Timur. Wali Nagari Salareh Aia Timur, Ahmad Fauzi, menyebut sekitar 5.000 jiwa terdampak bencana. Sebagian masih bertahan di posko pengungsian dan rumah kerabat.

“Banyak warga yang trauma. Rumah mereka hanyut, sehingga terpaksa menumpang di rumah keluarga yang tidak terdampak,” ujarnya, Selasa (2/12/2025). Selain merusak ratusan rumah, banjir bandang juga menimbulkan korban jiwa. Hingga saat itu, masih ada sekitar 30 orang yang dilaporkan belum ditemukan. Bantuan logistik yang sempat mengalir dari berbagai daerah kini mulai menipis, sementara listrik sempat padam berhari-hari, menyebabkan aktivitas warga dan komunikasi terganggu.

Salah seorang korban, Armawati (61), mengatakan bantuan makanan masih sangat dibutuhkan. Saat banjir datang, ia hanya sempat menyelamatkan pakaian yang melekat di badan. “Sekarang masih bisa bertahan karena bantuan yang ada. Tapi bantuan makanan sangat dibutuhkan,” tuturnya.




Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *