"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Budaya  

5 destinasi wisata desa di Sukoharjo Jateng: Budaya, seni, kerajinan, dan alam

Desa Wisata Sukoharjo: Potensi Budaya, Industri Kreatif, dan Alam yang Menarik

Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, memiliki potensi wisata yang sangat menarik. Terletak di perbatasan antara Kota Solo dan Wonogiri, daerah ini tidak hanya dikenal sebagai wilayah penyangga kota dengan perkembangan perkotaan yang pesat, tetapi juga menyimpan berbagai desa wisata yang kaya akan budaya, industri kreatif, serta alam yang masih asri.

Berikut adalah beberapa rekomendasi desa wisata unggulan di Sukoharjo yang cocok untuk liburan keluarga:

1. Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban



Desa Wirun dikenal sebagai satu-satunya sentra industri gamelan di Jawa Tengah. Industri ini telah berkembang sejak tahun 1954 dan produknya sudah menembus pasar internasional. Wisatawan dapat menyaksikan langsung proses pembuatan gamelan, mulai dari peleburan logam hingga penyelarasan nada yang memerlukan keahlian khusus. Satu set gamelan lengkap terdiri dari sekitar 26 instrumen dan memakan waktu produksi hingga 3–4 bulan dengan harga mencapai ratusan juta rupiah.

Selain gamelan, desa ini juga memiliki kerajinan kain jumputan, keris, batik kayu, genteng, dan wayang kertas. Wayang kertas karya Mbah Brambang menjadi daya tarik tersendiri. Selain itu, ada Pura Sahasra atau Candi Sonosewu, tempat ibadah umat Hindu yang unik dengan puluhan miniatur bangunan kuno dari berbagai negara.

Lokasi desa ini berjarak 6,8 kilometer dari Pusat Kota Solo, bisa ditempuh kurang lebih 19 menit kendaraan pribadi.

2. Desa Trangsan, Kecamatan Gatak



Desa Trangsan merupakan sentra kerajinan rotan terbesar di Jawa Tengah dan terbesar kedua di Indonesia. Industri ini telah berkembang sejak 1927 dan diwariskan secara turun-temurun. Sekitar 90 persen produk rotan Trangsan dipasarkan untuk kebutuhan ekspor, namun kini juga semakin diminati pasar domestik.

Wisatawan dapat mengikuti eduwisata pembuatan kerajinan rotan, mulai dari bahan mentah hingga produk jadi. Desa ini juga rutin menggelar event budaya seperti Grebeg Penjalin dan berbagai pentas seni tradisional. Aneka cendera mata khas rotan, seperti tas, keranjang, miniatur mebel, hingga perlengkapan rumah tangga, bisa dibeli langsung dari pengrajin.

Lokasi desa ini berjarak 13 kilometer dari Pusat Kota Solo, bisa ditempuh kurang lebih 34 menit kendaraan pribadi.

3. Desa Ngrombo, Kecamatan Baki



Desa Ngrombo dikenal sebagai kampung kreatif sentra industri gitar yang telah mendunia dan meraih prestasi nasional. Hampir setiap sudut desa dihiasi ornamen gitar, mulai dari patung hingga mural, menjadikannya destinasi yang sangat fotogenik. Pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan gitar, dari model tradisional hingga modern, di bengkel-bengkel milik warga.

Desa ini juga menawarkan spot wisata menarik seperti Taman Pocong, kampung lawasan bernuansa tempo dulu, serta jalur irigasi yang asri. Didukung fasilitas balai pertemuan dan area outbound, Desa Ngrombo cocok untuk wisata keluarga maupun rombongan edukasi.

Lokasi desa ini berjarak 10 kilometer dari Pusat Kota Solo, bisa ditempuh kurang lebih 26 menit kendaraan pribadi.

4. Desa Tiyaran, Kecamatan Bulu



Daya tarik utama Desa Tiyaran adalah Gunung Sepikul, destinasi pendakian ringan dengan ketinggian sekitar 350 mdpl. Gunung ini sangat ramah bagi pendaki pemula karena waktu tempuhnya singkat, hanya sekitar 10–15 menit. Gunung Sepikul terkenal dengan panorama bebatuan purba yang eksotis dan pemandangan persawahan hijau dari puncaknya.

Beberapa spot batu ikonik seperti Watu Jaran, Watu Pawon, dan Watu Giring menjadi favorit wisatawan untuk berfoto. Selain keindahan alam, Gunung Sepikul juga memiliki nilai historis dan legenda yang dikaitkan dengan kisah Bandung Bondowoso serta pernah menjadi lokasi syuting film laga.

Lokasi desa ini berjarak 29 kilometer dari Pusat Kota Solo, bisa ditempuh kurang lebih 1 jam kendaraan pribadi.

5. Desa Kenep



Desa Kenep dikenal luas sebagai sentra kuliner tradisional, terutama jenang yang telah menjadi ikon daerah. Jenang Kenep kerap dijadikan oleh-oleh khas Sukoharjo dan bahkan pernah mencatatkan rekor jenang terpanjang dalam festival budaya. Selain kuliner, Desa Kenep memiliki potensi wisata lain seperti kawasan sepanjang Bengawan Solo, industri rumah tangga, agrobisnis, serta kerajinan batik tulis tradisional.

Wisata religi juga menjadi daya tarik utama melalui Masjid Darussalam, masjid tertua di Sukoharjo yang dibangun pada 1837 dan menjadi cagar budaya. Suasana desa yang asri membuat Kenep cocok sebagai destinasi wisata berbasis kearifan lokal.

Lokasi desa ini berjarak 19 kilometer dari Pusat Kota Solo, bisa ditempuh kurang lebih 38 menit kendaraan pribadi.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *