Pengalaman Keluarga Arsa yang Selamat dari Longsor di Cisarua
“Enggak tahu bagaimana bisa selamat. Itu keajaiban Allah.” Kalimat itu diucapkan oleh Yayah, kerabat Arsa, setelah mengetahui bahwa keponakannya yang berusia 2 tahun berhasil selamat dari longsor di Cisarua, Jawa Barat.
Tim BPBD dan SAR berhasil menemukan Arsa, balita tersebut, berada di atas genting rumahnya. Sementara rumah milik keluarga dan warga lain di sekitarnya telah rata oleh longsoran tanah yang menerjang Kampung Babakan, RT 5 RW 11, Cisarua, Jawa Barat.
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya M Syafii mengatakan, 113 orang dari 34 kepala keluarga menjadi korban longsor Cisarua. Keluarga Arsa adalah satu dari banyaknya korban longsor.
Tubuh Arsa tampak lemas. Ia beberapa kali mengalami muntah. Sudah ada keluarga dari ibu Arsa yang langsung menggendong tubuh mungil itu. Dia kemudian langsung dibawa ke Puskesmas Pasirlangu, tak jauh dari lokasi longsor untuk mendapatkan pertolongan medis.
“Kasihan kalau di sini (posko), karena sempat muntah-muntah,” katanya. Arsa langsung dibawa petugas ke posko pengungsian di Kantor Desa Pasirlangu.
Saat ditemukan, Arsa seorang diri. Sementara ayah dan ibunya belum diketahui keberadaannya. Informasinya, Epon ibunda Arsa dan ayahnya Komarudin serta Febri kakaknya, belum ditemukan. Rumah mereka di Kampung Babakan, RT 5 RW 11, telah terkubur longsoran tanah.
“Adik ibu, ipar ibu, sama anak pertamanya belum ketemu. Rumahnya sudah tertimbun,” ujar Yayah, sambil menahan tangis. Arsa kini dirawat oleh keluarga di rumah kerabat yang berada di bagian bawah kampung, lokasi yang relatif lebih aman.
Keluarga pun terus memantau kondisinya, memastikan balita itu mendapatkan perawatan.
Pengalaman Nur Saat Hujan Deras dan Angin Kencang
Nur (42) menceritakan, sebelum longsor terjadi, hujan deras tak berhenti selama tiga hari berturut-turut. Puncaknya pada Jumat (23/1/2026) sore hingga Sabtu dini hari, hujan turun disertai angin kencang terus mengguyur kampungnya.
Di tengah kondisi itu, listrik sempat padam sejak Jumat sore, sekitar pukul 16.00 WIB. Sekitar pukul 01.30 WIB dini hari, Nur merasa ada getaran seperti gempa bumi diikuti suara gemuruh mirip angin kencang.
“Ternyata tanah sudah longsor, sekitar jam 2 dini hari, saya langsung keluar karena ada suara teriak minta tolong,” ujar Nur. Saat ini, anggota keluarga Nur yang lain yang selamat masih berupaya mencari keberadaan ibu kandungnya. Mereka berharap petugas dapat menemukan dalam kondisi apapun.
“Saya mah sudah ikhlas, mudah-mudahan ketemu,” katanya. Nur mengaku dia sudah tidak memiliki apa-apa selain pakaian yang masih menempel di badannya. Beruntung di lokasi pengungsian yang serba keterbatasan, kepedulian antar warga tumbuh tanpa diminta.
Warga nampak saling berbagi selimut, berbagi makanan seadanya. “Kalau kebutuhan mah, pakaian bersih. Saya dari kemarin belum ganti (pakaian). Paling sama selimut. Suami dan anak Alhamdulillah selamat semua, suami saya masih keliling nyari mamah saya,” ucapnya.
Detik-Detik Longsor di Cisarua Bandung Barat
Eneng Rohaeni (38), seorang warga mengungkap detik-detik terjadinya longsor di Kampung Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu (24/1/2026) dini hari.
Eneng yang rumahnya tidak jauh dari lokasi mengungkap dirinya mendengar gemuruh seperti suara pesawat sebelum peristiwa terjadi. Menurut dia, suara gemuruh tiba-tiba memecah keheningan warga sekira pukul 03.00 WIB.
“30 menit setelahnya ada suara kayak jatuh, gebruk, itu kejadian kedua,” ujar Eneng, Sabtu (24/1/2026). Setelah suara itu terjadi, jeritan hingga teriakan minta tolong pun terdengar. Menurut dia, banyak warga yang berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.
Suara gemuruh terdengar hingga beberapa menit. “Kejadian pertama itu ada puing-puing, tertahan dulu. Jadi pada masih bisa untuk menyelamatkan diri. Baru yang kedua, itu semua tidak ada yang bisa menyelamatkan diri,” katanya.
Setelah kejadian tersebut, Eneng mengaku dirinya masih sangat takut untuk berdiam di dalam rumah. Meski rumahnya tidak terdampak langsung, Eneng bersama warga lainnya memutuskan untuk mengungsi. “Kata pihak desa harus mengungsi dulu, siaga 1. Katanya takut ada longsor susulanan. Soalnya ini dua Kampung Pasir Kuda sama Pasir Kuning. Saya ngungsi ke rumah saudara,” ucapnya.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”










