"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Daerah  

Logistik dan Dapur Umum Siap Dukung Tim Pencari Pesawat ATR 42-500

Operasi Pencarian Korban Pesawat ATR 42-500 Berlanjut dengan Keterlibatan Ribuan Personel

Operasi pencarian korban pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan terus berlangsung. Dalam operasi ini, terlibat sebanyak 1.200 personel gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, Basarnas, BPBD, relawan, dan warga lokal. Mereka bekerja sama untuk mencari para penumpang dan kru pesawat yang hilang setelah jatuh di kawasan pegunungan tersebut.

Posko utama operasi berada di Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep. Dinas Sosial Sulsel juga menyiapkan suplai pangan dan dapur umum tambahan untuk mendukung kebutuhan logistik tim pencari. Menurut Kepala Dinas Sosial Sulsel, Abdul Malik Faisal, bantuan logistik seperti beras, mie, dan air mineral akan disediakan. Tim Tagana juga akan memasak makanan untuk diberikan kepada petugas dan relawan.

Kebutuhan logistik ini sangat penting karena fisik para petugas terus terkuras akibat aktivitas naik turun gunung serta kondisi cuaca yang tidak menentu. Untuk itu, Abdul Malik menyatakan bahwa dapur umum akan dibuka selama proses pencarian berlangsung. Bahan baku seperti beras akan disiapkan dalam jumlah sekitar 500 kg hingga 1 ton, tergantung kebutuhan yang muncul.

Kondisi Cuaca yang Menghambat Evakuasi

Cuaca buruk dan medan terjal menjadi tantangan utama dalam operasi pencarian dan evakuasi. Meskipun begitu, personel TNI tetap bersiaga sejak pukul 06.00 Wita hari ini untuk melanjutkan penelusuran ke titik jatuhnya pesawat. Hujan lebat sejak subuh dini hari tidak menghalangi langkah mereka. Sejumlah anggota TNI tampak melakukan persiapan logistik, pengecekan perlengkapan, serta berkoordinasi dengan tim gabungan lainnya sebelum diberangkatkan ke lapangan.

Beberapa peralatan seperti alat komunikasi dan starlink juga terlihat dibawa oleh personel TNI. Kondisi cuaca yang kurang bersahabat justru diantisipasi dengan penguatan koordinasi dan penyesuaian strategi pencarian. Medan menuju lokasi jatuhnya pesawat dikenal terjal dan licin, sehingga memerlukan strategi khusus untuk dapat mencapai lokasi.

Penemuan Korban Kedua dalam Kondisi Meninggal Dunia

Pada Senin (19/1/2026), korban kedua dari jatuhnya pesawat ATR 42-500 telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Penemuan ini dilakukan oleh Tim SAR SRU 1 yang terdiri dari 18 orang. Di antara anggota tim tersebut adalah Serda Marinir Syamsul Alam, yang mengaku menemukan posisi mayat di jurang kedalaman sekitar 300 meter.

Menurut Syamsul Alam, kondisi cuaca saat itu sangat tidak mendukung untuk dilakukan evakuasi. Jalan yang curam dan kabut tebal membuat proses evakuasi sulit dilakukan. Setelah menemukan mayat korban, tim SAR langsung menutupi jenazah. Beberapa jam kemudian, tim pembawa kantong mayat tiba dan membawa jenazah tersebut ke jalur utama.

Untuk rencana evakuasi, jalur yang memungkinkan tim SAR membawa mayat yaitu ke arah puncak Gunung Bulusaraung. Namun, akses darat yang terbatas membuat proses pencarian dan evakuasi harus mengandalkan pemantauan udara serta penggunaan peralatan khusus mountaineering oleh Tim SAR Gabungan.

Daftar Korban Pesawat ATR 42-500

Pesawat yang disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan ini mengangkut 10 orang yang terdiri dari 7 crew dan 3 penumpang. Para korban adalah:

  • Capt Andy Dahananto
  • SIC FO M Farhan Gunawan
  • FOO Hariadi
  • EOB Restu Adi P
  • EOB Dwi Murdiono
  • Flight attendant Florencia Lolita
  • Flight attendant Esther Aprilitas
  • Deden dari KKP
  • Ferry dari KKP
  • Yoga dari KKP

Lokasi penemuan serpihan pesawat ATR 42-500 berada di kawasan perbukitan Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada koordinat 04°55’48” Lintang Selatan – 119°44’52” Bujur Timur. Area tersebut merupakan wilayah pegunungan dengan kontur lereng curam, vegetasi rumput dan semak, serta kerap diselimuti kabut tebal.

Secara geografis, lokasi kejadian berada sekitar 42 kilometer dari pusat Kota Makassar. Sementara itu, jaraknya diperkirakan sekitar 26 kilometer dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, dengan arah utara, timur laut dari bandara.


Adriatno Majid

Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *