"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Mengikuti Perkembangan Mode di Koridor Kampus

Perjalanan Gaya Berpakaian Mahasiswa di Kampus

Duduk diam di bangku koridor kampus selama satu jam atau lebih, lalu mengamati lalu lalang manusia di sana. Aktivitas sederhana ini sebenarnya menawarkan sebuah tontonan yang menarik. Tanpa perlu bertanya satu patah kata pun, kita bisa menebak tingkat senioritas seorang mahasiswa hanya dengan memindai apa yang melekat di tubuh mereka. Kampus ternyata bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan sebuah ekosistem unik di mana gaya berpakaian memiliki siklus hidupnya sendiri.

Di habitat akademis ini, pakaian bukan sekadar penutup tubuh. Ia adalah penanda. Evolusi ini bergerak mundur secara unik, dari fase kerapian menuju fase kepasrahan. Sebuah degradasi gaya yang justru menandakan peningkatan atau mungkin kelelahan dalam menghadapi realitas perkuliahan.

Mahasiswa Baru: Awal dari Perjalanan

Mari kita mulai dari Mahasiswa Baru alias Maba. Mereka sangat mudah dikenali bahkan dari radius seratus meter. Aura mereka memancarkan campuran antara semangat membara, kecemasan akut, dan aroma parfum minimarket yang disemprotkan terlalu banyak. Secara visual, Maba adalah definisi dari ketertiban sipil. Mereka mengenakan kemeja berkerah, sering kali bermotif kotak-kotak atau batik yang licinnya luar biasa. Garis bekas setrikaan masih terlihat jelas membelah lengan dan punggung, menandakan bahwa pakaian itu disiapkan dengan penuh dedikasi, mungkin oleh ibu mereka, sejak malam sebelumnya. Kancing baju terpasang lengkap sampai ke leher.

Aksesori mereka pun tak kalah ikonik. Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) tergantung bangga di leher dengan tali lanyard bertuliskan nama universitas yang masih bersih berkilau. Di punggung mereka, bertengger tas ransel besar yang isinya sangat lengkap bagaikan kantong ajaib Doraemon. Mulai dari laptop, pengisi daya, buku catatan (yang disampul rapi), kotak pensil lengkap dengan penggaris, payung lipat, botol minum satu liter, hingga cemilan. Mereka bersiap untuk segala kemungkinan. Dengan sepatu yang tertutup, bersih, dan bertali simpul mati.

Fase Golden Age: Ketika Pakaian Menjadi Simbol

Beranjak ke tahun kedua dan ketiga, mahasiswa memasuki Golden Age. Ini adalah fase semester 3 hingga semester 5. Di tahap ini, mahasiswa sudah tahu celah aturan. Mereka tahu dosen mana yang mewajibkan kemeja dan dosen mana yang membolehkan kaos oblong asalkan sopan. Ketakutan masa Maba sudah hilang, digantikan oleh keinginan untuk tampil dan dilihat.

Kampus berubah fungsi menjadi catwalk. Kemeja kaku mulai ditinggalkan, digantikan oleh perpaduan gaya yang lebih luwes. Kemeja flanel yang lengan panjangnya digulung hingga siku menjadi seragam tidak resmi, memberikan kesan santai tapi siap kerja keras. Celana bahan yang formil diganti dengan denim atau chino berwarna cream. Sepatu pantofel atau kets hitam polos berganti menjadi sneakers warna-warni yang sedang tren. Tas ransel besar yang membuat punggung bungkuk mulai ditinggalkan, digantikan oleh tas selempang atau tote bag kanvas estetis yang bertuliskan kutipan indie atau logo band folk. Isi tas pun menyusut drastis. Hanya laptop dan satu pulpen yang sering kali hilang tutupnya.

Di fase ini, penampilan adalah prioritas karena mereka sedang sibuk-sibuknya berorganisasi, mencari gebetan, atau sekadar ingin terlihat keren di Insta Story.

Fase Akhir: Kebutuhan Kenyamanan

Namun, semua kejayaan itu akan runtuh pada waktunya. Saat mahasiswa memasuki semester akhir. Masa di mana skripsi, revisi, dan pertanyaan “kapan wisuda?” menyerang bertubi-tubi. Di titik ini, konsep mix and match pakaian sudah tidak ada dalam kamus mereka. Mahasiswa tingkat akhir tidak lagi berpakaian untuk mengesankan orang lain. Mereka berpakaian untuk kenyamanan dan perlindungan diri.

Seragam kebesaran mereka adalah Hoodie (jaket bertudung). Namun, ini bukan sembarang hoodie. Warnanya biasanya gelap hitam, abu-abu, atau biru donker untuk menyamarkan noda kopi atau saus mie instan. Hoodie ini berfungsi ganda, sebagai selimut saat ketiduran di perpustakaan, dan sebagai tameng untuk menyembunyikan wajah saat berpapasan dengan adik tingkat atau dosen pembimbing di koridor.

Tas mereka pun bermetamorfosis menjadi benda paling minimalis. Tote bag kain yang isinya hanya tiga benda sakral, laptop yang baterainya sudah bocor, pengisi daya yang kabelnya terkelupas, dan dompet yang tipis. Tidak ada pulpen, tidak ada buku catatan. Jika butuh mencatat, mereka meminjam kertas adik tingkat atau mengetik di ponsel.

Perubahan Prioritas yang Mendalam

Melihat fenomena ini, mudah bagi kita untuk menuduh mahasiswa tingkat akhir sebagai pemalas yang tidak merawat diri. Namun, tuduhan itu tidak sepenuhnya adil. Perubahan gaya ini sebenarnya karena pergeseran prioritas hidup yang mendalam.

Bagi mahasiswa tingkat akhir, energi adalah mata uang yang sangat mahal. Setiap kalori energi yang mereka miliki harus dialokasikan untuk memikirkan bab pembahasan, merevisi latar belakang masalah, dan mempersiapkan mental menghadapi sidang. Memikirkan “hari ini pakai baju apa” adalah pemborosan energi yang tidak bisa mereka toleransi lagi.

Jika besok melihat sosok berjalan gontai di koridor kampus dengan hoodie kebesaran, mata pandan, rambut acak-acakan, janganlah menatap sinis. Berikanlah tatapan penuh empati dan hormat. Seorang pejuang akademik yang sedang bertaruh menuju garis finish. Mereka tidak butuh pujian soal penampilan, mereka hanya butuh doa agar dosen pembimbing segera membalas pesan WhatsApp mereka.

Siklus yang Tak Pernah Berakhir

Pada akhirnya, siklus ini akan berulang. Maba yang hari ini wangi dan licin, suatu hari nanti akan mewarisi hoodie keramat itu juga. Itulah roda kehidupan kampus yang terus berputar, dari kemeja necis menuju kaos oblong, dari ingin dilihat dunia menjadi ingin sembunyi dari dunia.

Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *