"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Proyeksi Harga Emas 2026: Morgan Stanley Prediksi Rp 80,8 Juta per Ons

Harga Emas Membuka Tahun 2026 dengan Level Historis Baru

Harga emas membuka tahun 2026 dengan level historis baru setelah reli panjang yang mewarnai pasar komoditas sepanjang 2025. Pada akhir tahun lalu, harga emas melampaui angka 4.500 dollar AS per ons untuk pertama kalinya. Per 7 Januari 2026, harga emas spot diperdagangkan di kisaran 4.440 dollar AS per ons, sedikit turun dari puncak 4.549 dollar AS akibat aksi ambil untung.

Meski terkoreksi, tren harga emas masih dinilai bullish. Investor mencermati level resistensi di area 4.450 dollar AS. Jika level ini berhasil ditembus, pasar menilai harga emas berpotensi bergerak menuju level psikologis berikutnya di kisaran 4.600 dollar AS per ons.

Lembaga keuangan global Morgan Stanley bahkan mematok target yang lebih tinggi. Bank tersebut memperkirakan harga emas bisa mencapai 4.800 dollar AS per ons atau setara sekitar Rp 80,8 juta (asumsi kurs Rp 16.849 per dollar AS) pada kuartal IV 2026.

Faktor Penyebab Harga Emas Dunia Diprediksi Masih Tinggi

Proyeksi itu didukung kombinasi faktor, mulai dari pelemahan dolar AS hingga transisi kepemimpinan di bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed). Di sisi lain, permintaan emas dari bank sentral global terus menunjukkan penguatan. Data pasar memperlihatkan bahwa pembelian institusional tidak lagi semata-mata berfungsi sebagai lindung nilai inflasi, tetapi juga menjadi sumber “alpha” atau kinerja investasi yang lebih tinggi.

Analis Bank of America yang dipimpin oleh Michael Widmer memperkirakan harga emas rata-rata sepanjang 2026 berada di level 4.538 dollar AS per ons atau setara sekitar Rp 76,46 juta. Menurut Widmer dan timnya, pengetatan pasokan global serta kenaikan biaya produksi menjadi faktor utama yang menopang harga.

Di sektor hulu, 13 perusahaan pertambangan besar di Amerika Utara diproyeksikan mengalami penurunan produksi sekitar 2 persen pada 2026 menjadi sekitar 19,2 juta ons. Penurunan ini terjadi seiring memburuknya kualitas bijih, yang memaksa penambang menggali lebih dalam dan memproses lebih banyak material. Kondisi tersebut mendorong biaya berkelanjutan atau all-in sustaining cost (AISC) naik sekitar 3 persen ke kisaran 1.600 dollar AS per ons.

Dengan harga emas bertahan jauh di atas 4.400 dollar AS, arus kas bebas perusahaan tambang melonjak ke level tertinggi. Dampaknya, saham-saham pertambangan emas menguat signifikan dan menjadikan sektor ini salah satu yang berkinerja terbaik di indeks S&P 500 pada awal 2026.

Gejolak Geopolitik Perkuat Daya Tarik Emas

Sentimen geopolitik turut memperkuat daya tarik emas sebagai aset aman (safe haven). Intervensi militer AS di Venezuela serta ketegangan berkepanjangan di Timur Tengah kembali memunculkan “premi ketakutan” di pasar keuangan global. Situasi ini secara historis mendorong kenaikan harga emas batangan.

Ketegangan geopolitik tersebut semakin terasa setelah peluncuran Operasi Absolute Resolve dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan AS. Peristiwa itu mendorong harga emas naik hampir 2 persen hanya dalam satu sesi perdagangan.

Meski kontribusi ekonomi Venezuela relatif kecil, langkah kebijakan luar negeri AS yang dinilai tidak konvensional membuat investor global meninjau ulang stabilitas kawasan. Dalam konteks yang lebih luas, ketegangan geopolitik Timur-Barat, termasuk relasi Amerika Serikat dengan Iran dan Israel, terus menjadi risiko latar belakang pasar.

Kondisi tersebut membuat emas diperlakukan sebagai penyimpan nilai non-kedaulatan, terutama ketika hubungan diplomatik antara kekuatan besar seperti AS, China, dan Iran memburuk.

Harga Perak Juga Diprediksi Ikut Terdongkrak

Selain emas, perak muncul sebagai alternatif dengan potensi pertumbuhan tinggi. Harga perak mengikuti reli harga emas dan sempat menembus level 80 dollar AS per ons pada awal Januari 2026. Bank of America mencatat rasio emas terhadap perak berada di kisaran 60:1, level yang tergolong tinggi secara historis.

Jika rasio tersebut menyempit menuju kisaran historis 32 atau bahkan 14, harga perak dinilai berpotensi bergerak ke rentang 135 hingga 309 dollar AS per ons. Perak juga diuntungkan oleh permintaan ganda, baik sebagai aset moneter maupun bahan baku penting dalam transisi energi hijau.

Dinamika pasokan semakin kompleks setelah China memberlakukan sistem perizinan ekspor perak baru sejak 1 Januari 2026. Aturan tersebut mensyaratkan persetujuan pemerintah untuk sekitar 60 hingga 70 persen pasokan perak olahan dunia, sehingga memberi Beijing pengaruh strategis terhadap harga global.

Morgan Stanley menilai, perkembangan di pasar perak terjadi bersamaan dengan defisit pasokan logam dasar seperti tembaga dan aluminium. Di samping itu, gangguan pasokan tembaga yang terjadi sepanjang 2025 diperkirakan berlanjut hingga 2026, menjaga pasar logam tetap ketat dan harga berada di level tinggi.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *