Pengalaman Keluarga Teklik Serang Saat Bencana Banjir Bandang
Pada Senin (5/1/2026) pagi, sekitar pukul 03.00 Wita, Teklik Serang (45 tahun), bersama istri Suyatna Lohonauman (42 tahun) dan cucunya Rasya Gheovano Zahwerus sedang duduk bercanda di depan rumah mereka di Kelurahan Batusenggo, Siau Barat Selatan, Kabupaten Kepulauan Siau, Tagulandang dan Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara.
Saat itu, anak mereka Melvino Serang sedang tertidur di dalam kamar bersama temannya. Tidak ada yang menyangka bahwa bencana banjir bandang yang mengguncang tujuh kelurahan di Siau akan juga menimpa keluarga mereka.
Setelah kejadian tersebut, Teklik Serang beserta istri dan cucunya harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat di Pulau Siau. Istrinya mengalami luka cukup parah, dengan bagian belakang tubuh terbentur batu besar, sementara sekujur tubuhnya memiliki goresan dan lebam, termasuk di wajah dan tangan. Teklik Serang sendiri mengalami cedera pada kedua kakinya akibat tertindih batu besar. Cucu dan anak mereka selamat, namun teman anaknya yang ikut menumpang di rumah pada malam itu meninggal.
Rumah mereka hancur tak tersisa, begitu pula seluruh harta benda di dalamnya. Rizali Posumah, wartawan Tribun Manado, mengunjungi Teklik Serang dan istrinya di Rumah Sakit Lapangan Sawang, Kecamatan Siau Timur Selatan, pada Kamis 8 Januari sore. RS ini berjarak sekitar 6,7 kilometer dari pusat kota, Ulu Siau. Untuk sampai ke sana, ia menyewa ojek dengan biaya Rp 30 ribu sekali jalan. Medan yang dilalui cukup ekstrem, berbukit dan bekelok tajam. Beberapa area yang dilewati menampakkan pemadangan yang memilukan: sisa-sisa material banjir dan longsor.
Cerita Teklik Serang
Saya tiba di RS Lapangan Sawang sekitar pukul 17.00 Wita. Teklik Serang menerima saya dengan hangat. Ia bersedia menceritakan bagaimana detik-detik bencana menimpa keluarganya. Ia mengenang, sebelum kejadian, ia, istri, dan cucunya sudah bangun sejak pukul 2.30 karena anaknya Melvino Serang baru pulang dari acara.
“Anak yang tua datang dalam keadaan basah kuyup, jadi istri saya suruh dia ganti baju, makan apa saja lalu bikin teh,” ujar dia. Ia bersama istri dan cucunya lalu duduk di depan rumah. “Selanjutnya saya lihat anak saya itu sudah tidur di kasur. Sementara istri saya dan cucu kami sedang bermain,” terang dia.
Saat dirinya sedang asyik menikmati teh, tiba-tiba terdengar suara, tapi tidak dihiraukannya. “Saat itu istri saya bilang, suara apa ini. Saya bilang mungkin suara kayu,” ujar dia. Tak berselang lama, ia mencium bau lumpur. Selanjutnya hanya dalam hitungan detik, terdengar bunyi amat keras di dekat rumah mereka.
“Saat itu juga saya melihat dinding rumah sudah miring ke arah kami,” ujar dia. Melihat kenyataan itu, istrinya langsung menyambar cucu mereka dan berlari menuju kamar anaknya untuk membangunkan anaknya, tapi sudah tidak sempat. “Istri saya langsung memeluk cucu kami, lari ke kamar mencoba membangunkan anak kami dan suaminya tapi so ndak riki (sudah tidak sempat),” ujar dia.
Teklik Serang yang waktu itu masih berdiri di depan rumah tiba-tiba dihantam air bah yang deras hingga terhempas dan menghantam rumah tetangga. “Saya berteriak, tolong, tolong. Lalu saya panggil istri saya, dan sempat dengar suaranya. Setelah saya panggil lagi istri saya sudah tidak bersuara,” ujar dia. Di momen itulah ia tak kuasa lagi membendung air matanya. Menangis sejadi-jadinya.
“Saya lalu panggil seseorang, saya panggil Bapak Putri tolong saya. Tapi mungkin Bapak Putri waktu itu takut mendekat. Karena situasi sudah seperti itu,” ujar dia. Sementara istrinya, ditemukan tengah tergeletak oleh dua orang tetangga mereka. Sekujur tubuh istrinya terdapat luka gores dan lebam, sementara bagian belakang mengalami cedera cukup serius karena terbentur batu.
“Sucu kami yang masih bayi itu sudah terlepas dari pelukan istri saya, tapi dia tidak apa-apa. Saat istri saya bangkit dia dengar tangis cucu kami, di saat itulah istri dan cucu saya ditolong mereka,” terang dia. Teklik Serang sendiri sampai pagi berada di tempat di mana ia terhempas.
“Kemudian datang dua orang mendekat dan bilang ke saya, tenang saja kamu, kekuar kamu istri cucu dan anak semuanya hidup. Tapi ipar saya meninggal,” terang dia. Dirinya lalu berusaha dikeluarkan karena setengah badannya terjeput bebatuan besar. “Badan saya tidak apa-apa hanya kaki yang kena,” ujar dia.
Total Korban dan Kerusakan
Diketahui, total ada 693 orang yang terdampak banjir bandang di tujuh kelurahan desa di empat kecamatan. 206 unit bangunan dilaporkan rusak. Dari jumlah tersebut, 30 rumah dilaporkan hilang terbawa banjir. 52 rumah rusak berat. 29 rumah rusak sedang dan 89 lainnya rusak ringan. Sementara kantor pemerintahan dilaporkan satu yang alami kerusakan yakni Markas Polres Sitaro. Selain itu kerusakan juga dialami satu unit bengkel, satu kios dan tiga bangunan sekolah.
Hingga berita ini diturunkan, total korban bencana banjir di Siau ada 37. 17 meninggal, 18 luka, 2 orang masih dinyatakan hilang. Sementara yang mengungsi ada 693 jiwa.
Tentang Pulau Siau
Pulau Siau berada di bagian utara Provinsi Sulawesi Utara. Dari Pelabuhan Manado ke Siau bisa ditempuh kurang lebih 5 jam naik kapal cepat. Siau adalah satu dari 47 pulau yang masuk wilayah Kabupaten Kepulauan Siau, Tagulandang dan Biaro (Sitaro). Dari 47 pulau itu, hanya 10 pulau di antaranya berpenghuni. Total penduduk Kabupaten Sitaro sebanyak 70.528 jiwa. Terbanyak menghuni Pulau Siau. Disusul Pulau Tagulandang dan Biaro.
Ibu kota kabupaten berada di Siau. Gunung Api Karangetang dengan ketinggian 1.797 mdpl dan sangat aktif berada di pulau ini. Pulau Siau juga dikenal dengan komoditi unggulannya berupa Pala.










