Rekor Baru di Dunia Barber: 377 Kepala Dipangkas dalam 12 Jam
Pukul 19.15 WIB, Minggu (11/1/2026) malam, sebuah peristiwa yang akan dikenang dalam sejarah Palangka Raya berakhir. Muhammad Andi, seorang barbershop asal kota ini, menurunkan alat cukurnya setelah berhasil memangkas rambut sebanyak 377 kepala selama 12 jam nonstop. Acara yang digelar di Bundaran Besar Palangka Raya, tepat di depan Istana Isen Mulang, mencatatkan rekor baru di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori barber.
Misi yang Menguras Fisik dan Mental
Kegiatan bertajuk World Record Haircut Mission ini awalnya menargetkan pemangkasan rambut terhadap 400 peserta. Namun, hingga batas waktu 12 jam pelaksanaan, Andi berhasil memangkas rambut sebanyak 377 orang. Meski jumlahnya sedikit di bawah target, rekor ini tetap dicatatkan karena merupakan yang pertama di bidang barber di Indonesia.
Di akhir kegiatan, suasana lokasi jauh berbeda dibandingkan pagi hingga siang hari. Area panggung yang sebelumnya dipadati ratusan peserta kini tampak lengang. Hanya tersisa perwakilan MURI, sponsor, serta rekan-rekan terdekat Andi yang setia mendampingi hingga detik terakhir.
Lampu-lampu tenda masih menyala terang, namun antrean telah habis. Tepuk tangan, pelukan, dan senyum lega mewarnai penutupan misi panjang yang menguras fisik dan mental tersebut. Peserta terakhir yang duduk di kursi cukur adalah Direktur Operasional MURI, Yusuf Ngadri, yang sekaligus menjadi penanda simbolis berakhirnya rangkaian pemangkasan rambut selama 12 jam.
Usai menuntaskan misi, Andi bersujud di atas panggung sebagai ungkapan syukur, dengan raut lelah yang dibalut rasa bahagia dan haru.
Berbagai Latar Belakang Peserta
Andi mengungkapkan bahwa selama 12 jam pelaksanaan, dirinya memangkas rambut 377 peserta yang terdiri dari berbagai latar belakang. Sekitar 65 hingga 70 persen merupakan siswa SMAN 5 Palangka Raya, sementara sisanya berasal dari masyarakat umum hingga komunitas pengemudi ojek daring.
“Yang pertama anak-anak SMA Negeri 5, lalu ada masyarakat umum, komunitas ojek juga,” katanya.
Dari sisi teknis, Andi menjelaskan bahwa rata-rata waktu pemangkasan sekitar dua menit per orang. Jenis potongan pun beragam, meski mayoritas menyesuaikan kebutuhan siswa sekolah.
“Potongannya macam-macam, ada potongan rapi, ada yang simpel. Karena banyak anak sekolah, jadi modelnya disesuaikan,” jelasnya.
Persiapan dan Tantangan
Menurut Andi, persiapan menuju kegiatan ini tidak singkat. Ia dan tim membutuhkan waktu sekitar empat bulan untuk mematangkan konsep, teknis pelaksanaan, hingga koordinasi peserta dan pencatatan data sebagai syarat verifikasi MURI.
Tantangan terberat selama pelaksanaan, lanjut Andi, adalah menjaga stamina dan fokus. Meski kegiatan berlangsung dalam rentang 12 jam, Andi tetap mendapatkan waktu istirahat terbatas dengan total sekitar satu jam, yang digunakan untuk makan, minum, dan memulihkan tenaga sebelum kembali mencukur.
“Capek pasti. Tapi semangatnya justru terus naik. Support mental dari keluarga, tim, dan teman-teman itu yang paling besar,” ujarnya.
Pencatatan Rekor oleh MURI
Direktur Operasional MURI, Yusuf Ngadri, dalam sambutannya sebelum penyerahan piagam, menyatakan bahwa kegiatan tersebut dicatat sebagai rekor baru, karena belum pernah ada sebelumnya di Indonesia.
“Malam ini kita menyaksikan lahirnya sebuah sejarah. Ini adalah usulan rekor baru yang sebelumnya belum ada. Pemangkasan rambut secara solo dalam satu rangkaian waktu ini menjadi standar baru dan tercatat dengan jumlah 377 kepala,” ujarnya.
Ia menegaskan, pencatatan rekor ini bukan semata soal angka, melainkan tentang dedikasi, konsistensi, dan ketekunan dalam menjalani profesi.
“Mas Andi akan menjadi standar bagi barber lain di Indonesia, sejauh mana kemampuan maksimal seseorang dalam menjalankan profesinya. Ini diharapkan bisa menginspirasi para barber untuk terus berkarya dan melayani dengan hati,” katanya.
Harapan di Masa Depan
Bagi Andi, pencapaian ini bukanlah akhir. Ia berharap apa yang dilakukannya dapat menjadi pemantik semangat bagi generasi muda, khususnya di Palangka Raya dan Kalimantan Tengah.
“Harapannya industri barber bisa berkembang lebih besar di sini, terutama untuk anak-anak muda kreatif. Jangan cepat puas, terus cari tantangan baru,” ucapnya.
Malam itu, Bundaran Besar Palangka Raya menjadi saksi lahirnya sebuah rekor, sekaligus perjalanan panjang seorang barber yang memilih berdiri selama berjam-jam demi membuktikan bahwa kerja keras, konsistensi, dan keberanian mencoba hal baru mampu mengharumkan nama daerah di tingkat nasional.











