Penemuan Jejak Misterius di Lokasi Pembangunan Pondok Pesantren
Di kawasan Panggul Kulon, Candirejo, Semanu, Gunungkidul, ditemukan jejak misterius yang diduga berasal dari kaki hewan liar. Jejak tersebut ditemukan oleh salah seorang pekerja bangunan pada akhir tahun lalu. Ukuran jejak itu cukup besar, sebesar telapak kaki sapi. Namun sayangnya, jejak tersebut kini telah hilang setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut.
Berdasarkan dugaan sementara, jejak tersebut kemungkinan merupakan jejak macan tutul. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa di Gunungkidul, khususnya di wilayah Girisubo, masih menjadi habitat bagi macan tutul meskipun jumlahnya sangat sedikit. Lokasi penemuan jejak berada sekitar 300 meter dari Jalan Raya Semanu-Jepitu. Akses menuju lokasi masih berupa jalan tanah berbatu, sehingga sulit dilalui kendaraan, terutama setelah hujan.
Salah satu pekerja yang pertama kali menemukan jejak adalah Heru Purwanto (56). Menurutnya, ukuran jejak itu sebesar telapak kaki sapi. “Jejaknya sudah hilang, diketahui 3 hari lalu. Jejaknya besar sekali seukuran telapak sapi. Tapi jejak itu sudah hilang karena kemarin kan hujan deras sekali,” ujarnya.
Heru juga menyebut bahwa dirinya yang merekam penemuan jejak tersebut. Rekaman tersebut kemudian dikirimkan ke sejumlah rekannya hingga viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, terlihat beberapa tapak berukuran besar yang berjalan tidak beraturan di sekitar penampungan air bersih menuju arah barat.
Sebelum jejak ditemukan, seorang operator alat berat juga mengaku melihat sosok mirip macan di sekitar lokasi pembangunan pondok pesantren pada pagi harinya. Menurut Heru, warga sekitar penemuan memang meyakini masih ada macan di kawasan hutan dan perbukitan karst yang ada di wilayahnya. Mereka percaya bahwa macan itu tinggal di goa yang ada di perbukitan karst.
“Ada dua lengnya (rumah) di daerah sini, goa ada terowongannya,” ujarnya.
Warga lain, Jono (60), yang lahir di Panggul Kulon, menyatakan bahwa keberadaan kucing berukuran besar sudah diketahui sejak kecil dan biasanya muncul pada musim kemarau. “Dulu sering melihat ukurannya besar, warnanya kuning hitam gitu. Pernah lewat tetapi saya diamkan saja, yang penting tidak mengganggu,” kata Jono. “Kalau dilempar yang menggeram,” tambah dia.
Pengecekan dan Monitoring
Koordinator Resort Konservasi Wilayah Gunungkidul, Tugimayanto, menyatakan bahwa pihaknya belum dapat memastikan jenis hewan tersebut karena minim data akibat jejak yang sudah hilang. “Setelah kami melakukan pengecekan, kami minim data, karena kebetulan jejaknya sudah hilang, kami tidak bisa mengukur besarnya. Belum bisa memastikan,” kata Tugimayanto.
Ia mengaku akan terus melakukan pemantauan di lokasi temuan jejak yang diduga harimau. Ia mengakui bahwa Gunungkidul masih memiliki habitat macan tutul, salah satunya di Girisubo. “Untuk jenis macan tutul masih ada tapi jumlahnya sangat sedikit. Tapi kalau keberadaan harimau sudah tidak ada. Jadi kalaupun ada itu mungkin jenis macan tutul, tapi itupun kami belum bisa memastikan,” jelasnya.
Ciri-Ciri Macan Tutul
Macan tutul adalah kucing besar liar bernama ilmiah Panthera pardus. Di Pulau Jawa, satwa ini dikenal sebagai macan tutul jawa (Panthera pardus melas), satu-satunya kucing besar yang masih tersisa di Jawa setelah harimau jawa punah.
Berikut ciri-ciri macan tutul:
– Tubuh ramping dan berotot, panjang ±1–1,5 meter (belum termasuk ekor)
– Berat sekitar 30–60 kg
– Bulu kuning kecokelatan dengan totol berbentuk roset
– Ada juga yang berwarna hitam (disebut macan kumbang) akibat melanisme
– Ekor panjang untuk menjaga keseimbangan
– Cakar dan gigi tajam, pemanjat pohon yang sangat baik
– Bersifat soliter dan nokturnal (aktif malam hari)
Habitat Macan Tutul di Jawa
Macan tutul jawa hidup di berbagai tipe hutan, antara lain:
– Hutan hujan tropis
– Hutan pegunungan
– Hutan jati dan hutan sekunder
– Kawasan taman nasional dan cagar alam
Habitatnya tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur. Satwa ini menyukai hutan lebat yang jauh dari aktivitas manusia, namun kadang mendekati permukiman akibat menyusutnya hutan.
Macan tutul jawa merupakan satwa dilindungi dan berstatus terancam punah, karena kehilangan habitat, perburuan, dan konflik dengan manusia.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."










