Sejarah dan Kehidupan Komunitas Yahudi di Maroko
Selama berabad-abad, komunitas Yahudi dan Muslim hidup dalam damai di Maroko. Di sana, kerukunan antarumat tidak pernah terganggu, meski secara emosional ikut terdampak perang di Gaza.
Museum Yahudi yang tersembunyi di kawasan perumahan Casablanca ini nyaris tak mencolok. Hanya seorang prajurit tunggal yang menjaga pintunya. Ia satu-satunya yang diketahui berdiri di dunia Arab. Di balik pintu, waktu seperti berhenti: foto-foto hitam-putih dari 1920-an dan 1930-an memotret para pengrajin, perayaan, dan kehidupan keluarga Yahudi Maroko. Gulungan Taurat, pakaian, dan manuskrip kuno berjejer di etalase, sisa dari masa ketika komunitas Yahudi pernah menjadi bagian besar dari negeri ini.
Hingga Perang Dunia II, sekitar 300.000 Yahudi tinggal di Maroko—dari total populasi 7 juta jiwa. Setelah Israel berdiri pada tahun 1948, sebagian besar memilih pergi. Kekerasan anti-Yahudi di Oujda dan Jerada pada tahun yang sama, yang menewaskan lebih dari 40 orang, menjadi salah satu pemicunya. Kini, sekitar satu juta warga Israel keturunan Maroko hidup di Israel. Di Maroko sendiri, tersisa sekitar 3.000 hingga 5.000 Yahudi, mayoritas di Casablanca.
Meskipun Yahudi merupakan minoritas yang kecil secara jumlah, sinagoga dan restoran kosher masih menjadi bagian dari pemandangan kota Casablanca hingga hari ini.

“Hal wajar ketika Yahudi, Kristen, dan Muslim hidup berdampingan”
“Yahudi merupakan bagian penting dari masyarakat. Mereka telah menciptakan hubungan khusus antara Maroko dan Israel,” kata sejarawan Maroko Jamal Amiar kepada majalah TelQuel.
Selama bertahun-tahun, kerajaan kesulitan untuk secara resmi mengakui hubungan khusus tersebut. Baru pada konstitusi 2011, budaya Yahudi diakui sebagai unsur yang memperkaya identitas Maroko, bersama dengan tradisi dan bahasa Amazigh, yang sering disebut sebagai bangsa Berber di masa lalu.
“Bagi kami, hal yang wajar ketika Yahudi, Kristen, dan Muslim untuk hidup berdampingan,” kata Brahim Dargha, seorang lelaki berusia empat puluhan yang bekerja sebagai sopir, dalam wawancara dengan DW.
Dargha adalah seorang Muslim dari Pegunungan Rif, wilayah terpencil di utara Maroko. Dia tinggal bersama seorang teman Israel di Casablanca, sambil dengan bangga menekankan warisan Amazighnya. “Kami, Yahudi dan Amazigh, adalah orang Maroko asli, orang Arab datang kemudian,” tambahnya.
Orang Yahudi pertama kali tiba di Maroko pada zaman kuno setelah kehancuran Bait Suci di Yerusalem, dan berbaur dengan penduduk asli Amazigh. Setelah Reconquista, penaklukan kembali Semenanjung Iberia oleh kerajaan-kerajaan Kristen dari Moor pada akhir abad ke-15, banyak warga Yahudi dari Spanyol mencari suaka akibat penganiayaan di Maroko.
Raja Mohammed V, yang memerintah negara tersebut pada saat itu, melindungi minoritas Yahudi di Maroko selama Perang Dunia II, setelah rezim Vichy memberlakukan undang-undang anti-Yahudi. Raja Mohammed V memperlakukan Yahudi seperti rakyatnya sendiri dan menentang ekstradisi mereka dari Maroko.
Namun, sepanjang tahun, hubungan antara komunitas yang berbeda tidak selalu bebas dari konflik. Terjadi serangan terhadap Yahudi, termasuk kekerasan pada tahun 1940-an dan serangan teroris yang dilakukan oleh pelaku bom bunuh diri terhadap institusi Barat dan Yahudi di Casablanca pada tahun 2003. Namun, bentuk koeksistensi telah berkembang.
Wisatawan Israel Enggan Berkunjung
Komunitas Yahudi di Maroko telah merasa tidak nyaman sejak 7 Oktober 2023, hari serangan yang dilakukan kelompok militan Hamas, yang dianggap sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat, Uni Eropa, dan negara-negara lain, serta perang Israel di Gaza yang terjadi setelahnya. Kini, turis Israel kini enggan berkunjung.
Penerbangan langsung antara kedua negara, yang telah beroperasi sejak penandatanganan Perjanjian Abraham dan pembentukan hubungan diplomatik resmi pada 2022, kembali dibatalkan. Semula, sejak perjanjian, Maroko menjadi destinasi populer bagi turis Israel. Sekitar 200.000 orang mengunjungi negara tersebut setiap tahun.
Hari ini, komunitas Yahudi terbelah antara tanah air Maroko dan identitas Yahudi mereka. Hingga saat ini, belum ada serangan tercatat terhadap warga Yahudi, tetapi seseorang membuat grafiti bertuliskan “bunuh Yahudi” di dinding restoran kosher di Casablanca.
Beberapa Yahudi merasa takut, sementara yang lain menekankan bahwa Yahudi hidup lebih aman di Maroko daripada di Eropa.
Tak sedikit yang memilih untuk diam.
“Saya tidak ingin mengatakan apa-apa,” kata seorang pedagang di sebuah toko di Casablanca yang menjual anggur kosher, camilan, dan produk ikan.
Namun, ada juga suara Yahudi yang secara tegas mendukung Palestina.

Ketakutan, Keheningan, dan Aktivisme
Sion Asidon, 77 tahun, seorang aktivis kiri terkenal di Maroko, pendiri organisasi Transparency Maroc, dan pendukung hak asasi manusia selama puluhan tahun, mengorganisir protes di pelabuhan Tangier menentang pengiriman suku cadang pesawat ke tentara Israel.
Pada Agustus 2025, Asidon mengalami cedera kepala dan tidak jelas penyebabnya. Dia koma selama beberapa bulan dan meninggal pada awal November 2025. Saat dimakamkan di pemakaman Yahudi di Casablanca, bendera Palestina dibawa di samping peti mati dengan tulisan Ibrani.
“Hal seperti ini hanya terjadi di Maroko,” tulis Ahmed Benchemsi dari Human Rights Watch di Twitter.
Bahkan sebelum 7 Oktober 2023, sebagian besar masyarakat Maroko sudah skeptis terhadap normalisasi hubungan dengan Israel. Dalam demonstrasi menentang perang Gaza, termasuk dalam aksi nasional anak muda bertajuk Gen Z 212 pada akhir September 2025, terdengar seruan untuk mengakhiri normalisasi dengan Israel.
Kesepakatan demi Sahara Barat
Namun, Raja Mohammed VI tetap berpegang pada Perjanjian Abraham. Kesepakatan itu mengatur kerja sama ekonomi dan dalam beberapa kasus, juga mengatur soal militer antara kedua negara. Hal ini tidak terlepas dari fakta bahwa pemerintah Maroko telah menerima konsesi politik penting sebagai imbalan atas kerja samanya dengan Israel, yakni pengakuan klaim Maroko atas Sahara Barat diterima oleh pihak Amerika Serikat.
“Saya tidak takut dengan demonstrasi melawan Israel,” kata Kobi Yfrah, pendiri inisiatif Kulna yang bekerja untuk melestarikan warisan Yahudi di Maroko, kepada DW.
Yfrah lahir di Dimona, Israel, dan pindah ke Marrakesh beberapa tahun lalu, yang menjadi tempat tinggalnya saat ini.
“Orang Maroko tidak melihat kami sebagai 100% Israel,” ucapnya. “Mereka melihat kami sebagai Yahudi Maroko.”
Namun, Yahudi Maroko menemukan diri mereka dalam lingkungan politik yang sulit.
“Sebagian besar orang Maroko saat ini tidak setuju dengan Rabat yang memiliki hubungan yang sama dengan Israel seperti sebelum 7 Oktober 2023,” kata sejarawan Jamal Amiar. “Ini bukan sekadar perpecahan, tetapi jurang yang sesungguhnya.”
Namun, ada juga suara-suara yang lebih optimis.
“Ada kerukunan yang sejati antara Muslim dan Yahudi di Maroko,” papar Jacky Kadoch, juru bicara komunitas Yahudi Maroko, kepada situs web Africanews. “Kerukunan ini akan bertahan melewati krisis ini juga.”

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











