Perjalanan Tahun 2025 yang Penuh Makna
Tahun 2025 sudah hampir berakhir. Desember kini di ujung bulan, dan setiap orang pasti memiliki cerita masing-masing tentang pengalaman pahit dan manisnya tahun ini. Tingkat perasaan tersebut tentu berbeda-beda tergantung pada kesabaran, kesiapan, dan ketahanan mental seseorang.
Bagi saya sendiri, tahun 2025 adalah tahun yang cukup menyita energi. Untuk sampai di akhir tahun ini, saya merasa harus banyak bersyukur karena hari-hari dilalui dengan penuh perjuangan. Mulai dari menjaga kesehatan, menahan ego, dan lebih sabar dalam menghadapi situasi, hingga kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang ternyata penuh makna dan hikmah dari perjuangan selama setahun.
Perubahan Hidup yang Menantang
Perubahan hidup yang cukup menantang terjadi sejak 2024. Pindah ke daerah pedesaan, resign dari pekerjaan lama, dan tidak lagi memiliki penghasilan tetap bukanlah hal mudah. Kehidupan saya berubah drastis, dan 2025 menjadi puncak perjuangannya. Rasanya dua tahun terakhir ini sangat berat. Jauh dari keramaian dan pusat kota membuat saya harus menekan keinginan untuk jalan-jalan atau bertemu kerabat seperti dulu.
Akses kendaraan yang sulit memaksa saya melepas beberapa job sebagai pembicara atau pemateri pelatihan kepenulisan yang biasanya menjadi sampingan. Permintaan menjadi ghost writer yang membutuhkan wawancara berkali-kali juga harus diserahkan kepada teman yang memiliki waktu lebih fleksibel. Job hilang dan penghasilan melayang, saya hanya bisa gigit jari di pojokan rumah yang kini tidak lagi berbatasan dengan tembok rumah tetangga, melainkan dengan kebun yang dipenuhi rumput dan pepohonan.
Lebih Bijak Memilah Keperluan dan Keinginan
Jika ada yang benar-benar saya inginkan, baik itu pekerjaan atau pergi ke tempat makan, harus menunggu suami punya hari libur. Di sini, berangkat ke suatu tempat tidak lagi bisa langsung klik pesanan kendaraan online. Mau makan enak ala resto pun tidak semudah dulu.
Di sini, kendaraan masih jarang. Tidak ada angkutan kota yang melintas di jalan—hanya ada ojek, itupun hanya sesekali lewat pagi hari saat para pemilik warung belanja keperluan ke pasar yang jaraknya kurang lebih 3 km. Jika order ojek atau taksi online, driver sering menolak karena titik jemput yang terlalu jauh. Rute perjalanan pun cukup sepi, rentan bahaya jika pulang kemalaman tanpa teman.
Saya harus menunggu pertimbangan suami untuk pergi. Izinnya mudah, suami tidak pernah mengekang apa yang menjadi kesenangan saya. Akan tetapi, ekspresi kekhawatiran jauh lebih terlihat jelas di wajahnya. “Ini jauh, harus sama Ayah. Kalau gak terlalu urgen, nanti saja ayah antar Sabtu atau Minggu ya,” katanya.
Jadi, hanya pekerjaan dan keperluan yang bisa dilakukan Sabtu/Minggu saja yang berhasil “diselamatkan” sebagai obat jenuh saya selama ini. Jika berhasil keluar dari rumah, itu adalah sebuah kebahagiaan yang sangat perlu dirayakan di awal-awal tahun 2025 dalam hidup saya yang sudah berubah.
Sabar dan Syukur yang Muncul dari Kesadaran dan Kedewasaan
Terus belajar sabar dari waktu ke waktu, akhirnya saya menemukan kedamaian tersendiri. Tetap diam di rumah malah terasa menjadi pilihan yang lebih aman dan nyaman. Terlebih jika ditilik dari segi agama Islam: tempat terbaik perempuan adalah di rumahnya. Agar terhindar dari fitnah, terhindar dari bahaya, dari kejahatan lelaki dan kekejaman dunia.
Sampai akhirnya saya sadar, menikmati alam pedesaan setiap hari adalah anugerah yang tidak terkira. Orang lain mungkin begitu sulit menemukan udara segar, menikmati sunyi yang tenang dan meredakan penat dari bisingnya kota. Lingkungan yang ramah penuh dengan kearifan lokal, sudah sulit ditemukan di perkotaan.
Pertengahan tahun perlahan saya mulai menemukan nyaman, meski belum sepenuhnya menerima. Saya mulai mencintai dunia saya sekarang. Membiasakan diri jalan kaki di luar meski di rumah ada treadmill. Saya semakin menekuni hobi menanam bunga, berkebun, jalan kaki pagi hari keliling desa dan menikmati udara segar pegunungan.
Selain itu, tanpa bepergian jauh dari rumah saya menjadi lebih produktif menulis, fokus pada keluarga, fokus belajar lagi, meningkatkan pengetahuan agama dan murojaah ayat. Memiliki waktu ibadah yang jauh lebih tenang dan tentunya lebih bisa memaknai hidup bahwa kebahagiaan tidak serta merta harus tentang pergi ke mana dan memiliki apa. Diam di rumah mungil dipedesaan dengan suami yang senantiasa menyiapkan segalanya adalah makna lain dari diratukan.
Saya tidak lagi harus bekerja keras mencari uang, karena hati sudah penuh dengan syukur. Saya kini sudah tidak peduli lagi dengan orang yang mempertanyakan, “mengapa lulusan S2 hanya diam di rumah saja?” Saya tidak lagi berambisi untuk memiliki dan mendapatkan hal yang bersifat fisik duniawi, sebab ternyata menghitung banyaknya nikmat dan karunia Allah pun sudah begitu banyak.
Terlebih ketika suami berkata, “dari rumah pun, ilmumu tetap akan bermanfaat.” Kalimat itu yang semakin menguatkan saya untuk terus menulis, menuangkan segala ide dan gagasan dalam berbagai bentuk tulisan.
Diam di rumah saya lebih sehat, saya pulih, saya lebih bahagia. Meski tidak banyak uang, asal tidak punya utang, saya sudah merasa sangat bersyukur. Meski tidak bisa nongkrong di cafe atau jalan-jalan ke mall sesering dulu, menunggu suami punya waktu untuk menemani adalah saat-saat yang penuh kebahagiaan. Mengambil job di hari Sabtu juga menjadi cara saya healing dan pergi dari rumah yang lebih menenangkan karena pasti ditemani suami. Saya bisa menikmati ruang yang lebih tenang dan lebih nyaman tanpa bisa saya bayangkan sebelumnya.
Pahit yang terasa berganti manis kemudian. Semoga 2026 hidup kami lebih berwarna, penuh syukur dan keberkahan.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











