Di Wonogiri, urbanisasi tidak hanya terjadi pada penduduknya, tetapi juga pada kupu-kupu. Inilah kisah pengamatan Drs. Seto Wardono, yang berhasil memancing kupu-kupu di Alas Kethu (Alas Ketu) atau Hutan Wisata Kethu.
Keunikan Hutan Kethu dan Kehidupan Kupu-Kupu
Bila kita berkunjung ke pegunungan yang masih subur hutannya atau ke lembah hijau yang belum rusak lingkungannya, biasanya kita akan menemukan berbagai tanaman berbunga yang dihinggapi oleh kupu-kupu. Bunga dan kupu-kupu seperti tak terpisahkan, saling menjalin hubungan yang serasi. Mereka juga sama-sama cantik, dan kecantikan mereka memberikan inspirasi bagi banyak orang, baik dari kalangan sastrawan, seniman, maupun pebisnis.
Wonogiri adalah kota yang sejak dulu terkenal sebagai kota gersang. Letaknya sekitar 32 km sebelah selatan Kota Solo. Nama “Wonogiri” berasal dari kata “wono” (hutan) dan “giri” (gunung), karena dulu kota ini didirikan di tengah-tengah hutan pegunungan. Ke mana pun mata kita arahkan, pandangan kita akan membentur gunung.
Sayangnya, suasana hutan dan gunung ini terus berubah. Pada musim hujan, hutan ini subur dan menghijau dengan air yang melimpah dan bunga-bunga yang bermekaran. Namun, pada musim kemarau, daun-daunan pohon rontok, tinggal cabang dan ranting saja yang gundul. Sumber air mengering dan tanah retak, membuat kondisi menjadi sangat sulit. Terutama di wilayah bagian selatan, Wonogiri sering diolok-olok sebagai kota gersang. Tapi, jika kita datang pada musim hujan, daerah ini menjadi surga bagi semua makhluk hidup – termasuk kupu-kupu.
Dua kilometer ke arah timur laut kota, ada Hutan Wisata Kethu yang masyarakat setempat menyebutnya sebagai Alas Kethu. Begitu masuk ke dalam hutan ini, saya langsung disambut oleh ratusan kupu-kupu yang beterbangan rendah. Kepakan sayapnya lemah dan pelan, seolah-olah mereka tidak takut pada manusia. Meski tidak begitu cantik, jumlahnya yang banyak membuat mereka menarik perhatian. Ukurannya kecil, dan sayapnya hitam kotor dengan bintik kuning di bagian tengahnya.

Setelah masuk lebih dalam ke hutan, terciumlah aroma harum bunga mahoni yang berjatuhan di atas serasah dedaunan. Suara itu seperti hujan gerimis. Saya tersentak kaget! Seekor kupu-kupu terbang menabrak muka saya. Mungkin kupu-kupu muda yang belum mahir terbang.
Sebagian besar kupu-kupu itu ternyata terbang keluar hutan pada pagi hari, saat matahari bersinar hangat, tapi kemudian kembali berbondong-bondong masuk ke hutan lagi setelah matahari condong ke Barat mendekati senja.
Setelah mengamati tingkah laku mereka berkali-kali, barulah saya temukan jawaban atas teka-teki “pergi keluar pagi-pagi dan pulang kembali sore-sore” itu. Ternyata mereka meninggalkan hutan untuk mencari nektar bunga di halaman rumah penduduk, dan setelah sore tiba, kembali ke dalam hutan yang hijau untuk berkembang biak.

Walaupun dalam Hutan Kethu itu sendiri terdapat pohon mahoni yang sedang berbunga, namun tidak seekor kupu-kupu pun yang mau mengisapnya. Mereka lebih suka melakukan ‘urbanisasi’ ke desa-desa yang tanaman pekarangannya sedang berbunga juga.
Mengamati ‘urbanisasi’ mereka itu, saya jadi ingat akan penduduk Wonogiri itu sendiri, yang sebagian besar juga melakukan urbanisasi ke kota besar seperti Jakarta, untuk mencari nafkah tambahan yang lebih baik. Sesudah sukses, mereka kembali ke Wonogiri lagi untuk membangun rumah-rumah yang bagus.
Perilaku Kupu-Kupu yang Berbeda
Hafal dengan tingkah laku kupu-kupu Hutan Kethu itu, saya makin ingin tahu, ke manakah mereka “mencari nafkah” di luar hutan itu? Salah seekor kupu-kupu saya temukan di halaman rumah penduduk, sedang hinggap di bunga anggrek tanah berwarna lila. Sayapnya putih kekuning-kuningan bergaris hitam lembut dengan titik merah pada pangkal sayap dekat tubuh.
Tidak jauh dari tempat itu ada pula kupu-kupu yang seluruh sayapnya hitam legam. Kadang-kadang mereka berebut hinggap pada kuntum bunga yang sama tadi, tapi kadang-kadang hinggap tenang pada daun bayam merah, yang tumbuh di tengah batu-batuan.
Ada pula sejenis kupu-kupu hitam dengan belang-belang putih dan sepasang bercak berwarna jingga, yang justru hinggap pada bunga putih. Warna sayapnya lalu menonjol sekali di latar belakang yang putih itu.
Di atas pohon belimbing yang sedang berbunga dan berbuah lebat, terlihat banyak juga kupu-kupu beterbangan. Dua ekor di antaranya bersayap hijau bening, dengan garis berwarna jingga yang melintang mulai dari bagian tengah badan sampai ke ujung sayap. Tubuhnya yang ramping bergerak luar biasa gesitnya. Mereka mengisap bunga sambil tetap terbang terus.
Ternyata tidak semua kupu-kupu mengisap bunga. Saya menemukan satu jenis yang hanya suka mengisap buah yang sudah masak pohon saja. Setelah saya amati beberapa lama, kurang lebih 12 ekor kupu-kupu hinggap di pohon belimbing. Bukan hanya sebentar, tapi berlama-lama. Anehnya, mereka tidak hinggap pada bunga, tapi bertengger pada buah yang sudah masak, sesekali meloncat terbang kalau ada gangguan, tapi kemudian hinggap lagi.
Buah masak yang sudah jatuh pun akan mereka isap sari buahnya yang manis. Secara iseng saya injak salah sebuah buah belimbing, sampai agak remuk dan mengeluarkan air. Lalu saya tinggalkan. Beberapa saat kemudian tiga ekor kupu-kupu hinggap pada buah gepeng itu dan mulai mengisapnya.
Menangkap Kupu-Kupu dengan Cara Unik
Matahari sudah beranjak ke atas kepala, sampai udara terasa menyengat dan peluh pun mulai bercucuran. Berteduh di bawah pohon yang rindang merupakan pilihan yang masuk akal. Untunglah, tidak jauh dari tempat saya berdiri ada pohon beringin. Ah, sejuk nian rasanya, berteduh di bawahnya.
Kalau ada angin bertiup dan dedaunan luruh, seringkali ada seekor kupu-kupu yang tertarik pada daun yang sedang melayang itu, lalu mengejarnya. Mungkin ia mengira menemukan teman sejawat yang sedang beraksi, terbang mejeng, tapi kemudian terkecoh.
Ini mengingatkan saya pada Dr. Tinbergen, seorang pakar tingkah laku binatang, yang pernah mengamati tingkah laku kupu-kupu grayling jantan. Kupu-kupu ini tidak hanya terangsang oleh kupu-kupu betina (untuk mengejarnya), tapi juga kupu-kupu jenis lain, baik yang lebih kecil maupun yang lebih besar daripada kupu-kupu grayling betina. Kadang-kadang bahkan burung juga dan daun gugur dari berbagai ukuran.
Iseng-iseng saya siapkan seutas benang yang selalu saya bawa ke mana pun saya pergi, bersama jarum untuk menambal jaring kupu-kupu kalau sedang rusak atau robek. Benang ini saya ikatkan pada ujung sebatang lidi. Ujung benang saya beri robekan kertas. Nah, jadilah joran pancing dengan umpan secuil kertas.
Dengan mengendap-endap, saya dekati seekor kupu-kupu yang sedang mengisap bunga kembang sepatu. Kurang lebih tiga meteran dari kupu-kupu itu joran lidi saya getarkan, sampai kertasnya meliuk-liuk seperti gerakan kupu-kupu. Benar saja! Seekor kupu-kupu hitam, dengan warna merah yang membentuk bulatan seperti segumpal embun di ujung sayap, datang mengejarnya. Saya tersenyum sendirian. Aih, alangkah indahnya!











