"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Apa Itu Gray Divorce? Ini Penyebabnya

Apa Itu Gray Divorce?

Gray divorce, atau perceraian usia lanjut, merujuk pada situasi di mana pasangan yang sudah menikah selama bertahun-tahun memutuskan untuk berpisah setelah mencapai usia 50 tahun. Fenomena ini semakin sering terjadi dalam beberapa dekade terakhir, dan memiliki dampak yang signifikan baik secara emosional maupun sosial.

Secara umum, gray divorce bisa disebut sebagai “empty-nest divorces” atau “silver separations”. Hal ini menggambarkan perasaan kehilangan yang dialami pasangan setelah anak-anak mereka dewasa dan tidak lagi tinggal bersama. Banyak dari mereka merasa bahwa hubungan mereka telah kehilangan maknanya, sehingga memicu keputusan untuk bercerai.

Menurut studi yang diterbitkan oleh National Center for Family & Marriage Research, tingkat perceraian di antara orang dewasa berusia 50 tahun ke atas meningkat dua kali lipat antara tahun 1990 dan 2010. Angka ini menunjukkan tren yang meningkat pesat dalam fenomena ini.

Mengapa Gray Divorce Marak Terjadi?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan gray divorce marak terjadi. Berikut adalah beberapa penyebab utamanya:

  • Rumah sudah kosong (Empty Nest):

    Setelah anak-anak dewasa dan pindah dari rumah, banyak pasangan merasa jarak emosional antara mereka semakin besar. Kehilangan kehadiran anak-anak bisa membuat pernikahan terasa hambar dan akhirnya berpisah.

  • Perceraian yang tertunda:

    Beberapa pasangan memilih menunda perceraian demi anak-anak mereka. Mereka berharap anak-anak akan lebih siap jika perceraian dilakukan setelah mereka dewasa. Namun, hal ini juga bisa memperpanjang ketidakbahagiaan dalam pernikahan.

  • Kehidupan karier menurun:

    Saat memasuki usia lanjut, banyak orang merasa kehilangan tujuan hidup karena pensiun. Ketidakpuasan terhadap masa pensiun bisa memengaruhi hubungan dengan pasangan.

  • Kebutuhan finansial:

    Masalah finansial bisa menjadi salah satu alasan perceraian. Jika hanya ada satu sumber pendapatan dalam rumah tangga, pasangan mungkin merasa terjebak dalam pernikahan yang tidak bahagia.

  • Ketidakpuasan dalam rumah tangga:

    Banyak pasangan mengalami ketidakpuasan karena adanya masalah seperti perselingkuhan, KDRT, atau kurangnya komunikasi. Hal ini bisa memicu keputusan untuk berpisah.

  • Perubahan budaya:

    Perubahan pandangan tentang peran gender dan harapan dalam pernikahan juga berkontribusi pada gray divorce. Dulu, pernikahan dianggap berhasil jika suami dan istri menjalankan perannya masing-masing. Namun, sekarang, pernikahan dihadapkan pada tuntutan yang lebih kompleks.

Apa Dampak Gray Divorce?

Gray divorce tidak hanya memengaruhi pasangan yang bercerai, tetapi juga berdampak pada anak-anak dan keluarga secara keseluruhan. Berikut beberapa dampak yang sering terjadi:

  • Dampak bagi laki-laki:

    Setelah bercerai, laki-laki cenderung kurang dekat dengan anak-anak mereka. Meskipun mereka mungkin tidak ekspresif secara verbal, mereka masih bisa menjaga hubungan melalui dukungan finansial.

  • Dampak bagi perempuan dan anak:

    Perempuan yang mengalami gray divorce biasanya lebih dekat dengan anak-anak, tetapi mungkin tidak bisa memberikan dukungan finansial yang sama seperti laki-laki. Perceraian bisa menciptakan ketegangan antara anak dan orang tua, bahkan bisa menyebabkan trauma.

FAQ Seputar Gray Divorce

Question: Siapa yang memulai gray divorce?

Jawaban: Perempuan lebih mandiri secara finansial. Lebih dari 60 persen perceraian di usia lanjut diprakarsai oleh wanita.

Question: Apakah perceraian merusak mental anak?

Jawaban: Perceraian dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan mental pada anak-anak dan remaja. Tanpa memandang usia, jenis kelamin, dan budaya, anak-anak dari orangtua yang bercerai mengalami peningkatan masalah psikologis.

Question: Kasus perceraian paling banyak karena apa?

Jawaban: Alasan perceraian terbanyak di Indonesia adalah perselisihan dan pertengkaran terus-menerus. Seringkali dipicu oleh masalah ekonomi (suami tidak bekerja atau tidak memberi nafkah), diikuti faktor lain seperti Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), perselingkuhan, hingga judi (termasuk online) dan salah satu pihak meninggalkan pasangan, dengan mayoritas kasus diajukan oleh istri akibat ketidakharmonisan dalam rumah tangga.

Faiqa Amalia

Jurnalis yang fokus pada isu pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Ia suka membaca buku motivasi, mengikuti seminar online, dan menulis rangkuman belajar. Hobinya adalah minum teh sambil menenangkan pikiran. Motto: “Pengetahuan harus dibagikan, bukan disimpan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *