Peran Perguruan Tinggi dalam Pengembangan Industri Nasional
BANDUNG, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Brian Yuliarto menegaskan bahwa arah kebijakan riset, inovasi, dan hilirisasi teknologi nasional saat ini memerlukan peran aktif perguruan tinggi dan industri dalam mendorong daya saing Indonesia. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan pameran hasil riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat (PRIMA) serta CEO Summit 2025 yang merupakan ajang yang mempertemukan dunia industri dengan hasil-hasil riset perguruan tinggi.
Pelaksanaan PRIMA sebagai ruang strategis dinilai penting untuk menjembatani riset akademik dengan kebutuhan nyata industri. Menurutnya, kolaborasi ini menjadi salah satu kunci dalam target pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen. Ia menyampaikan bahwa semangat optimisme sangat penting dalam menghadapi tantangan ini.
“Kita harus punya optimisme yang tinggi dan sekali lagi ini sangat tidak mudah sangat sulit, tapi pak presiden selalu berkata kita harus punya keinginan dulu, kalau keinginan saja sudah takut maka gak mungkin kita mengejar itu,” ujarnya saat pemaparan dalam acara PRIMA dan CEO Summit 2025, di ITB, Selasa (16/12/2025).
Menurut Brian, peran perguruan tinggi seperti Institute Teknologi Bandung (ITB) dinilai strategis sebagai lokomotif pengembangan industri berbasis sains dan teknologi. Ia menyebut Indonesia memiliki waktu sekitar 13 tahun untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap), dan kontribusi kampus teknologi seperti ITB menjadi sangat krusial.
Brian mencontohkan Pakistan sebagai negara yang berhasil menemukan ceruk industri strategis. Meski memiliki GDP perkapita yang lebih rendah dibanding Indonesia, Pakistan mampu membangun industri pertahanan yang kuat hingga menopang 40-50 persen perekonomiannya. Keberhasilan itu lahir dari kemampuan membaca kondisi geopolitik dan menemukan niche market (ceruk pasar) yang tepat.
“Bayangkan itu yang sedang kita kerjakan mencari kebangkitan industri yang cocok dengan kondisi Indonesia, jadi ini memang seluruh ahli dibutuhkan untuk menemukan dan saya rasa ini kesempatan ITB menemukan, mencari apa yang bisa kita temukan,” ucapnya.
Tantangan dalam Menghubungkan Riset dan Pasar
Menurut Brian, Kemendiktisaintek memiliki pekerjaan besar untuk mendorong hasil riset agar benar-benar masuk ke industri. Salah satu tantangannya adalah menjembatani perbedaan karakter antara dunia riset dan kebutuhan pasar. Menurut Brian, kebanyakan dosen dan kalangan kampus menilai produk-produknya sendiri yang paling canggih dan hebat. Padahal, market tidak terlalu suka.
“Makanya kami di kementrian menawarkan industri, saya selalu ketemu BUMN-BUMN, industri-industri, menawarkan, bapak perlu produk apa,” ujarnya. Pihaknya akan berupaya mencarikan penelitinya di kampus, termasuk di ITB.
“Karena kalau market sudah diidentifikasi, industri lebih paham bagaimana mengidentifikasi market, bahkan kita biayai risetnya ke dosen-dosen sepanjang produk riset itu bisa dipakai industri ini, ini yang kita sebarkan,” ucapnya.
Program Hilirisasi Riset 2022-2025
Lebih lanjut, Brian mengatakan, program Hilirisasi Riset 2022-2025, telah mendanai 3.653 kolaborasi dengan 2.734 mitra industri, dengan total pendanaan mencapai sekitar Rp 3 triliun. Dari total mitra industri ini jika satu persen saja sudah berhasil akan menjadi pencapaian yang signifikan.
“Satu persen saja, sudah berhasil saya sudah terimakasih. satu persen itu kan 27 industri, nah ini yang nggak mudah. Nilainya juga nggak sedikit, tiga triliun,” ucapnya.
Brian juga menekankan pentingnya tidak hanya mengejar paten, tetapi memastikan paten tersebut menghasilkan royalti. Berdasarkan data kementrian, sejumlah produk riset perguruan tinggi telah mencapai tingkat kesiapan teknologi (TRL) tinggi dan mampu menghasilkan pendapatan puluhan juta hingga mendekati miliaran rupiah.
Peta Jalan Riset Nasional
Brian juga memaparkan peta jalan riset nasional pada delapan industri strategis. Adapun bidang-bidang yang dibutuhkan yakni pangan, kesehatan dan energi, maritim, pertahanan. Selain itu ada digitalisasi (AI dan semikonduktor), manufaktur dan material maju, serta hilirisasi dan industrialisasi.
Ia berharap perguruan tinggi aktif berkontribusi dalam pengembangan sektor tersebut. Brian mengajak civitas akademika ITB untuk terlibat secara kolektif dalam pengembangan industri nasional. Menurutnya, pendekatan kolaboratif akan mempercepat lahirnya industri besar berbasis teknologi.
“Ini adalah power of braind, dan itu tempatnya disini di ITB dan kita harus punya tekad ya,” pungkasnya.
Ia juga mengapresiasi konsistensi pimpinan ITB dalam mendorong hilirisasi riset dan berharap lima hingga sepuluh tahun mendatang akan melahirkan industri-industri besar nasional.
“Ini kesempatan besar mari manfaatkan bersama bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk rakyat Indonesia, 300 juta rakyat Indonesia, mereka pasti akan sangat senang dan bahagia ketika kesejahteraan naik dan kebangkitan bangsa kita tinggi dan mereka bisa menyekolahkan anak-anak mereka dan itu bisa memberikan efek domino untuk kebangkitan bangsa kita,” ujarnya.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











