"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Pohon Sawit Tak Bisa Gantikan Fungsi Hutan, Ini Alasannya

Banjir di Sumatra: Kaitan dengan Kerusakan Hutan dan Perkebunan Sawit

Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra tidak hanya disebabkan oleh cuaca ekstrem, tetapi juga oleh kerusakan hutan dan alih fungsi lahan menjadi tambang serta perkebunan kelapa sawit. Para ahli dan pegiat lingkungan menilai bahwa deforestasi dan aktivitas perusahaan besar menjadi faktor utama dalam meningkatnya risiko bencana alam seperti banjir.

Perbedaan Mendasar antara Hutan Alami dan Perkebunan Sawit

Perkebunan kelapa sawit sering kali dikaitkan dengan hutan, namun para ahli menegaskan bahwa keduanya memiliki perbedaan mendasar. Hutan alami terdiri dari berbagai jenis tumbuhan dan satwa yang saling berinteraksi secara alami, sedangkan perkebunan sawit merupakan sistem monokultur yang hanya menanam satu jenis tanaman dalam satu kawasan luas. Hal ini menyebabkan keanekaragaman hayati dan fungsi ekologis yang jauh lebih rendah dibandingkan hutan asli.

Peneliti lingkungan Wong Ee Lynn menjelaskan bahwa perkebunan kelapa sawit tidak dapat dikategorikan sebagai hutan rimba atau hutan alam. Sistem monokultur ini tidak memiliki kompleksitas ekosistem seperti hutan. Ekosistem hutan yang beragam menyediakan keseimbangan alami untuk menjaga kesehatan tanah dan tanaman. Sebaliknya, perkebunan sawit memerlukan penggunaan bahan kimia seperti herbisida, insektisida, bakterisida, dan pupuk sintetis dalam jumlah besar untuk meniru cara alam melindungi tanaman.

Ancaman Deforestasi

Pembukaan lahan kelapa sawit sudah jelas merupakan bentuk deforestasi terhadap hutan-hutan alam. Perkebunan ini menjadi ancaman langsung bagi hutan, karena menghilangkan berbagai spesies tumbuhan dan satwa yang hidup di dalamnya. Selain itu, perkebunan sawit monokultur menyebabkan kerusakan parah pada tanah. Tidak adanya varietas tanaman di lahan sawit membuat jumlah spesies mikroorganisme dan bakteri menguntungkan di dalam tanah menjadi lebih sedikit.

Tanaman penutup tanah dihilangkan di perkebunan monokultur, sehingga menghilangkan perlindungan alami terhadap erosi tanah. Tanah yang terdegradasi menjadi tidak dapat digunakan untuk pertanian setelah beberapa tahun. Kehilangan perlindungan alami ini menjadi salah satu pemicu bencana seperti banjir bandang, di mana air tidak terserap maksimal ke dalam tanah, melainkan langsung menjadi limpasan permukaan yang merusak.

Boros Air

Lahan sawit juga dikenal sebagai tanaman yang boros air karena menyedot banyak sumber air. Tanpa lapisan tanah atas yang dapat meningkatkan retensi kelembaban, perkebunan monokultur memerlukan air dalam jumlah besar untuk irigasi. Air ini harus dipompa dari sungai, danau, dan sumber air alami lainnya, sehingga menguras habis sumber air tersebut.

Sebaliknya, hutan berfungsi sebagai daerah aliran sungai dan meningkatkan kualitas air dengan meminimalkan erosi dan menyaring polusi. Ini menunjukkan perbedaan peran yang sangat mendasar: hutan adalah penyaring air alami dan penjaga kualitas air, sedangkan perkebunan sawit justru menguras dan berpotensi mencemari sumber air.

Kerusakan Ekosistem Batang Toru

Bencana banjir di Sumatra Utara juga dikaitkan dengan kerusakan ekosistem Batang Toru atau Harangan Tapanuli. Ekosistem Batang Toru merupakan salah satu hutan tropis terakhir di Sumatera Utara yang membentang di wilayah Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara. Menurut Jaka Damanik, Manajer Advokasi dan Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Utara, kerusakan ekosistem tersebut menjadi pemicu utama banjir.

Menurut Jaka, penyumbang terbesar deforestasi di kawasan tersebut bukan berasal dari masyarakat, melainkan dari perusahaan besar yang bergerak di sektor pertambangan, perkebunan, dan industri energi. Dari total luas ekosistem Batang Toru sekitar 250.000 hektare, laju deforestasi meningkat hingga 30 persen dalam lima tahun terakhir. Kondisi tersebut dinilai semakin meningkatkan risiko bencana ekologis di wilayah Sumatra.


Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *