Inisiatif “Puisi bagi Korban Bencana Sumatera” Mengajak Masyarakat Berpartisipasi
Sejumlah sastrawan dan pegiat literasi menginisiasi gerakan yang diberi nama “Puisi bagi Korban Bencana Sumatera”. Gerakan ini bertujuan untuk mengumpulkan puisi dan ilustrasi dari masyarakat luas, yang akan diterbitkan dalam bentuk buku digital maupun cetakan terbatas. Seluruh hasil penerbitan akan digunakan untuk membantu korban bencana, termasuk para seniman dan sastrawan di wilayah terdampak.
Inisiatif ini diprakarsai oleh sejumlah tokoh seperti Ahmadun Y. Herfanda, Mustafa Ismail, Iwan Kurniawan, Dedy Tri Riyadi, dan Rintis Mulya. Mereka bekerja sama dengan berbagai komunitas literasi dan platform budaya seperti Info Sastra, Ruang Merdeka Inspira (RMI), Lingkar Sastra Jaksel, Litera.co.id, dan Tinemu.com. Para penggagas menekankan bahwa kegiatan ini bersifat sukarela, tanpa honorarium bagi kontributor, dan seluruh proses dilakukan secara gotong-royong.
Ahmadun Y. Herfanda menyampaikan bahwa karya sastra dapat menjadi medium penyintas untuk tetap merasa didampingi. “Di tengah kehancuran seperti ini, kata-kata bukan sekadar estetika. Ia adalah jembatan empati. Puisi selalu hadir bukan untuk menambal luka, tetapi untuk mengatakan bahwa kita hadir bersama mereka,” ujarnya.
Iwan Kurniawan menekankan pentingnya transparansi dalam kegiatan ini. “Setiap bantuan adalah amanah. Kami akan memastikan laporan penyaluran donasi dipublikasikan secara berkala dan transparan. Seni dalam kegiatan ini bukan tujuan akhir—ia pemantik untuk menggerakkan solidaritas nyata,” katanya.
Sementara itu, Rintis Mulya, yang mengoordinasikan pengelolaan karya dan donasi, menambahkan, “Partisipasi bisa dalam bentuk karya maupun donasi. Bagi yang tidak sempat menulis, berdonasi langsung adalah cara mudah untuk turut membantu. Kita ingin bergerak cepat, namun tetap tertib dan dapat dipertanggungjawabkan.”
Cara Berpartisipasi dalam Inisiatif Ini
Semua kalangan masyarakat dapat berpartisipasi dengan mengirimkan puisi dan ilustrasi, tidak hanya sastrawan dan seniman. Untuk kategori puisi, karya yang dikirimkan maksimal dua puisi, baik yang baru maupun puisi lama yang pernah dipublikasikan, selama relevan dengan tema “Bencana Suatu Ketika”. Karya dikirim dalam format Microsoft Word (doc.) dengan panjang maksimal satu halaman A4 per judul.

Seniman dan sastrawan menggalang pengumpulan puisi, ilustrasi, dan donasi bagi korban bencana Sumatera.
Untuk kategori ilustrasi disyaratkan hitam-putih, berukuran maksimal 14 × 20 cm, dikirim dalam format jpg, dengan jumlah maksimal 10 ilustrasi per kontributor. Karya dikirimkan melalui tautan tinyurl.com/puisipeduli paling lambat Jumat, 5 Desember 2025, pukul 23.59 WIB. Hasil kurasi akan diumumkan pada 8 Desember 2025 melalui akun Instagram @infosastra dan akun media sosial penggagas dan kolaborator.
Penerbitan Buku dan Penyaluran Dana
Buku “Puisi bagi Korban Bencana Sumatera” akan diterbitkan dalam dua bentuk: versi digital (pdf) yang dapat diakses luas, serta edisi cetak terbatas melalui sistem print-on-demand. Seluruh dana, baik dari penjualan maupun donasi langsung, akan disalurkan sepenuhnya untuk mendukung kebutuhan korban atau penyintas bencana.
Bagi masyarakat yang ingin berdonasi tanpa mengirim karya, panitia menyediakan rekening BRI 387 301 020 438 538 atas nama Rintis Mulyaning Ati, dengan konfirmasi bukti transfer melalui WhatsApp 0858 10000 646.
Dedy Tri Riyadi, inisiator lainnya, mengatakan gerakan ini bukan hanya menjadi bentuk ekspresi kolektif, tetapi juga menjadi aksi nyata yang mampu meringankan beban para korban. Melalui puisi, ilustrasi, dan donasi yang terkumpul, publik dapat mengambil bagian dalam proses pemulihan panjang yang harus dilalui Sumatra.
Data Bencana di Pulau Sumatera
Banjir bandang dan longsor melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Kamis, 4 Desember 2025, korban tewas akibat banjir dan tanah longsor di Pulau Sumatera itu tembus 836 jiwa. Selain itu ada sebanyak 518 jiwa dinyatakan hilang dan 2,7 ribu jiwa luka-luka.
Rinciannya, di Aceh jumlah korban meninggal berjumlah 325 jiwa, sementara 170 orang masih dinyatakan hilang. Di Sumatera Utara, 311 orang telah ditemukan meninggal dan 127 orang hilang. Adapun di Sumatera Barat, tercatat 200 orang tewas dan 221 orang belum ditemukan.











