"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Budaya  

Tiga Keuntungan Berlibur ke Kota Besar



Jika diberi pilihan antara gaji besar atau hidup nyaman, aku akan memilih keduanya sekaligus. Tapi, dalam kehidupan nyata, kita sering dihadapkan pada pilihan yang hanya bisa memilih satu. Itulah tantangan hidup yang terkadang tidak mudah.


Salah satu keputusan terberat dalam hidup adalah memilih pasangan hidup. Sebagai seseorang yang percaya pada pernikahan seumur hidup, memilih pasangan merupakan proses yang penuh pertimbangan. Namun, ketika sudah menemukan pasangan yang tepat, segala tantangan hidup lainnya bisa dihadapi dengan lebih ringan, termasuk urusan tempat tinggal.

Setelah lulus kuliah, aku berkesempatan bekerja sebagai guru di Surabaya. Gajiku cukup besar, sedikit di atas Upah Minimum Regional (UMR). Setelah menikah, syukurnya aku mendapat pekerjaan yang dekat rumah, yaitu di pinggiran kota. Hal ini sangat membantu dalam hal mobilitas dan juga dekat dengan orang tua di kampung.

Istriku pernah berkunjung ke Salatiga saat kuliah dan merasa betah dengan suasana kota kecil ini. Ia berdoa suatu hari nanti bisa memiliki suami dari Salatiga. Doa itu dikabulkan oleh Tuhan. Kami bersyukur karena kini tinggal di kota yang jauh lebih tenang dibanding kota besar.

Tantangannya, biaya transportasi untuk ke luar kota bisa sangat mahal. Apalagi jika harus pulang kampung ke Medan. Oleh karena itu, orang tua selalu menyarankan agar kami bekerja keras dan mencari penghasilan yang cukup besar agar bisa sering pulang kampung.

Pada akhir November, kami harus menghadiri pernikahan sepupu di Tangerang. Anak kami sudah cukup tinggi, sehingga harus membayar tiket full. Biayanya lumayan besar, baik pergi maupun pulang.


Perjalanan sembilan jam naik bus malam terasa cepat karena diselingi tidur. Pendingin ruangan di dalam bus membuat kami sedikit kehilangan kesadaran. Suhu di jalan raya berbeda dari tempat asal kami.

Meski pintu bus tertutup, aroma menyengat dari kali di sekitarnya masih terasa. “Parfum” khas kota besar. Warna airnya? Jangan ditanya! Lebih baik ditutupi dengan paranet di sepanjang kali.

Itu belum seberapa. Dalam beberapa hari ke depan, kami akan terbiasa dengan suhu panas, kemacetan, dan hiruk pikuk manusia. Setiap kunjungan ke kota besar seperti ini membuatku merenung. Masih jauh lebih enak tinggal di kota kecil.

1) Udara dan Air Bersih

Siang hari, langitnya kelabu meskipun tidak ada mendung. Asap kendaraan bermotor membuat langit tampak gelap. Malam hari, lampu gedung-gedung pencakar langit terang benderang. Jalan-jalan dipenuhi kendaraan yang pulang kerja.

Tidak ada kupu-kupu atau kunang-kunang sebagai tanda kualitas udara yang bersih. Pernah, sekitar 2017 aku berkunjung ke Bogor dan masih bisa melihat kupu-kupu di sekitar stasiun.

Di kota tempat aku tinggal, udara dan airnya masih bersih. Masih banyak kupu-kupu, burung, bahkan kadang kunang-kunang saat malam hari. Airnya juga cenderung bersih. Kali-kali di sekitar masih bening karena tidak tercemar polutan dari industri. Banyak sumber mata air yang bisa digunakan untuk berenang maupun bermain. Semoga kondisi ini tetap terjaga.

2) Rumah-Kantor Dekat

Salah satu pasangan suami istri dari kelompok persekutuan kecil kami bercerita bahwa meskipun memiliki mobil, suaminya memilih naik kereta ke tempat kerja. Perjalanan butuh setidaknya satu jam. Meski begitu, lebih cepat daripada menggunakan kendaraan pribadi. Dia memilih rumah di pinggiran yang harga terjangkau, meski jaraknya agak jauh dari tempat kerja. Risikonya, dia baru sampai rumah malam hari, terutama jika lembur.

Aku hanya butuh 10 menit untuk sampai ke kantor. Jam 3 sore sudah pulang. Bertemu dengan anak dan istri, lalu petangnya mengajar murid. Jarak rumah-kantor yang dekat membuatku bersyukur karena masih punya banyak waktu untuk dinikmati bersama keluarga.

3) Banyak Tempat Piknik

Setelah acara pernikahan sepupu, tulang dari kampung mengajak kami jalan-jalan ke Monas. Sudah jauh-jauh dari kampung, rugi kalau tidak jalan-jalan. Aku sudah pernah ke Monas, jadi tidak terlalu antusias.

Bersyukur ada mobil tulang yang bisa kami gunakan. Perjalanan hampir sejam. Tiba di loket bawah tanah, antrian sangat panjang. Panas dan sesak. Ini mau masuk monumen saja harus berdesak-desakan seperti itu.

Di Salatiga, banyak tempat wisata alam hingga buatan. Mulai dari yang gratis hingga berbayar. Ada area persawahan, taman kota, gunung, arena pacuan kuda, tepian rawa, air terjun hingga mata air untuk kolam renang. Gajinya kecil, tapi biaya piknik tetap terjangkau.

Bagaimana, kamu yang tinggal di kota besar, tertarik untuk staycation beberapa hari di kota kecil?

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *