Penyajian yang Menarik dan Mendalam
Lakon “Tangga Mimpi” yang disutradarai oleh Porman Wilson Manalu menjadi pembuka Festival Teater Indonesia (FTI) di Auditorium RRI, Jalan Gatot Subroto Medan, pada Senin 1 Desember 2025. Maemunah, diperankan oleh Ema Matondang, muncul dalam keadaan tersendu-sendu. Dalam lakon ini, ia berjuang melawan luka batin akibat hilangnya rumah panggung yang diwariskan oleh orangtuanya. Revolusi sosial pada tahun 1946 di Tanah Melayu telah menghancurkan semua yang pernah ia miliki.
Kisah ini menggambarkan kisah cinta antara Maemunah dan Satria, yang diperankan oleh Soekisno. Meskipun orangtuanya tidak merestui pernikahan mereka, Maemunah memilih untuk menikahi Satria karena cinta. Namun, kisah itu berakhir dengan kehilangan besar. Ayah, ibu, dan saudara-saudaranya “hilang” dalam revolusi sosial tersebut.
Namun, pengadeganan tentang revolusi sosial tidak ditampilkan secara langsung. Penonton hanya mendengar ocehan Satria dan melihat gambar api berkobar-kobar di layar proyektor. Tidak jelas bagaimana konteksnya. Dalam sejarah, diketahui bahwa revolusi sosial 1946 telah meluluh-lantakkan kekuasaan Raja Melayu di Tanah Deli.
Lakon ini diadaptasi dari cerita pendek berjudul “Rumah Panggung Bercalar” karya Agus Susilo. Dari interpretasi penulis, kisah ini dimulai seusai revolusi sosial. Maemunah dan Satria sudah berpisah selama belasan tahun. Ini adalah dampak dari revolusi bagi pasangan yang semula saling mencintai. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1960-an.
Maemunah tinggal sendiri, dibalut kenangan penuh luka. Ia tetap menjaga rumah panggung yang diwariskan ayahnya, meskipun penuh dengan kenangan bercalar alias berparut. Dalam suasana seperti ini, sosok dari masa lalunya, Satria, muncul kembali. Ia mengajak Maemunah untuk kembali membangun mahligai yang sempat pecah berderai. Di sinilah konflik terpantik. Namun, seluruh bujuk rayu Satria ditepis oleh Maemunah. Padahal, Satria mengaku sukses sebagai aktor yang memainkan Antigone dan King Lear. Bahkan, ia telah membangun berbagai gedung pertunjukan di berbagai kota, walau tak jelas apakah itu fakta atau hanya obsesi di benak Satria.
Sayangnya, konflik hanya dibangun dengan “kata-kata.” Tidak dalam bentuk pengadeganan, yang seyogianya membuat penonton terbuai menunggu ending dari konflik tersebut. Konflik dalam naskah drama adalah ketegangan yang menjadi penggerak utama cerita. Konflik ini penting untuk menciptakan alur, mengembangkan karakter, dan plot cerita.
Maemunah menghadapi konflik internal. Dalam dirinya berkecamuk perjuangan batin, seperti yang digambarkan dalam dialog Nyi Reso di drama Panembahan Reso yang bergulat dengan rasa takut dan kesepian. Tapi sekaligus Maemunah juga didera konflik eksternal: Pertentangan batinnya dengan ajakan Satria. Semestinya konflik membuat penonton terlibat dan penasaran tentang bagaimana penghabisan cerita atau lakon.
Konflik Nyi Reso dalam drama Panembahan Reso berakar pada ketakutannya kehilangan suaminya (Panji Reso) karena ambisi kekuasaan. Ia khawatir akan ditinggalkan dan dimadu jika Panji Reso berhasil menjadi raja, apalagi ia tidak bisa memberikan keturunan. Ketakutan itu mendorongnya untuk bertindak nekat dan membunuh suaminya dengan cara meracunnya. Eh, malah Panji Reso mendahului membunuh Nyi Reso sebagai penghalang ambisi kekuasaannya.
Konflik batin juga melanda Hamlet dalam lakon “Hamlet” karya Shakespeare tersebut. Hamlet diperintahkan oleh hantu ayahnya untuk membalas dendam kepada pamannya, Claudius, yang membunuh ayahnya, Raja Denmark . Ia terjebak dalam keraguan yang panjang. Dalam solilokui yang terkenal, Hamlet bergumam “to be or not to be.” Membunuh sang paman, atau tidak.
Namun roh ketegangan konflik dalam Hamlet dan Panembahan Reso itulah yang tak mengalir dalam “Tangga Mimpi.”
Lesu Darah
Saya kira kehampaan ini terjadi karena sutradara Porman Wilson agaknya terlalu setia kepada plot cerpen Agus Susilo. “Porman tidak berani mengeksplorasi plot cerpen, dan menjelmakannya dalam berbagai pengadeganan,” kata Teja Purnama, seorang penyair Medan. Padahal lakon “Tangga Mimpi” itu hanyalah adaptasi dari cerpen “Rumah Panggung Bercalar.” Mestinya, Porman bisa bebas untuk “mengobrak-abrik” plot cerpen tersebut.
Sebetulnya, modalnya sudah ada. Rayuan Satria yang manis semestinya bisa dieksplor begitu rupa sehingga penonton merasa Maemunah bisa tergoda. Suasana batin itulah yang dibangun menuju klimaks. Penonton merasa benteng pertahanan batin Maemunah yang kukuh memegang pesan ayahnya akan runtuh diperdaya janji gombal Satria. Namun di akhir adegan, terjadilah antiklimaks. Maemunah tak bergeser satu milimeter pun memegang amanah ayahnya.
“Nah, pengadeganan konflik ini yang tak terjadi,” kata Yondik Tanto, seorang pekerja teater di Medan. Malah dijejali dengan “perang kata-kata” yang sangat verbal antara Maemunah dan Satria. Dari dialog tersebut penonton sudah bisa menebak bagaimana akhir cerita. Penonton tak dibuat merasa surprise, dan menghela nafas ketika antiklimaks yang tak terduga terjadi.
Pekerja teater sekelas Porman sesungguhnya memahami itu. Apalagi reputasinya yang sukses dalam lakon “Dialog Kursi” dipentaskan oleh Teater Que, beberapa tahun silam, sempat melegenda di panggung teater di negeri ini.
Saya tidak tahu apa yang menyebabkan Porman kali ini seperti “lesu darah.” Padahal FTI diprakarsai oleh Titimangsa dan Penastri bekerjasama dengan Kementerian Kebudayaan, konon, ditopang bujet yang menggiurkan. Toh, masyarakat teater di Medan berharap empat grup lain yang tampil pada 1 hingga 3 Desember 2025 bisa memperkaya batin penonton.
The Show Must Go On
Bravo!***
Penulis adalah jurnalis di Medan
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











