"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Budaya  

Vampire Squid: Fosil Hidup yang Mengungkap Asal Usul Cumi dan Gurita

Masa Lalu yang Tersembunyi dalam Genom Vampire Squid

Di kedalaman laut yang gelap dan jarang terjangkau cahaya, hidup makhluk yang sering disebut sebagai ‘fosil hidup’. Hewan ini bergerak perlahan, memiliki tubuh yang lembut, dan gaya hidupnya sederhana. Namun di balik penampilannya yang menenangkan, vampire squid atau cumi-cumi vampir (Vampyroteuthis infernalis) menyimpan cerita evolusi yang sangat tua—sebuah jendela menuju masa ketika cumi-cumi dan gurita belum benar-benar berpisah.

Sebuah studi terbaru akhirnya mengungkap kisah tersebut melalui pemetaan genom secara lengkap. Hasilnya menunjukkan bahwa vampire squid menjadi penghubung penting antara dunia cumi-cumi dan gurita, dua kelompok hewan laut cerdas yang selama ratusan juta tahun berevolusi ke arah yang berbeda.

Jejak Keluarga Purba yang Tersembunyi dalam Genom

Studi ini mengungkap bahwa genom vampire squid menyimpan ciri-ciri yang dimiliki oleh cumi-cumi, sotong, serta gurita. Meskipun penampilannya mungkin mencolok dengan selaput seperti jubah berduri, sebenarnya ia adalah pemakan lembut yang hanya mengandalkan serpihan organik yang hanyut.

“Menariknya, di Jepang vampire squid disebut kōmori dako, yang berarti ‘gurita kelelawar’,” ujar Masaaki Yoshida dari Shimane University.

Meski secara resmi diklasifikasikan sebagai kerabat gurita, hewan ini mempertahankan pola kromosom kuno yang pernah umum pada nenek moyang awal kelompok cephalopoda berkulit lunak (coleoid). Temuan ini memperkuat teori bahwa gurita modern berevolusi dari leluhur yang lebih mirip cumi-cumi.

Ahli menjelaskan bahwa kelompok cephalopoda purba pernah mengalami peristiwa besar yang disebut ACCRE, yaitu restrukturisasi kromosom dalam skala ekstrem. Peristiwa inilah yang menciptakan lanskap regulasi baru, memungkinkan evolusi kemampuan kompleks seperti kecerdasan tinggi dan penyamaran. Kini, vampire squid membantu menjelaskan apa yang terjadi setelah peristiwa besar tersebut.

Pecahnya Keluarga Cephalopoda 300 Juta Tahun Lalu

Lebih dari 300 juta tahun yang lalu, cephalopoda bercabang menjadi dua kelompok besar: cumi-cumi dan sotong, serta gurita dan vampire squid. Meski ditempatkan dalam kelompok gurita, vampire squid masih memiliki struktur genom yang menyerupai kelompok cumi-cumi dan sotong.

Studi juga mengungkap bahwa genom gurita mengalami banyak fusi dan perombakan kromosom yang tidak dapat dibalik. Perubahan besar ini menjadi ciri khusus garis evolusi gurita setelah berpisah dari vampire squid.

Bukti lain menunjukkan bahwa kelompok vampyropoda purba—kerabat vampire squid—dulu menghuni beragam relung laut sebelum hampir seluruhnya punah. Kini, spesies ini menjadi satu-satunya pewaris hidup kelompok tersebut.

Genom Raksasa yang Stabil: Fosil Genetik di Laut Dalam

Salah satu temuan paling mengejutkan adalah ukuran genom vampire squid yang mencapai lebih dari 11 miliar pasangan basa—menjadikannya salah satu genom hewan terbesar yang pernah disekuensing. Yang lebih menarik, genom sebesar itu tetap stabil, tidak mengalami lonjakan fusi kromosom seperti yang terlihat pada gurita.

“Vampire squid berada tepat di antara gurita dan cumi-cumi,” kata Oleg Simakov, peneliti dalam studi tersebut.

Genom yang besar namun stabil ini membuat vampire squid layak disebut sebagai fosil genomik, karena mempertahankan susunan kuno yang telah hilang pada kerabatnya. Para peneliti juga menemukan bahwa unsur transposabel—elemen DNA yang dapat berpindah posisi—menyebar luas dalam genomnya, namun tidak merusak struktur dasarnya. Ini berbeda dari banyak spesies lain, di mana transposon biasanya mendorong kekacauan genom.

Warisan Genetik Sebelum Cumi-cumi dan Gurita Berpisah

Studi ini juga membandingkan genom vampire squid dengan gurita pelagis Argonauta hians, yang untuk pertama kalinya diuraikan secara lengkap. Hasilnya menguatkan bahwa nenek moyang awal cephalopoda memiliki pola kromosom yang lebih mirip cumi-cumi. Sementara itu, gurita modern mengalami periode tambahan restrukturisasi besar-besaran setelah berpisah dari vampire squid.

“Meski diklasifikasikan sebagai gurita, vampire squid mempertahankan warisan genetik yang lebih tua dari kedua garis keturunan tersebut,” jelas Emese Tóth dari University of Vienna.

Perubahan inilah yang menjelaskan mengapa gurita memiliki tingkat pencampuran kromosom yang lebih tinggi, yang kemudian memengaruhi sifat-sifat ikonik mereka seperti kemampuan manipulasi lengan dan hilangnya cangkang sepenuhnya.

Mengungkap Evolusi Cephalopoda Modern

Hasil penelitian ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana cumi-cumi dan gurita berkembang menjadi bentuknya saat ini. Para ilmuwan menyimpulkan bahwa nenek moyang bersama cumi-cumi dan gurita ternyata lebih mirip cumi-cumi, bukan gurita.

Perubahan besar terjadi bukan karena munculnya gen baru, tetapi karena perombakan kromosom dan regulasi gen. Sedangkan hilangnya cangkang pada gurita kemungkinan lebih dipengaruhi perubahan regulasi, bukan hilangnya gen struktural.

Vampire squid, dengan genom purba yang nyaris tak berubah, kini menjadi arsip hidup yang membantu ilmuwan memahami momen-momen evolusi yang hilang. “Genomnya memberi petunjuk yang telah hilang pada spesies lain,” ujar para peneliti dalam studi yang dipublikasikan di iScience.

Melalui spesies ini, ilmuwan kini dapat melacak bagaimana laut purba membentuk makhluk cerdas seperti cumi-cumi dan gurita yang kita kenal saat ini—sebuah perjalanan evolusi panjang yang akhirnya mulai terbaca kembali.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *