Pendekatan Inovatif untuk Pengembangan Ekonomi Berbasis Budaya di Kampung Naga
Program Pengabdian Masyarakat (Pengmas) yang dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (DIKTISAINTEK) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan ekonomi berbasis kearifan lokal. Salah satu inisiatif yang dikerjakan adalah upaya mengatasi langkanya pasokan Gula Aren melalui program berkelanjutan yang mencakup penanaman pohon dan pemasaran modern.
Program ini berlangsung selama sekitar empat bulan di Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu. Dibimbing oleh akademisi sekaligus pengabdi masyarakat, Deni Danial Kesa, program ini bekerja sama dengan kelompok tani dan pemerintah desa untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menjaga kelestarian tradisi pengolahan gula aren khas Kampung Naga.
Tradisi yang Tidak Terputus, Namun Menghadapi Tantangan
Kampung Naga dikenal sebagai salah satu desa adat yang mempertahankan tradisi pembuatan gula aren secara turun-temurun. Namun, di tengah perubahan pasar dan tuntutan standar kualitas yang semakin tinggi, para petani menghadapi tantangan dalam meningkatkan mutu, stabilitas harga, serta perluasan akses pemasaran.
Melihat kondisi tersebut, tim pengabdi menghadirkan program pendampingan berbasis peningkatan keterampilan teknis, manajemen usaha, dan inovasi pemasaran. Pendekatan program meliputi pelatihan pengolahan nira yang lebih higienis, peningkatan kualitas tekstur dan warna gula aren, efisiensi proses pemasakan, hingga strategi branding produk berbasis storytelling yang menonjolkan nilai budaya Kampung Naga.
Tujuan Utama Program: Memperkuat Daya Saing Produk Lokal
Ketua pelaksana program, Deni Danial Kesa, menjelaskan bahwa keberlanjutan ekonomi masyarakat adat tidak dapat dilepaskan dari kemampuan mereka beradaptasi dengan kebutuhan pasar modern tanpa kehilangan identitas budaya. Tujuan utama program ini, lanjutnya, adalah memperkuat posisi gula aren Kampung Naga sebagai produk unggulan lokal yang memiliki nilai budaya tinggi.
“Pendampingan dilakukan untuk memastikan para petani mampu meningkatkan kualitas produksi, memahami pengelolaan usaha, dan menciptakan daya saing yang lebih kuat di pasar yang semakin kompetitif,” ujar Deni dalam siaran pers.
Pelatihan yang Menyentuh Segala Aspek Produksi dan Pemasaran
Menurut Deni, program ini juga memberikan ruang bagi petani untuk memetakan potensi bisnis secara lebih terstruktur, termasuk pencatatan keuangan sederhana, analisis biaya produksi, dan pengembangan jaringan pemasaran ke toko oleh-oleh, pasar wisata, hingga platform digital.
Kelompok Tani Kampung Naga menyambut positif pendampingan ini, terutama karena selama ini proses produksi dilakukan berdasarkan tradisi keluarga tanpa panduan teknis modern. “Kami sudah lama membuat gula aren, tetapi banyak hal baru yang kami pelajari dari program ini. Kami berharap kualitas produk kami semakin konsisten, harga lebih stabil, dan pemasaran bisa menjangkau lebih banyak pelanggan. Kami ingin generasi muda di Kampung Naga tetap meneruskan usaha ini,” ujar perwakilan kelompok tani, Mulyadi.
Peran Pemerintah Desa dalam Mendukung Ekonomi Lokal
Para petani juga menilai bahwa program ini membantu mereka memahami pentingnya standardisasi dan identitas produk dalam menghadapi pasar yang semakin ketat. Mereka berharap kolaborasi seperti ini dapat berlanjut secara berkala.
Pemerintah Desa Neglasari menilai program ini selaras dengan rencana penguatan ekonomi desa adat berbasis produk lokal. Kepala Desa menyampaikan apresiasi atas keterlibatan akademisi dan berharap sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan perguruan tinggi dapat menjadi model pengembangan komunitas yang berkelanjutan.
“Gula aren adalah bagian dari identitas Kampung Naga. Program ini membantu masyarakat kami meningkatkan kualitas produk sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi. Pemerintah desa tentu mendukung penuh dan berharap dapat diperluas dengan kemitraan lainnya,” ujar Sekretrais Desa, Rukman.
Masa Depan yang Lebih Cerah untuk Kampung Naga
Arah ke depan dengan menjaga tradisi, memperkuat ekonomi. Program pengabdian masyarakat ini diharapkan mampu menjadi percontohan bagi pengembangan produk lokal berbasis budaya di berbagai desa adat di Indonesia. Melalui kolaborasi lintas pihak, Kampung Naga didorong untuk tidak hanya mempertahankan warisan leluhur, tetapi juga memanfaatkan peluang ekonomi baru di tengah perkembangan teknologi dan pasar digital.
Tim pengabdi juga berencana melakukan pendampingan lanjutan berupa pemantauan kualitas produksi, penguatan jejaring pemasaran, serta pengembangan model bisnis sederhana yang dapat diterapkan oleh kelompok tani. Dengan adanya inisiatif ini, gula aren Kampung Naga diharapkan tidak hanya menjadi produk konsumsi, tetapi juga simbol keberhasilan masyarakat adat dalam beradaptasi dan bertahan melalui inovasi berkelanjutan.











