Khutbah Jumat: Takwa dan Tawakal kepada Allah SWT
Dalam khutbah Jumat ini, khatib diminta untuk mengajak jamaah sholat Jumat agar selalu bertakwa dan bertawakal kepada Allah SWT. Sebab, dengan kita bertakwa kepada Allah SWT, niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka. Kemudian jika kita bertawakal kepada Allah SWT, kita akan selalu tercukupi.
Ayat-ayat Al-Qur’an yang Menjadi Dasar Khutbah
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah menciptakan (mewujudkan) apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” (QS ath-Thalaq: 2-3).
Ayat ini menjadi dasar utama dalam khutbah ini, yang menekankan pentingnya takwa dan tawakal dalam kehidupan seorang Muslim.
Hadis-hadis tentang Takwa dan Tawakal
Imam Ahmad dalam Musnadnya dan al-Hakim dalam al-Mustadrak meriwayatkan dari sahabat Abu Dzarr radliyallahu ‘anhu bahwa ia berkata:
Rasulullah SAW suatu ketika mulai membacakan kepadaku ayat “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar” (QS ath-Thalaq: 2), hingga beliau selesai membacanya, kemudian bersabda:
“Wahai Abu Dzarr, seandainya semua orang mengambil ayat ini (sebagai pedoman), niscaya ia cukup bagi mereka.”
Abu Dzarr berkata: Maka Rasulullah mulai membacanya dan mengulang-ulangnya.
Pengertian Takwa
Sebagaimana kita tahu bahwa takwa adalah menjalankan seluruh kewajiban dan menjauhi semua perkara yang diharamkan. Telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra bahwa ia berkata:
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menyelamatkannya di dunia dan akhirat.”
Dari sini, kita dapat memahami bahwa takwa bukan hanya sekadar menjalankan ibadah, tetapi juga menjaga diri dari segala bentuk maksiat dan dosa.
Dampak Dosa terhadap Rezeki
Sesungguhnya seseorang akan terhalang dari suatu rezeki sebab dosa yang dilakukannya. Beberapa ulama menyatakan bahwa perbuatan dosa akan menyebabkan seseorang terhalang dari berbagai macam nikmat di dunia, seperti kesehatan dan harta, atau hilangnya berkah dari hartanya, atau menyebabkan seseorang dikalahkan dan dikuasai oleh musuh-musuhnya. Oleh karena itu, sebagian orang berkata: Sungguh aku mengetahui siksa dan balasan atas dosaku dari perubahan keadaanku dan kawan-kawan yang menjauhiku.
Pengertian Tawakal
Dalam lanjutan ayat di atas, Allah menegaskan:
“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.”
Tawakal adalah bergantung kepada Allah semata dan mengandalkan-Nya dalam segala urusan, karena Allah Swt adalah pencipta segala sesuatu, pencipta manfaat dan mudarat. Tidak ada yang mengenakan bahaya dan memberikan manfaat secara hakiki kecuali hanya Allah.
Contoh Tawakal dalam Kehidupan
Imam Ahmad, Ibnu Majah dan al-Hakim meriwayatkan dari Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab radliyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: Aku mendengar Nabi SAW bersabda:
“Jika kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian seperti Ia memberikan rezeki kepada burung. Burung-burung itu keluar di pagi hari dalam keadaan perut kosong dan kembali ke sarang-sarangnya dalam keadaan perut yang terisi penuh.”
Tawakal Tidak Bertentangan dengan Usaha
Ma‘âsyiral muslimîn rohimakumulloh, Tawakal tidaklah bertentangan dengan melakukan sebab, ikhtiar dan usaha. Dalam Shahih Ibnu Hibban diceritakan bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Apakah aku melepas (tidak mengikat) untaku dan bertawakal kepada Allah? Maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya:
“Ikatlah dan bertawakkal-lah kepada Allah.”
Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman meriwayatkan dari pimpinan para shufi, al-Junaid al-Baghdadi ra bahwa ia berkata:
“Tawakal bukanlah bekerja atau tidak bekerja, tawakal adalah sesuatu yang adanya di hati.”
Jadi inti dari tawakal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah dan percaya penuh kepada-Nya disertai melakukan sebab, usaha dan ikhtiar.
Ketetapan Ajal dari Allah
Di bagian akhir dari ayat tersebut ditegaskan bahwa Allah telah menjadikan ajal bagi tiap-tiap sesuatu. Allah telah menakdirkan akhir dan ajal setiap sesuatu secara pasti sehingga tidak bisa dipercepat atau diundur. Seseorang yang mati karena dibunuh, orang yang mati sebab ditabrak mobil dan orang yang mati di atas kasurnya, masing-masing mati sesuai ajalnya, masing-masing meninggal dengan qadla` dan qadar Allah.
Allah Swt berfirman:
“Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun” (QS. al A’raf: 34).
Allah Swt juga berfirman:
“Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kukuh” (QS an-Nisa`: 78).
Penutup
Demikian khutbah yang singkat ini, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ











