"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Berita  

“Siapa yang Bakal Jadi Pemilik TikTok? Microsoft, Elon Musk, dan Startup AI Bersaing!”

"Perburuan Pemilik TikTok: Microsoft, Elon Musk, dan Startup AI Berebut Kepemilikan!"

Enrekangpost.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa Microsoft tengah berdiskusi untuk mengakuisisi TikTok. Dalam pernyataannya, Trump bahkan berharap ada “perang penawaran” untuk aplikasi media sosial yang populer tersebut.

TikTok, yang memiliki sekitar 170 juta pengguna aktif di Amerika Serikat, sebelumnya dihentikan layanannya karena undang-undang yang mewajibkan pemiliknya, ByteDance, untuk menjual aset TikTok dengan alasan keamanan nasional yang akan diberlakukan pada 2025. Namun, Trump menandatangani perintah eksekutif untuk menunda pemberlakuan undang-undang tersebut selama 75 hari.

Meskipun Trump menyebut keterlibatan Microsoft dalam diskusi tersebut, perusahaan yang dipimpin oleh CEO Satya Nadella ini menolak memberikan komentar. Ini bukan kali pertama Microsoft menjadi calon pembeli TikTok. Pada masa jabatan pertama Trump, Microsoft juga menjadi salah satu penawar utama untuk mengakuisisi operasi TikTok di Amerika Serikat. Namun, pembicaraan itu gagal setelah Trump meninggalkan jabatannya beberapa bulan kemudian.

Tak hanya Microsoft, Trump juga menyatakan keterbukaannya terhadap kemungkinan Elon Musk, CEO Tesla, untuk membeli TikTok. Namun, hingga kini, Musk belum memberikan tanggapan publik terkait tawaran tersebut. Bahkan, sebuah startup kecerdasan buatan bernama Perplexity AI juga mengajukan proposal untuk bergabung dengan TikTok. Dalam usulan ini, pemerintah Amerika Serikat dapat memiliki hingga 50% saham di perusahaan gabungan tersebut.

TikTok merupakan salah satu platform media sosial terpopuler di dunia, dengan basis pengguna yang sangat besar di Amerika Serikat. Menurut laporan Sensor Tower, TikTok memiliki 170 juta pengguna aktif di AS, sedikit di bawah Instagram dengan 131 juta pengguna. Hal ini menempatkan TikTok di atas platform seperti Snapchat (96 juta), Pinterest (74 juta), dan Reddit (32 juta). Dengan potensi monetisasi iklan yang sangat besar, TikTok dianggap sebagai aset digital bernilai tinggi.

Menurut analisis dari CFRA Research, nilai operasi TikTok di Amerika Serikat diperkirakan mencapai USD 40-50 miliar (sekitar Rp600 triliun-Rp750 triliun). Namun, angka ini lebih rendah dibandingkan valuasi sebelumnya sebesar USD 60 miliar pada 2024, akibat ketidakpastian geopolitik dan tantangan hukum terkait keamanan data. Selain Microsoft, konsorsium pengusaha termasuk Frank McCourt dan Kevin O’Leary juga menunjukkan minat untuk membeli TikTok dengan tawaran hingga USD 20 miliar (sekitar Rp 300 triliun) meski tanpa algoritma rekomendasi TikTok, yang menjadi salah satu elemen utama yang diwaspadai oleh pemerintah AS.

Namun, jika ByteDance memutuskan untuk menjual TikTok, pembeli potensial tidak hanya harus mengeluarkan dana besar, tetapi juga menghadapi pengawasan ketat terkait privasi data dan regulasi antitrust. “Ini bukan hanya soal uang, tetapi juga kemampuan untuk memenuhi standar regulasi yang sangat ketat,” ujar Andrew Selepak, profesor media dari University of Florida.

Dalam skenario ini, pemerintah Amerika Serikat juga memiliki andil besar. Trump sendiri telah mengusulkan agar pemerintah AS memiliki saham hingga 50% di perusahaan yang mengelola TikTok di Amerika Serikat sebagai bagian dari solusi jangka panjang.

Hana Zahra

Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *