Kondisi Warga Desa Nila yang Masih Terisolir
Desa Nila, yang terletak di Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menghadapi tantangan besar dalam hal akses transportasi. Ratusan warga setempat harus berisiko nyawa mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari. Mereka harus menembus cuaca buruk dan gelombang tinggi agar bisa mencapai ibu kota kabupaten.
Sampai saat ini, Desa Nila belum memiliki akses jalan darat atau jembatan yang memungkinkan warga untuk pergi ke Kota Ende. Hal ini membuat satu-satunya sarana transportasi yang tersedia adalah jalur laut menggunakan perahu kecil. Meski kondisi cuaca sering kali tidak menentu, warga tetap nekat melintas karena tidak memiliki pilihan lain.
Warga Desa Nila harus melompat dari tebing sambil memikul hasil pertanian yang akan dijual. Tujuannya adalah untuk menghindari terjangan ombak yang ganas. Kebiasaan ini menjadi rutinitas harian bagi warga, baik untuk keperluan ekonomi maupun mengakses fasilitas kesehatan dan pendidikan.
Kepala Desa Nila, Aleksius Sado, menyampaikan bahwa gelombang tinggi dan angin kencang menjadi penghambat utama aktivitas warga. Ia menjelaskan bahwa beberapa hari terakhir, transportasi laut tidak beroperasi akibat kondisi cuaca yang tidak memungkinkan.
“Sekarang di Desa Nila terjadi gelombang tinggi dan angin kencang yang melanda wilayah perairan selatan. Kami sangat susah mengakses transportasi laut karena sudah beberapa hari tidak beroperasi akibat gelombang yang terlalu tinggi dan deras,” ujar Aleksius.
Meskipun berbahaya, warga tetap memaksakan diri bepergian saat cuaca buruk karena tidak memiliki alternatif transportasi lain. Aleksius berharap pemerintah daerah segera membuka akses jalan darat bagi warga Desa Nila agar mobilitas masyarakat menuju Kota Ende dan fasilitas umum lainnya bisa dilakukan dengan aman dan layak.
Namun, harapan Aleksius dan ratusan warga Desa Nila sepertinya bakal pupus. Di tengah harapan agar bisa keluar dari penderitaan warga Desa Nila yang sudah puluhan tahun, Pemerintah Kabupaten Ende malah berencana membangun taman kota di Lapangan Pancasila, Kelurahan Kota Raja, Kecamatan Ende Utara.
Proyek tersebut direncanakan mulai dikerjakan awal tahun 2026 dengan anggaran sebesar Rp 12 miliar. Fasilitas yang akan dibangun antara lain wahana permainan air (water boom), kolam renang, lapangan tenis, bulu tangkis, sarana kebugaran, serta fasilitas olahraga lainnya.
Meski dialihfungsikan menjadi taman kota, Pemerintah Kabupaten Ende memastikan Lapangan Pancasila tetap dapat digunakan sebagai lokasi upacara-upacara kenegaraan. Hal tersebut disampaikan Bupati Ende, Yosef Benediktus Badeoda, usai meluncurkan Program Families for Life di Stadion Marilonga, Jumat (30/1/2026) sore.
“Tempat itu tetap jadi tempat apel. Semua fasilitasnya bersifat mobile dan bisa bongkar pasang. Kalau mau apel, tinggal diatur,” jelas Bupati Yosef.
Ia menyebutkan anggaran Rp 12 miliar tersebut berasal dari hasil penghematan anggaran pemerintah daerah yang sebelumnya direncanakan tahun lalu namun belum direalisasikan. “Kita mulai bangun tahun ini. Semua sudah diperiksa BPK dan sudah selesai, baru kita mulai bangun,” pungkasnya.
Lapangan Pancasila sendiri merupakan lokasi bersejarah di Kabupaten Ende. Pada tahun 2022 lalu, Presiden Joko Widodo memimpin upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di lapangan tersebut. Selain itu, Lapangan Pancasila kerap menjadi venue utama berbagai kegiatan besar, baik tingkat regional maupun lokal di Kabupaten Ende.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."










