"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Daerah  

Tangisan Remaja Bogor Pecah Saat Baca Puisi untuk Ayahnya, Korban Pesawat ATR: Insya Allah Papah Syahid

Kisah Haru Rafli Pratama Irawan, Anak yang Menangis Saat Membacakan Puisi untuk Ayahnya

Tangisan Rafli Pratama Irawan pecah saat ia membacakan puisi perpisahan untuk ayahnya, Ferry Irawan. Peristiwa ini terjadi di tengah upacara penghormatan untuk Ferry, seorang korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Sulawesi Selatan. Dengan suara bergetar dan air mata yang mengalir, Rafli mencurahkan perasaannya tentang kepergian sang ayah yang gugur dalam tugas negara.

Ferry Irawan adalah salah satu dari sepuluh penumpang pesawat ATR 42-500 yang ditemukan tewas setelah pesawat tersebut jatuh pada Sabtu (17/1/2026). Jenazahnya kemudian dibawa ke Jakarta dan dilepas secara langsung oleh Menteri KKP, Sakti Wahyu Trenggono. Ferry menjabat sebagai pegawai KKP dengan pangkat Penata Muda Tingkat I dan jabatan Analis Kapal Pengawas. Kepergiannya dalam tugas negara membuat keluarga dan rekan kerjanya merasa sedih dan kehilangan.

Di depan peti mati ayahnya, Rafli membagikan isi hatinya melalui puisi yang penuh makna. Ia menyampaikan rasa ikhlas meski masih terasa sedih. “Pah, hari ini aku berdiri di sini dengan hati yang belajar ikhlas meski air mata ingin jatuh,” ucapnya. Meskipun sedih, Rafli berusaha tegar dan mendoakan ayahnya agar wafat dalam keadaan husnul khatimah.

Rafli juga menyadari bahwa ayahnya gugur dalam tugas negara. Ia percaya bahwa itu adalah takdir terbaik dari Allah SWT. “Papah, aku percaya ini adalah takdir yang terbaik dari Allah SWT. Papa dipanggil saat sedang mengabdi menjalankan tugas negara melakukan pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan,” katanya. Ia berharap ayahnya mendapat ampunan dosa, terima amal ibadahnya, serta ditempatkan di sisi-Nya bersama orang-orang yang sholeh.

Setelah kepergian ayahnya, Rafli berjanji akan menjaga ibunya dan adiknya. “Aku berjanji pah, aku akan menjaga solatku, menjadi anak yang baik, anak yang sholeh, dan aku akan menjaga mama dan sayang dengan adik Radin,” tambahnya. Ia mengaku masih kecil, tetapi ayahnya telah memberinya teladan besar tentang keikhlasan, keberanian, dan menyerahkan segalanya kepada Allah SWT.

Pesan Terakhir Ferry Irawan

Sebelum insiden pesawat jatuh terjadi, Ferry Irawan sempat meninggalkan pesan terakhir kepada Ketua RT di kompleks perumahan tempat tinggalnya. Ari Fakhrizal, Ketua RT 06 Kompleks Mina Bhakti, menceritakan bahwa interaksi terakhirnya dengan Ferry dipicu oleh insiden lampu lapangan badminton yang pecah akibat bola yang terkena saat anak-anak sedang bermain.

Ferry merasa cemas jika pecahan lampu tersebut tidak segera dibersihkan, maka akan membahayakan anak-anak yang sering bermain di lapangan tersebut. “Beliau kan sibuk, jadi itu pesan ke saya, ‘Pak Ustaz, jagain anak (saya) ya,'” ujar Ari mengenang ucapan Ferry. Bagi Ari, permintaan itu mencerminkan kepedulian Ferry terhadap keamanan warga sekitar walaupun dia sendiri jarang berada di rumah karena tuntutan tugas negara.

Kehadiran Ferry Irawan di lingkungan tempat tinggalnya selalu diingat oleh warga sekitar. Ia dikenal sebagai sosok yang peduli dan memiliki jiwa tanggung jawab. Bahkan dalam keadaan yang sangat sulit, ia masih ingat untuk menjaga keselamatan anak-anak di sekitarnya. Pesan terakhirnya itu menjadi bukti bahwa ia selalu memikirkan orang lain, bahkan dalam situasi yang penuh tekanan.


Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *