"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Daerah  

Ibu 3 Anak Indriani: Detik-Detik Kebakaran Lahap 10 Ruko dan Rumah di Pasar Tangaran Sambas

Kebakaran di Pasar Simpang Empat, 10 Ruko dan 1 Rumah Hangus

Kebakaran yang terjadi di kawasan Pasar Simpang Empat, Kecamatan Tangaran, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, telah menyisakan duka mendalam bagi para korban. Peristiwa ini terjadi pada Minggu dini hari, 25 Januari 2026, sekitar pukul 04.00 WIB. Dalam waktu singkat, api menghanguskan 10 bangunan ruko dan 1 rumah, menyebabkan para penghuni kehilangan tempat tinggal serta sumber mata pencaharian mereka.

Pagi yang seharusnya sunyi berubah menjadi mencekam. Kobaran api dengan cepat membesar, memecah kesunyian, dan memaksa para penghuni ruko berhamburan menyelamatkan diri. Harta benda yang dikumpulkan bertahun-tahun lenyap dalam hitungan menit. Salah satu korban, Indriani, masih terlihat terpukul setelah peristiwa tersebut.

Indriani, yang sehari-hari berjualan apam pinang, mengaku terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara keras seperti gelas pecah. Awalnya ia mengira benda jatuh biasa, namun bau asap yang menyengat membuatnya tersadar ada bahaya besar mengancam. Saat asap mulai memenuhi rumah, Indriani dan suaminya langsung bergegas keluar menyelamatkan diri melalui pintu depan.

Ia bahkan sempat membunyikan tiang listrik di depan ruko untuk meminta pertolongan warga sekitar. Di tengah kepanikan, Indriani hanya mampu menyelamatkan satu unit sepeda motor yang berada di ruang tamu. Selebihnya, seluruh harta benda tak terselamatkan karena api sudah terlanjur merambat ke seluruh bangunan.

Ironisnya, kebakaran terjadi saat kondisi cuaca sedang gerimis. Namun angin yang cukup kencang membuat api justru semakin cepat membesar. Indriani juga mengungkapkan adanya sejumlah ledakan yang terdengar saat kebakaran berlangsung. Ledakan diduga berasal dari tabung gas yang tersimpan di dalam ruko.

“Awalnya belum ada ledakan, tapi setelah api membesar, ledakan terdengar berkali-kali. Di ruko saya ada beberapa tabung gas untuk jualan, di ruko lain juga banyak,” jelasnya.

Tak ada yang bisa dilakukan selain pasrah melihat api melahap tempat tinggal dan sumber penghidupan mereka. “Api sudah besar, mau masuk menyelamatkan barang juga tidak mungkin. Saya hanya bisa pasrah,” ucapnya dengan suara bergetar.

Warga sekitar sempat berupaya memadamkan api menggunakan alat seadanya sembari menunggu petugas pemadam kebakaran datang. Genteng dibunyikan sebagai tanda bahaya agar warga lain segera membantu. Petugas pemadam kebakaran dari Simpang Empat dan Sekura, Kecamatan Teluk Keramat, kemudian berdatangan. Namun proses pemadaman sempat terkendala keterbatasan air.

“Air di mobil pemadam cepat habis, sungai juga kering. Mereka bolak-balik ambil air, tapi api terus membesar,” jelas Indriani.

Api baru mulai bisa dikendalikan sekitar pukul 05.00 hingga 05.30 WIB, setelah petugas dan warga bergotong royong memadamkan sisa-sisa kobaran. “Pemadam tidak datang sekaligus, tapi satu per satu. Api sangat cepat membesar, jadi warga ikut membantu sebisanya,” pungkasnya.

Faktor-Faktor yang Memperparah Kebakaran

  • Cuaca Gerimis dan Angin Kencang: Meski terjadi saat gerimis, angin kencang membuat api cepat menyebar.
  • Ledakan dari Tabung Gas: Ledakan dari tabung gas di dalam ruko diduga memperparah kebakaran dan mempercepat kobaran api.
  • Keterbatasan Air: Petugas pemadam kebakaran menghadapi kendala keterbatasan air, sehingga proses pemadaman memakan waktu lebih lama.
  • Kepanikan Penghuni Ruko: Para penghuni ruko terpaksa meninggalkan harta benda mereka karena api yang cepat membesar.


Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *