"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Daerah  

Dua Waduk Kering, Mengapa Jakarta dan Bekasi Masih Banjir?



JAKARTA — Setiap kali Jakarta dan Bekasi kembali dilanda banjir, keberadaan Bendungan Ciawi dan Sukamahi di kawasan Puncak Bogor, Jawa Barat, sering menjadi sorotan. Dua bendungan kering yang digadang-gadang sebagai pengendali banjir ternyata masih belum sepenuhnya mampu mengatasi masalah banjir di wilayah hilir.

Penyebab Masih Terjadinya Banjir

Menurut Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane Kementerian Pekerjaan Umum (PU), David Partonggo Oloan Marpaung, penyebab utama banjir adalah belum selesainya normalisasi Sungai Ciliwung, terutama pembangunan tanggul. Ia menjelaskan bahwa meskipun debit air hujan telah direduksi oleh bendungan di hulu, air tetap mengalir ke bagian sungai yang belum dinormalisasi. Akibatnya, sejumlah kawasan masih berpotensi tergenang.

“Kenapa Sungai Ciliwung di Bidara Cina masih bajir? Karena belum selesai tanggulnya (normalisasi Sungai Ciliwung, termasuk pembangunan tanggul),” ujar David.

Dari total panjang normalisasi Sungai Ciliwung sekitar 33 kilometer, masih ada 16 kilometer yang belum dilengkapi tanggul. Untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut diperlukan anggaran sebesar Rp 1,2 triliun. Proyek ini sempat terhenti pada tahun 2019 dan akan dilanjutkan pada tahun 2026 mendatang dengan target penyelesaian pada tahun 2028.

Tantangan dalam Normalisasi Sungai Ciliwung

Salah satu kendala utama dalam proyek normalisasi Sungai Ciliwung adalah pembebasan lahan. Harga tanah di Jakarta sangat tinggi, terutama karena banyak lahan yang sudah memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM).

“Pembebasan lahan sih yang utamanya (kendala proyek normalisasi Sungai Ciliwung),” kata David.

Gubernur Jakarta Pramono Anung menyampaikan bahwa pemerintah provinsi telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 232 miliar untuk pembebasan lahan normalisasi Sungai Ciliwung di dua kelurahan. Dua kelurahan tersebut adalah Cililitan dan Pengadegan, masing-masing dengan anggaran sebesar Rp 111 miliar dan Rp 121 miliar.

Selain itu, Pemerintah Provinsi Jakarta juga akan melakukan normalisasi dan pembersihan Sungai Krukut sepanjang 1,3 kilometer. Tujuannya adalah untuk menyelamatkan daerah Kemang dan sekitarnya yang sering terkena banjir.

Profil Bendungan Ciawi dan Sukamahi

Bendungan Ciawi dan Sukamahi merupakan dua bendungan kering pertama di Indonesia. Bendungan Ciawi dibangun di wilayah Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dan berada di wilayah Sungai Ciliwung Cisadane. Dengan biaya konstruksi sebesar Rp 1,32 triliun, bendungan ini diresmikan pada 23 Desember 2022.

Secara teknis, Bendungan Ciawi dibangun menggunakan tipe urugan tanah zonal random dengan inti miring. Bendungan ini memiliki volume tampungan total 6,05 juta meter kubik dan volume tampungan efektif 5,03 juta meter kubik, serta luas genangan mencapai 39,40 hektar. Struktur bendungannya memiliki tinggi 55 meter, panjang 334,5 meter, dan lebar 9 meter. Manfaat utamanya berupa reduksi banjir sebesar 111,75 meter kubik per detik dan pengurangan debit Q50 dari 365 meter kubik per detik menjadi 253,25 meter kubik per detik.

Sementara itu, Bendungan Sukamahi yang juga berada di Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, dan masuk dalam wilayah Sungai Ciliwung Cisadane pada Daerah Aliran Sungai Cisukabirus. Biaya konstruksi yang dialokasikan sebesar Rp 673,45 miliar, dan bendungan ini diresmikan pada tanggal yang sama, yaitu 23 Desember 2022.

Dengan tipe bendungan urugan tanah zonal random berinti miring, Bendungan Sukamahi memiliki volume tampungan total sebesar 1,68 juta meter kubik dan volume tampungan efektif 1,38 juta meter kubik, dengan luas genangan 10,015 hektar. Dimensi bendungannya mencakup tinggi 50 meter, panjang 185 meter, dan lebar 9 meter. Bendungan ini memberikan manfaat berupa reduksi banjir 15,47 meter kubik per detik dan pengurangan debit Q50 dari 56,52 meter kubik per detik menjadi 41,05 meter kubik per detik.

Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *