Tempat yang Menginspirasi: Pasar Tradisional
Pasar tradisional sering kali dianggap sebagai tempat yang tidak menarik bagi sebagian orang. Namun, bagi banyak orang, pasar tradisional menjadi sumber inspirasi yang kaya akan cerita dan keunikan. Banyak yang mengira bahwa inspirasi datang dari tempat-tempat modern seperti kafe atau pusat perbelanjaan, namun bagi saya, pasar tradisional justru menjadi tempat yang penuh makna.
Saya terinspirasi oleh pasar tradisional karena adanya kehidupan sosial yang sangat dinamis. Mbak Inge, sesama kontributor sekaligus anggota Kampret (Hobi Jepret), memberi ide ini. Menurutnya, pasar tradisional adalah pusat berkumpulnya warga, sehingga kita bisa melihat bagaimana budaya berkembang di suatu kawasan.
Salah satu contoh pasar yang mengalami perubahan adalah Pasar Cihapit. Awalnya, pasar ini hanya digunakan untuk berbelanja sayuran dan buah-buahan. Setelah ditata oleh Kang Emil (nama panggilan Ridwan Kamil) dan teman-temannya alumni ITB, Pasar Cihapit kini menjadi destinasi kuliner yang populer, terlebih setelah viral di media sosial oleh food vlogger.
Pasar tradisional muncul karena kebutuhan masyarakat. Dulu, masyarakat Jawa kuno menggunakan sistem pasaran 5 hari (Kliwon, Legi, Pahing, Pon, Wage) yang menjadi cikal bakal pasar tradisional. Di beberapa daerah, sistem ini masih berlaku, seperti pasar tumpah yang diselenggarakan setiap hari Minggu di Jalan Burung Tungku Bandung, serta pasar tumpah setiap hari Rabu di Jalan Cinanjung, Kabupaten Sumedang.
Keunikan Pasar Tradisional
Pasar tradisional memiliki keunikan tersendiri. Misalnya, banyak pasar di Jawa Barat merujuk pada nama kelurahan atau kecamatan tempat pasar berada. Hal ini karena dulu pasar tersebut belum memiliki nama, sehingga digunakan nama kawasan sebagai identitasnya. Contohnya, Pasar Cihapit berada di Kelurahan Cihapit, Pasar Ciroyom di Kelurahan Ciroyom, dan seterusnya.
Pasar tradisional juga mengingatkan pada blog milik Dian Restu Agustina yang sering membahas topik ekonomi mikro. Berbeda dengan pasar modern yang dibatasi waktu, pasar tradisional tetap beroperasi hingga larut malam, menjadi penanda ekonomi kota yang tak pernah tidur.
Di pagi hari, ketika warga lain masih tertidur, para pedagang mulai menyiapkan dagangan mereka. Bahkan, di Pasar Ciroyom, pedagang sudah mulai berdatangan seusai salat Isya.
5 Pasar Tradisional yang Menginspirasi
Pasar Ciroyom
Jika Anda mencari sayuran murah di Kota Bandung, Pasar Ciroyom menjadi pilihan utama. Meskipun ada dua pasar induk, yaitu Pasar Caringin dan Pasar Gedebage, mayoritas pembeli lebih nyaman berbelanja di Pasar Ciroyom.
Namun, yang dimaksud adalah pasar yang berada di sepanjang Jalan Rajawali Timur, Jalan Arjuna, Jalan Pepetek, dan Jalan Waringin, bukan pasar di gedung bertingkat. Harga di Pasar Ciroyom sangat murah, misalnya pisang raja tanduk yang dijual Rp 10.000/kg, sedangkan di toko retail harganya Rp 15.000/buah.
Pasar Tanjungsari
Pasar Tanjungsari di Kabupaten Sumedang merupakan contoh pasar yang menjual barang eceran. Pembeli bisa membeli bawang merah dengan harga Rp 5.000. Salah satu keunikan pasar ini adalah adanya bakso home made yang diproduksi di kios-kios pasar.
Pasar Ngebuk
Meski kecil, Pasar Ngebuk di Yogyakarta menyimpan banyak nostalgia. Nama “Ngebuk” artinya konstruksi beton atau gorong-gorong, sehingga pasar ini berada dekat jembatan atau gorong-gorong. Penjual makanan bercampur dengan penjual sayuran dan sembako.
Pasar Senen
Pasar Senen di Jogja merupakan pasar tradisional terpanjang yang berdiri sejak tahun 1950-an. Di sini, pengunjung bisa menemukan berbagai jajanan tradisional maupun modern, seperti klepon, lopis, cenil, pisang bolen, dan fried chicken.
Pasar Pathuk
Berseberangan dengan Pasar Senen, Pasar Pathuk terkenal sebagai pusat bakpia. Terletak di kawasan Pecinan, pasar ini juga menjual kuliner khas Tionghoa seperti sate babi, bakso goreng, dan bacang. Pasar ini menjadi andalan wisatawan yang ingin membawa oleh-oleh.
Pengelolaan Sampah di Pasar Tradisional
Salah satu hal menarik yang saya temui di pasar-pasar di Jogja adalah pengelolaan sampah yang cukup rapi. Saya pernah melihat aktivitas petugas sampah yang bekerja dengan rapi tanpa meninggalkan bau. Berbeda dengan pengelolaan sampah di pasar-pasar di Kota Bandung yang sering kali kurang terorganisir.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”











