Pergerakan Smartwatch Co-Pilot Pesawat ATR dan Penjelasan Basarnas
Peristiwa pergerakan smartwatch milik co-pilot pesawat ATR 42-500 sempat menjadi sorotan publik. Dalam upaya mengungkap misteri tersebut, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) akhirnya memberikan penjelasan resmi terkait data yang ditemukan di perangkat elektronik korban.
Farhan Gunawan, salah satu dari 10 penumpang pesawat ATR 42-500 yang terbang dari Yogyakarta menuju Makassar, menjadi korban kecelakaan yang terjadi di kawasan Gunung Bulusaraung. Hingga saat ini, tim SAR Gabungan masih melakukan pencarian dan evakuasi korban. Berdasarkan informasi terbaru, dua jenazah telah berhasil ditemukan.
Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, memberikan klarifikasi mengenai adanya data aktivitas langkah kaki pada smartwatch milik Farhan. Sebelumnya, keluarga korban menemukan informasi bahwa perangkat tersebut masih mencatat sejumlah langkah setelah kecelakaan. Namun, Syafii menjelaskan bahwa rekaman itu tidak berasal dari waktu setelah insiden terjadi, melainkan jauh sebelumnya.
“Rekaman tersebut adalah data beberapa bulan lalu, ketika korban sedang berjalan-jalan di Jogja,” ujar Syafii dalam rapat bersama Komisi V DPR RI di Jakarta.
Ia juga menyampaikan bahwa pihak keluarga telah memahami penjelasan dari Basarnas. “Mereka sudah memahami, dan kita juga memahami perasaan keluarga, makanya informasi ini dibagikan,” tambahnya.
Proses Pencarian dan Evakuasi yang Memiliki Tantangan Berat
Meski telah mendapatkan penjelasan, proses pencarian dan evakuasi korban masih terus dilakukan. Tim gabungan menghadapi tantangan ekstrem karena lokasi kejadian berada di kawasan pegunungan dengan kondisi alam yang sangat sulit.
Medan yang terjal, dengan kedalaman sekitar 500 meter dari puncak gunung setinggi lebih dari 1.200 meter di atas permukaan laut, menjadi hambatan utama. Selain itu, cuaca yang tidak menentu, kabut tebal, dan perubahan cuaca yang cepat turut memperparah situasi.
Untuk mengatasi kendala tersebut, Basarnas menggunakan metode pencarian dan evakuasi khusus. Mereka memanfaatkan jalur darat serta dukungan udara melalui helikopter dan pesawat Caracal.
Syafii mengajak masyarakat untuk turut mendoakan keselamatan seluruh personel yang bertugas dalam operasi pencarian dan evakuasi. Ia menegaskan bahwa waktu krusial masih tersedia untuk menemukan seluruh korban.
Keluarga Korban Mengajukan Permohonan Kepada Presiden
Sebelumnya, keluarga Farhan Gunawan memohon bantuan kepada Presiden Prabowo Subianto. Permintaan tersebut muncul setelah data dari smartwatch milik Farhan menunjukkan adanya pergerakan langkah kaki meskipun pesawat telah jatuh.
Dalam sebuah video, seorang perempuan yang mengaku sebagai kakak dari Dian, kekasih Farhan, menjelaskan bahwa ponsel korban ditemukan di kawasan hutan dan diserahkan kepada Dian. Ponsel tersebut masih terhubung dengan jam tangan pintar yang dikenakan oleh Farhan.
Dari data yang tercatat, terlihat adanya aktivitas langkah kaki. “Pada Minggu pagi sekitar pukul 06.00 WITA, tercatat sejumlah langkah kaki, dan jumlah tersebut terus bertambah cukup signifikan hingga malam hari,” kata perempuan tersebut.
Berdasarkan temuan tersebut, keluarga meminta Presiden Prabowo untuk mengerahkan tambahan personel SAR. Mereka berharap kepala negara dapat membantu menyelamatkan Farhan. “Saya mohon sekali Pak Presiden Prabowo Subianto, selamatkan Farhan pak,” pintanya sambil terisak.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











