Pentingnya Dakwah dengan Kata yang Bijak dalam Islam
Berdakwah dengan kata yang bijak berarti mengajak pada kebaikan dengan cara yang lembut, cerdas, dan penuh hikmah. Contoh terbaik dari hal ini adalah Nabi Muhammad SAW, yang menggunakan bahasa yang sopan dan tidak kasar serta memperhatikan kondisi mad’u (yang diajak) agar pesan diterima dengan hati lapang, bukan menimbulkan permusuhan. Dalam tuntunan Al-Qur’an, khususnya QS. An-Nahl: 125, kita diingatkan untuk berdakwah dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdebat dengan cara yang lebih baik.
Pada hari Jumat tanggal 23 Januari 2026, umat Muslim akan melaksanakan ibadah Salat Jumat. Hari ini diyakini sebagai hari yang penuh keberkahan. Khutbah pada hari itu akan membahas tema penting tentang bagaimana seharusnya kita berdakwah, yaitu “Berdakwahlah dengan Kata yang Bijak”.
Prinsip-prinsip Berdakwah dengan Hikmah
Dalam khutbah pertama, disampaikan bahwa dakwah dengan hikmah (kebijaksanaan) adalah prinsip utama dalam menyampaikan pesan agama. Kita harus mampu menyesuaikan pesan dakwah dengan kondisi, situasi, dan kemampuan orang yang kita dakwahi. Tidak semua orang bisa menerima dakwah dengan cara yang sama. Sebagian orang mungkin memerlukan pendekatan yang lembut, sementara yang lain membutuhkan bukti-bukti yang rasional.
Nabi Muhammad SAW adalah contoh terbaik dalam berdakwah dengan hikmah. Ketika beliau berhadapan dengan seorang badui yang datang ke masjid dan buang air kecil di dalamnya, beliau menegur dengan lemah lembut dan memberikan pemahaman bahwa masjid adalah tempat yang suci. Sikap lembut Nabi ini membuat si badui merasa dihormati, sehingga ia menerima nasihat Nabi dengan hati terbuka.
Allah SWT berfirman:
“Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan.” (QS. Al-Ahzab: 45).
Ayat ini menunjukkan bahwa dalam berdakwah, kita perlu menyeimbangkan antara memberi motivasi dan peringatan. Kita harus bisa memberi kabar gembira tentang rahmat Allah, namun juga tidak melupakan untuk mengingatkan tentang ancaman bagi mereka yang melanggar perintah-Nya.
Prinsip-prinsip Berdakwah dengan Nasihat yang Baik
Kedua, dakwah dengan mauidhah hasanah (nasihat yang baik). Dalam berdakwah, kita diperintahkan untuk memberikan mauidhah hasanah, yaitu nasihat yang baik. Nasihat yang baik adalah nasihat yang disampaikan dengan penuh kasih sayang, tanpa ada unsur merendahkan atau menyakiti hati orang yang kita dakwahi. Allah SwT sendiri mengajarkan kepada kita dalam Al-Qur’an bahwa nasihat yang baik harus disampaikan dengan bahasa yang lembut dan sopan.
Lihatlah bagaimana Allah memerintahkan Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS ketika mereka diutus untuk mendakwahi Fir’aun. Allah berfirman:
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 44).
Bayangkan, kepada Fir’aun yang zalim dan sombong pun, Allah memerintahkan agar Nabi Musa dan Harun menggunakan kata-kata yang lemah lembut dalam menyampaikan dakwah. Ini adalah pelajaran besar bagi kita bahwa kelembutan dalam menyampaikan pesan kebenaran adalah cara yang efektif dalam berdakwah.
Prinsip-prinsip Berdakwah dengan Keteladanan
Ketiga, dakwah dengan keteladanan. Keteladanan merupakan bagian penting dalam dakwah bil ihsan wal mauidhah hasanah. Seorang dai bukan hanya dituntut untuk pandai berbicara, tetapi juga harus mampu menampilkan akhlak yang baik sebagai contoh nyata bagi orang lain. Inilah yang disebut dengan dakwah bil hal atau dakwah dengan perbuatan.
Rasulullah saw sendiri adalah contoh sempurna dari seorang dai yang berdakwah dengan keteladanan. Akhlak beliau yang mulia menjadi daya tarik yang kuat bagi banyak orang untuk menerima Islam. Allah SwT berfirman:
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan Islam dengan kata-kata, tetapi juga dengan perbuatan. Ketika beliau mengajarkan tentang kejujuran, beliau adalah orang yang paling jujur. Ketika beliau mengajarkan tentang kesabaran, beliau adalah orang yang paling sabar. Inilah yang membuat dakwah beliau begitu efektif dan mampu mengubah masyarakat Arab yang sebelumnya keras dan jahil menjadi umat yang mulia.
Penutup Khutbah
Berikut adalah penutup dari khutbah pertama:
“Barakallah liy wa lakum fi al-qur’an al-azhim, wa nafa’ani wa iyyakum bi ma fihi min al-ayat wa adhikr al-hakim, wa taqabbal minni wa minkum tilawa, innahu huwa al-ghafuru al-rahim.”
Khutbah kedua juga menyampaikan pesan serupa, dengan penekanan pada keimanan, kesadaran akan kekuasaan Allah, dan permohonan ampunan bagi seluruh umat Muslim.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











