"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Daerah  

Warga JGC Demo Tolak Kerusakan Jalan Akibat RDF Rorotan



Perumahan Jakarta Garden City (JGC) Menggelar Aksi Demonstrasi dengan Tiga Tuntutan Utama

Warga perumahan Jakarta Garden City (JGC) melakukan aksi demonstrasi terhadap pengembang dan pengelola kawasan. Puluhan warga dari cluster Shinano, Savoy, dan Mahakam menyuarakan tiga tuntutan utama yang mereka ajukan.

Tuntutan Pertama: Perbaikan Jalan dan Fasilitas Umum

Koordinator Aksi, Wahyu A. Maryono, menjelaskan bahwa tuntutan pertama warga adalah perbaikan jalan dan fasilitas umum di kawasan JGC. Ia juga menjabat sebagai Ketua Rukun Tetangga (RT) 18 – Rukun Warga (RW) 14 di kawasan tersebut. Menurutnya, banyak ruas jalan yang rusak dan berlubang, sehingga mengganggu kenyamanan warga sehari-hari.

Wahyu menyoroti bahwa kerusakan jalan sudah terjadi sejak masa pandemi covid-19 lalu. Sejak tahun 2022, warga terus-menerus meminta perbaikan, tetapi belum ada tindak lanjut yang serius dari pengelola kawasan. “Belum ada perbaikan yang benar-benar dilakukan oleh JGC, mereka hanya tambal sulam di beberapa tempat,” ujar Wahyu dalam aksi yang berlangsung pada Sabtu (17/1/2026).

Ia menambahkan bahwa kondisi jalan di kawasan ini membuat warga merasa seperti melintasi jalanan offroad. “Kami sudah meminta, sekian lama kami menuntut (perbaikan jalan).”

Tuntutan Kedua: Protes Dampak dari RDF Plant Rorotan

Tuntutan kedua yang disampaikan warga adalah memprotes dampak dari fasilitas Refuse-Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan. Menurut Wahyu, fasilitas pengolahan sampah ini mengganggu kesehatan dan kenyamanan warga, terutama karena bau yang ditimbulkannya.

Sejak uji coba pengoperasian fasilitas RDF Rorotan pada tahun lalu, bau sampah telah mengganggu masyarakat sekitar, termasuk tiga klaster di perumahan JGC. Warga sudah berulang kali mengajukan tuntutan ke Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta agar pengoperasian fasilitas ini tidak mengganggu kesehatan dan kenyamanan warga.

“(Bau sampah) sejak Mei tahun 2025 lalu. Kami sudah memberikan kesempatan empat kali. Memang ada sedikit perbaikan, misalnya yang tadinya cerobong hitam, sekarang sudah tidak ada. Tapi bau masih ada. Bukan kami tidak mendukung program pemerintah. Tapi kalau ada dampaknya kepada warga, terus terang kami menolak,” tegas Wahyu.

Dengan asumsi fasilitas RDF Rorotan mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari, maka ada sekitar 150-200 truk yang melintas setiap harinya. Sebelumnya, bau itu diduga berasal dari pengangkutan sampah. Namun, setelah sampah diangkut menggunakan truk tertutup, bau masih tercium warga. Wahyu menduga bau sampah bukan hanya berasal dari pengangkutan, tapi dari sistem pengelolaan di fasilitas RDF yang masih bermasalah.

“(Truk pengangkutan sampah) sudah tertutup. Tapi bau masih ada, walau tidak sedahsyat dulu. Warga (cluster) Shinano, Mahakam, Savoy sampai hari ini masih merasakan bau. Memang samar, terjadi tidak menentu, kadang pagi, sore, kadang malam,” ungkap Wahyu.

Jika bau sampah dari fasilitas RDF Rorotan tak kunjung teratasi, warga siap menggelar aksi demonstrasi di Balaikota Jakarta. “Kami mungkin akan menghimpun kekuatan yang lebih besar lagi aksi demo di Balaikota untuk menolak RDF,” tegas Wahyu.

Tuntutan Ketiga: Pengelolaan IPL yang Transparan

Selain dua tuntutan tersebut, warga juga menuntut pengelolaan cluster mandiri. Mereka menilai penggunaan dana Iuran Pengelolaan Lingkungan (IPL) tidak dilaporkan secara transparan. Oleh karena itu, warga menuntut adanya pengelolaan IPL secara mandiri.

“Kami menuntut supaya manajemen segera menyerahkan pengelolaan IPL kepada warga, supaya bisa membangun wilayah kami sendiri dengan baik,” kata Wahyu.

Tanggapan Pengelola JGC

Secara terpisah, perwakilan dari Pengelola JGC, Andika C. Umam, mengklaim bahwa pihaknya sudah menampung dan menindaklanjuti tuntutan tersebut. Andika mengatakan bahwa sebelumnya sudah ada pertemuan antara Pengelola JGC dengan warga pada bulan November 2025 lalu.

Dalam pertemuan tersebut disepakati bahwa perbaikan besar jalan di Kawasan JGC akan dilakukan pada bulan Juni 2026. “Sebelum itu kami lakukan perbaikan, lobang-lobang kami tutup, hingga kesepakatan perbaikan besar pada bulan Juni,” kata Andika.

Selain itu, Andika mengatakan bahwa pengelolaan mandiri di klaster Shinano akan dilakukan pada bulan Juni, melalui mekanisme yang juga harus dipenuhi oleh warga. Sedangkan mengenai bau dari fasilitas RDF Rototan, Andika enggan banyak berkomentar.

Andika bilang, pengoperasian fasilitas RDF Rototan menjadi kewenangan dari Pemda DKI Jakarta. “RDF bukan produk kami. Saya cuman kasih gambaran, kami sudah mediasi, sudah bicara ke pemerintah karena kan duluan kami sebelum ada RDF,” tandas Andika.

Aksi Simbolik dan Penanaman Pohon Pisang

Dalam demonstrasi ini, warga juga menggelar aksi simbolik berupa pembuangan sampah di depan kantor Sales Gallery JGC, serta penanaman tiga pohon pisang di jalan berlubang di depan AEON Mall.

“Waktu kami beli rumah di sini, di brosur tidak ada tulisan ‘dekat pabrik sampah RDF’. Kami bayar rumah ini (harganya) Rp 2 miliar lebih, dapat fasilitas kayak begini, abal-abal, developer-nya tidak mau tanggung jawab,” terang Wahyu.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *