"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Piala Dunia 2026 Terancam Batal, Ini Tiga Penyebabnya

Isu Kebijakan Imigrasi AS Jadi Sorotan Dunia

Salah satu pemicu utama kegaduhan menjelang Piala Dunia 2026 adalah kebijakan imigrasi Amerika Serikat yang semakin ketat. Pemerintahan Presiden Donald Trump diketahui terus menggencarkan operasi penertiban terhadap imigran ilegal, khususnya mereka yang berasal dari kawasan Amerika Latin. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran besar karena mayoritas negara peserta Piala Dunia 2026 berasal dari kawasan Amerika Tengah dan Selatan, seperti Meksiko, Brasil, Argentina, hingga negara-negara Karibia.

Selain itu, jutaan penggemar sepak bola dari kawasan tersebut diprediksi akan melakukan perjalanan lintas negara untuk menyaksikan turnamen secara langsung. Andrew Giuliani, pemimpin White House’s World Cup 2026 Task Force, menegaskan bahwa Presiden Trump tidak akan melonggarkan kebijakan imigrasi meski Amerika Serikat menjadi tuan rumah Piala Dunia. Sikap ini dinilai kontras dengan semangat FIFA yang mengedepankan keterbukaan dan inklusivitas.

FIFA sendiri memperkirakan Amerika Serikat akan kedatangan sekitar 5 hingga 7 juta pengunjung selama gelaran Piala Dunia 2026. Namun, kebijakan imigrasi yang ketat justru memunculkan rasa takut di kalangan calon penonton. “Saya membatalkan tiket Piala Dunia saya,” tulis Mohamad Safa, Direktur Eksekutif organisasi non-pemerintah Patriotic Vision, di media sosial X. Safa mengaku khawatir ditangkap aparat imigrasi Amerika Serikat tanpa proses hukum yang jelas.

“ICE bisa saja menuduh saya anggota geng dan menahan saya tanpa dakwaan, tanpa pengadilan, tanpa pengacara. Amerika Serikat tidak aman untuk dikunjungi,” tulisnya. Nada serupa disampaikan aktivis politik Ajamu Baraka. Ia menyebut bahwa dunia seharusnya memutuskan hubungan dengan Amerika Serikat, dimulai dari memboikot Piala Dunia. “Jika AS memilih mengisolasi diri dari dunia, mengapa dunia tidak membalasnya? Terutama ketika tindakan aparat imigrasi telah menelan korban jiwa,” tulis Baraka.

Kekhawatiran Keamanan Regional

Selain isu imigrasi, situasi keamanan di kawasan Amerika Utara dan Amerika Tengah turut memicu kekhawatiran. Pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut akan menargetkan kartel narkoba yang “menguasai Meksiko” membuat situasi semakin sensitif. Meksiko, yang menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026, kini berada dalam sorotan tajam. Kekhawatiran tersebut diperparah oleh langkah militer Amerika Serikat di kawasan Amerika Latin.

Pada awal Januari 2026, Trump memerintahkan operasi militer di Venezuela yang bertujuan menangkap Presiden Nicolás Maduro dan istrinya. Langkah agresif ini memicu keresahan di negara-negara tetangga dan menimbulkan ketegangan geopolitik baru di kawasan. Di dalam negeri Amerika Serikat sendiri, insiden penembakan terhadap Renee Good di Minneapolis oleh seorang petugas imigrasi ICE memicu kemarahan publik dan memperkuat persepsi bahwa keamanan di AS semakin memburuk.

Seorang pengguna X bernama Glenn Tunes menulis, “Negara yang setiap hari mengancam perdamaian dunia seharusnya tidak menjadi tuan rumah Piala Dunia atau Olimpiade.” Politisi Inggris George Galloway bahkan mengeluarkan pernyataan keras. “Hanya orang gila yang akan pergi ke Amerika Serikat untuk Piala Dunia. Anda beruntung jika bisa keluar hidup-hidup, bahkan jika Anda berkulit putih,” tulisnya.

Ancaman Terhadap Tim dan Suporter Iran serta Haiti

Kontroversi semakin memanas setelah diketahui bahwa Iran dan Haiti, dua negara yang telah memastikan lolos ke Piala Dunia 2026, masuk dalam daftar negara yang warganya dibatasi atau dilarang masuk ke Amerika Serikat. Iran mencatatkan partisipasi ketujuhnya di Piala Dunia, sementara Haiti kembali ke panggung sepak bola dunia setelah penantian 51 tahun. Namun, kebijakan larangan masuk tersebut berpotensi membuat suporter kedua negara tidak dapat hadir langsung mendukung timnya.

Presiden FIFA Gianni Infantino berupaya meredam kekhawatiran dengan menyatakan bahwa Amerika Serikat akan menyambut seluruh peserta Piala Dunia. “Amerika akan menyambut dunia. Semua orang yang ingin datang untuk menikmati dan merayakan pertandingan akan dapat melakukannya,” kata Infantino. Meski demikian, pernyataan tersebut belum sepenuhnya menenangkan publik internasional, terutama mengingat ketegasan pemerintah AS dalam menerapkan kebijakan imigrasi.

Penjualan Tiket dan Bayang-Bayang Boikot

Piala Dunia merupakan ajang olahraga paling populer di dunia. Pada edisi 2022 di Qatar, lebih dari 3,4 juta penonton hadir langsung di stadion. FIFA mencatat, hingga 5 Desember 2025, hampir dua juta tiket Piala Dunia 2026 telah terjual. Namun, angka penjualan tiket itu terancam stagnan jika gelombang boikot terus membesar. Banyak penggemar yang mulai mempertimbangkan ulang rencana perjalanan mereka, bukan karena sepak bola, melainkan faktor keamanan dan politik.

Situasi ini mengingatkan dunia pada Piala Dunia 2022 di Qatar, yang juga diwarnai seruan boikot akibat isu hak asasi manusia, perlakuan terhadap pekerja migran, serta kebijakan terhadap komunitas LGBTQ+. Meski turnamen tetap berjalan, tekanan internasional kala itu menjadi salah satu tantangan terbesar FIFA.

FIFA di Persimpangan Jalan

Kini, FIFA kembali dihadapkan pada dilema besar. Di satu sisi, Piala Dunia 2026 telah dirancang sebagai turnamen terbesar sepanjang sejarah dengan format 48 tim dan tiga negara tuan rumah. Di sisi lain, dinamika politik global dan kebijakan domestik Amerika Serikat berpotensi mengganggu esensi turnamen sebagai pesta sepak bola dunia. Belum ada pernyataan resmi dari FIFA terkait kemungkinan penundaan atau perubahan format penyelenggaraan. Namun, tekanan publik yang semakin kuat menunjukkan bahwa Piala Dunia 2026 tidak hanya akan menjadi ajang olahraga, melainkan juga panggung pertarungan isu politik, keamanan, dan hak asasi manusia di tingkat global.

Apakah FIFA mampu menjaga turnamen tetap berjalan sesuai rencana, atau justru harus menghadapi salah satu krisis terbesar dalam sejarah Piala Dunia, waktu yang akan menjawab.

FAKTA SINGKAT PIALA DUNIA 2026:

  • Piala Dunia 2026 akan berlangsung pada 11 Juni – 19 Juli 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, dengan format baru 48 tim dan total 104 pertandingan.
  • Pertandingan di Amerika Serikat (11 kota), Kanada (2 kota), Meksiko (3 kota)
  • Pertandingan pembuka Meksiko vs Afrika Selatan di Estadio Azteca, Mexico City.
  • Pertandingan terakhir akan digelar di MetLife Stadium, New Jersey
  • Pertandingan akan dimainkan mulai siang hingga malam waktu setempat.
  • Untuk penonton di Indonesia, jadwal kick-off berkisar antara pukul 23.00 WIB hingga 11.00 WIB dan bisa disaksikan di TVRI






Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *