"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

5 fakta menarik burung casqued hornbill hitam putih, penyebar biji hutan Afrika

Burung Enggang Afrika yang Menarik Perhatian

Burung enggang dikenal dengan paruhnya yang besar dan mencolok. Salah satu spesies yang menarik perhatian adalah black-and-white-casqued hornbill (Bycanistes subcylindricus). Burung ini memiliki tampilan yang khas dengan warna hitam-putih dan tonjolan paruh yang unik. Namun, daya tarik burung ini tidak hanya terletak pada penampilannya saja.

Di balik paruh besarnya, burung enggang ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan Afrika. Ingin lebih mengenal burung yang satu ini? Simak 5 fakta menarik tentang black-and-white-casqued hornbill berikut ini.

1. Burung Eksotis Asli Hutan Afrika



Black-and-white-casqued hornbill merupakan spesies burung enggang asli Benua Afrika. Mereka dapat ditemukan di Afrika Barat, Tengah, hingga sebagian Afrika Timur. Negara-negara seperti Sierra Leone, Liberia, Nigeria, Kamerun, Republik Demokratik Kongo, Uganda, Kenya, dan Tanzania menjadi rumah bagi burung ini. Bahkan ada satu populasi terpisah di Angola.

Habitat favoritnya adalah hutan tropis dan subtropis, baik di dataran rendah maupun daerah pegunungan. Burung ini sangat bergantung pada hutan lebat yang masih memiliki banyak pohon besar. Sebaliknya, keberadaannya jarang ditemukan di kawasan yang sudah rusak atau banyak campur tangan manusia, seperti perkebunan, savana kering, atau daerah perkotaan. Karena sangat sensitif terhadap kerusakan habitat, black-and-white-casqued hornbill sering dianggap sebagai indikator hutan yang masih sehat.

2. Penampilan Hitam Putih dengan Tonjolan Paruh yang Ikonik



Sesuai namanya, burung ini punya warna tubuh hitam dan putih yang kontras. Panjang tubuhnya bisa mencapai 60–70 cm, membuatnya terlihat cukup besar saat bertengger di dahan pohon. Bagian atas tubuh didominasi warna hitam, sementara bagian bawahnya berwarna putih bersih.

Ciri paling mencolok tentu saja paruh besar berwarna kuning kecokelatan dengan tonjolan keras di atasnya yang disebut balung (casque). Menariknya, balung ini berbeda antara jantan dan betina. Burung jantan memiliki balung yang lebih besar dan mencolok, sedangkan balung betina cenderung lebih kecil.

3. Pemakan Buah Sejati dan Penyebar Biji Andalan



Black-and-white-casqued hornbill termasuk burung frugivora, alias pemakan buah. Sekitar 90 persen makanannya berupa buah-buahan, terutama yang tumbuh di kanopi hutan. Mereka berpindah dari satu dahan ke dahan lain, memetik buah dengan ujung paruhnya, lalu menelannya secara utuh.

Burung ini diketahui mengonsumsi buah dari lebih dari 41 jenis tumbuhan. Setelah buah dicerna, bijinya akan dikeluarkan kembali bersama kotoran di lokasi yang berbeda. Proses ini membuat burung enggang berperan sebagai agen penyebar biji alami yang sangat penting bagi regenerasi hutan.

Meski dominan pemakan buah, burung ini juga mengonsumsi hewan kecil seperti serangga, burung kecil, kelelawar, siput, dan kadal. Asupan protein ini biasanya meningkat saat musim berkembang biak untuk memenuhi kebutuhan energi tambahan.

4. Setia pada Satu Pasangan dan Kawin di Musim Hujan



Black-and-white-casqued hornbill merupakan burung monogami yang hanya memiliki satu pasangan selama musim berkembang biak. Di Afrika Tengah, musim kawin terjadi antara Januari hingga Mei, sedangkan di Afrika Timur berlangsung sekitar Agustus hingga Maret. Pemilihan musim hujan bukan tanpa alasan, karena ketersediaan buah dan serangga sangat menentukan keberhasilan dalam membesarkan anak.

5. Drama Rebutan Sarang di Pohon Raksasa



Masalah terbesar bagi burung ini bukanlah soal makanan, melainkan sarang. Mereka bersarang di lubang alami pohon besar pada ketinggian 9–30 meter dari tanah. Pohon yang dipilih biasanya berukuran sangat besar, dengan keliling batang bisa mencapai lebih dari 3 meter.

Karena lubang alami seperti ini cukup langka, persaingan antarburung untuk mendapatkan sarang sangat sering terjadi. Setelah sarang ditemukan, pasangan enggang akan menutup pintu lubang dengan campuran lumpur, menyisakan celah kecil. Di dalam sarang tertutup itu, betina akan bertelur sekitar dua butir dan mengeraminya selama sekitar 42 hari. Selama periode ini, betina sepenuhnya bergantung pada jantan yang setia mengantarkan makanan. Dalam satu kali kunjungan jantan bahkan bisa membawa ratusan buah untuk betina, lho!

Hendra Susanto

Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *