"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Profil Aurelie Moeremans, Bintang Cantik yang Viral karena Buku dan Ancaman dari Mantan Penipu Masa Remajanya

Profil Aurelie Moeremans

Aurelie Moeremans adalah seorang artis yang kini sedang menjadi perbincangan publik, terutama setelah bukunya yang berjudul Broken Strings viral. Buku ini menceritakan pengalaman pahit masa lalunya, termasuk ancaman dari seseorang yang pernah memperdayainya saat ia masih remaja.

Nama lengkap Aurelie Moeremans adalah Aurélie Alida Marie Moeremans. Ia lahir pada 8 Agustus 1993 di Brussel, Belgia. Aurelie adalah anak pertama dari dua bersaudara, dengan ayah bernama Jean-Marc Moeremans dan ibu bernama Sri Sunarti. Ia memiliki seorang adik bernama Jeremie Moeremans.

Sebelum menetap di Indonesia, Aurelie tinggal bersama keluarganya di Belgia. Setelah merasa mantap untuk menekuni kariernya di dunia hiburan Tanah Air, ia memutuskan untuk pindah ke Indonesia. Kariernya dimulai sejak usia 14 tahun.

Pada usia 18 tahun, Aurelie menikah dengan Roby Tremonti, seorang pemain sinetron. Namun, pernikahan ini tidak diakui secara resmi oleh negara dan tidak dihadiri oleh orang tua mereka. Selain itu, Aurelie juga mengalami KDRT dari suaminya sendiri.

Ia mengaku pernah ditampar, dijambak, hingga diludahi oleh sang mantan suami. Akhirnya, pada tahun 2014, keduanya bercerai. Setelah itu, Aurelie dikabarkan dekat dengan penyanyi Marcello Tahitoe (Ello), namun hubungan keduanya kandas setelah Ello keluar dari penjara. Di awal tahun 2020, ia dikabarkan dekat dengan personel band pengiringnya, yaitu Dixie Gagah Pradana.

Akhirnya, Aurelie resmi menikah dengan Tyler Bigenho, kekasihnya saat ini. Kariernya dimulai dari ajang pemilihan model di Bandung. Pada tahun 2007, ia menjadi juara 1 dalam perlombaan modeling tersebut. Setelah itu, ia pindah ke Indonesia bersama keluarganya untuk mengejar mimpi sebagai artis.

Pada tahun 2008, meski belum fasih berbahasa Indonesia, Aurelie diberi peran pendukung di sinetron Hitam Putih sebagai adik dari aktor Ricky Harun. Sambil belajar bahasa Indonesia, ia juga terjun ke dunia iklan pada tahun 2009, yang kemudian membuat kariernya naik sebagai bintang iklan.

Ia juga pernah bermain dalam film garapan Guntur Soehardjanto yang berjudul LDR dan beradu akting dengan Ahmad Al Ghazali dan Verrell Bramasta. Selain berakting, Aurelie juga memiliki bakat menyanyi.

Pilihan Aurelie untuk terjun di dunia musik bukanlah keputusan mendadak. Sebelumnya, pada tahun 2009, ia sempat akan merilis album yang berisi 9 judul lagu, namun diurungkan karena hal-hal yang mendesak. Sukses sebagai aktris dan model, Aurelie menjajal dunia tarik suara dengan merilis single pertamanya yang berjudul “Here We Are” pada tahun 2019.

Tidak hanya sekadar menyumbangkan suara, Aurelie sendirilah yang menciptakan lagu “Here We Are”. Proses menulis lagu tersebut cepat sekali. Bisa dibilang, “Here We Are” menjadi lagu ciptaan Aurelie yang paling cepat jadi, mulai dari lirik hingga melodi.

Menempatkan “Here We Are” sebagai single pertama, Aurelie memilih penggunaan instrumen akustik dan medefinisikan musiknya sebagai “simple and sweet”.

Buku Broken Strings dan Pengalaman Masa Lalu

Setelah melepas masa lajangnya, Aurelie kini viral gegara bukunya yang menceritakan pengalaman pahit masa lalunya. Buku pertamanya yang berjudul Broken Strings mengisahkan perjalanan hidup Aurelie melewati masa kecil yang penuh tantangan serta pengalaman kekerasan yang pernah dialaminya.

Melalui unggahan panjang pada Senin, 27 Oktober 2025, Aurelie menceritakan berbagai pengalaman manis dan pahit yang ia rasakan setelah buku tersebut diterbitkan. Ia menyebut, Broken Strings telah menyentuh hati ribuan pembaca dari beragam latar belakang, mulai dari para penyintas kekerasan hingga generasi muda yang sempat kehilangan harapan.

“Banyak yang bilang buku aku, Broken Strings, nyelametin hidup mereka. Dan itu yang bikin semua perjuangan ini terasa berarti,” tulis Aurelie di akun Instagram pribadinya.

Namun, di balik respons positif tersebut, Aurelie juga harus menghadapi tekanan yang berat. Ia mengungkapkan bahwa sejak merilis buku perdananya, dirinya menerima ancaman, fitnah, serta hujatan dari sosok yang pernah memanipulasinya saat ia masih berusia 15 tahun.

Orang tersebut diduga menjadi inspirasi sekaligus latar belakang lahirnya buku Broken Strings. Aurelie menambahkan, dampak negatif dari situasi tersebut tidak hanya dirasakannya sendiri, tetapi juga menimpa sejumlah perempuan lain yang memberikan dukungan kepadanya.

“Walaupun setelah bukunya rilis aku diancam, difitnah, dan dihujat oleh orang yang dulu memperdaya aku waktu aku masih 15 tahun,” ungkap Aurelie.

Meski berada di bawah tekanan besar, Aurelie memilih untuk tetap tegar dan tidak membiarkan masa lalunya menghalangi langkahnya ke depan. Ia menegaskan bahwa luka lama dapat diubah menjadi kekuatan sekaligus sumber inspirasi bagi orang lain.

“Kalau luka yang dulu disebut aib bisa berubah jadi cahaya buat orang lain, maka semua rasa sakit yang pernah aku alami enggak sia-sia,” tulis Aurelie lagi.

Buku Broken Strings sendiri mengisahkan perjalanan hidup Aurelie melewati masa kecil yang penuh tantangan serta pengalaman kekerasan yang pernah dialaminya. Lewat buku tersebut, Aurelie menyampaikan pesan kuat bahwa luka masa lalu bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan, melainkan bisa menjadi cahaya bagi sesama.

Ia juga menegaskan komitmennya untuk terus bersuara demi para penyintas lain yang masih takut mengungkapkan kisah mereka. Banyak penggemar mengaku tersentuh membaca curahan hati Aurelie yang emosional namun penuh keteguhan.

Melalui momentum ini, Aurelie turut mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap isu kekerasan yang menimpa anak-anak dan remaja.

“Terima kasih buat semua yang udah baca, nangis, marah, dan sembuh bareng aku. Selama masih ada satu orang aja yang tersentuh, suaraku nggak akan padam,” tandasnya.

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *