Korban Banjir Bandang Lebak Masih Tinggal di Hunian Sementara
Di Kabupaten Lebak, Banten, sebanyak 104 korban banjir bandang yang terjadi pada tahun 2020 masih tinggal di hunian sementara (huntara) hingga kini. Mereka sudah bertahan selama enam tahun tanpa mendapatkan hunian tetap (huntap) dari pemerintah.
Banjir bandang tersebut terjadi pada 1 Januari 2020 dan mengakibatkan ratusan keluarga kehilangan rumah mereka. Saat itu, para korban ditempatkan di huntara yang berada di Kampung Cigobang, Desa Banjarsari, Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak. Namun, hingga saat ini, pemerintah belum membangunkan hunian tetap untuk mereka.
Pengalaman Warga yang Masih Tinggal di Huntara
Salah satu warga yang masih tinggal di huntara adalah Cicih, seorang perempuan berusia 40 tahun. Ia masih ingat betul janji pemerintah setempat saat masih berada di pengungsian. Pada tahun 2020, ia pernah didata dan diberi tahu bahwa dalam waktu enam bulan akan diberikan hunian tetap. Namun, sampai sekarang, janji tersebut belum direalisasikan.
“Rumah huntara saya sendiri yang bangun,” kata Cicih kepada [sumber] di Huntara Cigobang, Minggu (11/1/2026). Bangunan huntara miliknya terdiri dari dinding terpal biru dan atap anyaman daun kelapa yang dilapisi terpal biru. Menurut Cicih, pemerintah hanya memberikan lahan sementara, sedangkan bangunan harus dibangun sendiri oleh para korban.
Selain Cicih, ada juga Erum yang tinggal di huntara. Ia mengaku sudah bosan menunggu kepastian kapan akan dipindah ke hunian tetap. Erum menyebutkan bahwa korban banjir bandang di kampung sebelah yang masuk wilayah Bogor sudah lebih cepat mendapat hunian tetap.
“Korban di Bogor sudah lama dikasih rumah, huntaranya juga dibangun sama pemerintah, bukan terpal tapi bangunan pakai baja ringan,” ujar Erum. Ia juga menyebutkan bahwa beberapa kali pejabat datang ke huntara, namun hanya janji-janji yang diberikan.
Penghuni Huntara Menipis
Menurut Ketua RT Kampung Huntara Cigobang, Ajum, total ada 104 korban banjir bandang yang masih bermukim di huntara. Jumlahnya kini semakin sedikit karena banyak korban yang sudah membangun rumah sendiri atau memilih pindah ke Bogor.
“Sekarang tinggal 104 KK lagi, ada yang bangun rumah sendiri ada juga yang memilih pindah ke Bogor,” ujar Ajum. Ia mengatakan bahwa kabar terakhir yang ia dengar adalah pemindahan korban banjir bandang ke huntara sedang diproses, meskipun ia tidak tahu kapan akan dilakukan.
Kontras di Kawasan Huntara
Pemandangan yang tidak seimbang terlihat di kawasan huntara. Ruas jalan di perbatasan antara Provinsi Banten dan Jawa Barat viral di media sosial. Di satu sisi, jalan di Jawa Barat sudah diaspal, sedangkan di sisi Banten masih berupa tanah merah.
Erum mengatakan bahwa jalan di wilayah Bogor sudah diaspal sejak minggu lalu. Batas ujung aspal yang dikerjakan tepat berada di depan huntara miliknya. “Ujungnya banget ada di sini, di Lebak masih tanah, di Bogor sudah mulus,” ujar Erum.
Ia juga menyebutkan bahwa jalan di wilayah Lebak belum ada pembangunan sejak warga menghuni kampung huntara pada 2020 lalu. “Padahal, kami juga butuh untuk aktivitas ke kampung sebelah, untuk anak-anak ke sekolah, tetapi belum pernah dibangun,” tambah Erum.
Permintaan yang Belum Terpenuhi
Ketua RT Ajum mengatakan bahwa ia sudah berulang kali meminta pembangunan jalan dan juga hunian tetap bagi warga yang masih tinggal di huntara. Namun, hal itu belum kunjung dikabulkan.
“Kalau ada pejabat ke sini mulai dari gubernur, bupati, dan wakil bupati, kami pasti menyampaikan ingin huntap dibangun, atau minimal jalan, tetapi cuma janji-janji saja,” ujar Ajum. Ia juga menyebutkan bahwa hunian tetap di wilayah Bogor bisa dibangun dalam waktu kurang dari setahun, sementara di Lebak sudah enam tahun belum ada pembangunan.










