"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Jangan Terkejut, Maresca Dipecat, Juara Eropa Jadi Korban PHK di Chelsea



Pemecatan Enzo Maresca tidak mengejutkan, karena mengganti pelatih seolah menjadi kebiasaan di Chelsea dalam dua dekade terakhir.

Peracik taktik asal Italia tersebut dipecat oleh manajemen The Blues pada momen Tahun Baru, Kamis (1/1/2026). Enzo Maresca didepak setelah menjalani tugasnya selama 18 bulan sebagai pelatih Chelsea. Dalam waktu singkat, ia berhasil membawa klub meraih gelar UEFA Conference League dan Piala Dunia Klub 2025. Meski demikian, trofi level dunia tidak cukup untuk mempertahankannya di kursi pelatih.

Pemecatan eks pemain Juventus ini sempat membuat legenda Chelsea, John Terry, kaget. Ia menyatakan bahwa ada ketegangan antara manajer dengan pemilik klub, dan keputusan ini telah diambil.

“Menurut saya dari jauh, jelas ada ketegangan antara manajer dengan pemilik klub, dan mereka telah mengambil keputusan ini,” ujar mantan kapten Chelsea melalui akun TikTok.

“Ini sangat mengejutkan karena jika mundur tiga atau empat minggu yang lalu, kita bermain sangat baik melawan Barcelona.”

“Itu sangat bagus, dan jika kita maju empat minggu berikutnya, performa dan hasilnya jelas tidak cukup baik.”

“Saya pikir, seperti skuad, manajer sendiri juga kurang berpengalaman. Ini adalah pekerjaan penuh waktu pertamanya di level tertinggi, dan dia telah mengakui bahwa dia masih belajar dan kadang-kadang membuat kesalahan.”

“Tapi saya akan mengatakan selalu ada dua sisi dari sebuah cerita, dan tentu saja ada hal-hal di balik layar yang tidak saya ketahui.”

“Saya hanya mendengar desas-desus seperti orang lain. Saya kecewa, tapi masih banyak yang bisa diperjuangkan musim ini,” ujar Terry, dikutip dari Metro.co.uk.



Dari sudut pandang lain, seharusnya Terry tidak perlu terkejut dengan pemecatan Enzo Maresca. Pasalnya, keputusan untuk mengganti pelatih sudah menjadi tradisi di Chelsea dalam dua dekade terakhir.

Rezim Roman Abramovich maupun Todd Boehly sama-sama ganas. Maresca hanya korban terbaru dari sedikitnya kesabaran bos-bos Chelsea, meskipun sang nakhoda telah membawa kesuksesan.

Beberapa contoh lain termasuk Roberto Di Matteo yang kehilangan jabatannya hanya enam bulan setelah mempersembahkan gelar Liga Champions pertama bagi klub (2012). Thomas Tuchel juga mengalami nasib serupa tak lama setelah memberikan trofi Si Kuping Besar yang kedua kalinya bagi The Blues (2022).

Jika menghitung kiprah Carlo Ancelotti, Antonio Conte, atau Jose Mourinho, daftarnya akan terus bertambah. Winger Si Biru era 1980-an, Pat Nevin, sudah memahami tradisi PHK tersebut.

Kebanyakan dari pelatih yang terlibat konflik dan didepak petinggi Chelsea ialah mereka yang berpendirian teguh dan tidak mau diintervensi klub.

“Saya tidak terkejut atau tak sedikit pun kaget karena itulah cara Chelsea. Berapa banyak manajer yang berani menantang dewan direksi? Mereka membencinya,” ucap Nevin kepada BBC.

“Apakah dia (Maresca) sudah melakukan pekerjaan yang cukup baik? Saya pikir itu standar.”

“Anda bisa mengemasnya sebagai juara dunia dan meraih trofi level Eropa dengan tim muda.”

“Anda juga bisa mengatakan 1,6 miliar pounds yang dihabiskan untuk membeli pemain. Itu akan menjadi tim yang layak.”

“Saya merasa kasihan pada Enzo Maresca. Klub akan mencari (pengganti) seseorang yang melakukan persis apa yang diperintahkan dari atas.”

“Mereka akan mendatangkan seseorang yang masih muda dan mudah dimanipulasi. Chelsea menginginkan kesuksesan.”

“Mereka menginginkan poin untuk masuk empat atau lima besar dan lolos ke Liga Champions setiap musim.”

“Tapi mereka juga menginginkan sesuatu yang lain. Mereka ingin seseorang yang akan melakukan apa pun yang diperintahkan,” ujar Nevin lagi.

Musim ini di bawah asuhan Maresca, Reece James dkk menempati peringkat kelima di klasemen Liga Inggris dengan jarak minus 15 poin dari sang pemuncak, Arsenal. Adapun di Liga Champions, Chelsea bertengger di posisi 13, lima tingkat di bawah zona lolos otomatis ke babak 16 besar.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *