Kisah Dika, Bocah 10 Tahun yang Viral karena Menangkap Ular
Dika, bocah berusia 10 tahun asal Bandung, Jawa Barat, kini menjadi sorotan publik setelah video dirinya menangkap delapan ekor ular viral di media sosial. Namun, di balik keviralannya, ada kisah pilu yang menyelimuti kehidupan Dika.
Muhammad Nandika Saepulloh, atau lebih dikenal dengan nama Dika, tinggal di Kampung Dangdeur, Desa Kiangroke, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. Sejak usia muda, Dika telah menghadapi tantangan hidup yang tidak mudah. Ia memilih untuk menangkap ular sebagai cara mencari uang, demi membantu perekonomian keluarga.
Kehidupan Dika berubah sejak ia putus sekolah pada kelas 3 Sekolah Dasar (SD). Alasannya adalah seringnya ia menjadi korban bullying dari teman-temannya di sekolah. “Sering ditonjok,” ujar Dika ketika ditanya alasan ia berhenti bersekolah. Hal ini juga didukung oleh pengakuan ibunya, Reka Noviyanti (25), yang mengatakan bahwa Dika sering merasa tidak nyaman dan akhirnya memutuskan untuk tidak lagi pergi ke sekolah.
Kesibukan Dika dalam Mencari Ular
Reka mengaku sangat cemas saat mengetahui anak sulungnya sering berburu ular di sawah. Pada awalnya, ia sering memarahi Dika dan melarangnya menangkap ular. Namun, karena kecintaan Dika terhadap ular, Reka hanya bisa memberikan peringatan agar tetap berhati-hati.
“Pasti ada (rasa khawatir). Sering dimarahin, jangan nangkap ular terus, takut nggak tahu mana ular yang berbahaya dan berbisa. Dia tahu-tahu nangkep ular lagi. Tapi alhamdulilah juga tahu mana ular yang bahaya dan nggak,” katanya.
Sebagai anak pertama dari empat bersaudara, Dika dikenal seperti anak-anak biasanya. Namun, ia memiliki minat yang unik, yaitu bermain di luar rumah dengan ular, bukan bermain gawai seperti teman-temannya. Dika tidak hanya menangkap ular, tapi juga biawak dan jenis reptil lainnya. “Semua pada takut ular, tapi engga tahu mana dia bisa nangkap ular,” ujar Reka.
Cita-Cita dan Julukan Baru
Menurut Reka, Dika memiliki cita-cita untuk menjadi pawang ular. Meski demikian, ia berharap keviralannya bisa menjadi titik balik yang baik bagi Dika. Terlebih, Dika sudah putus sekolah sejak usianya masih delapan tahun. “Harusnya naik kelas 5, kelas 4 sekarang. Putus sekolahnya itu kelas 3. Ya pengennya kalau bisa sekarang sekolah lagi, kalau bisa berhenti juga ngambil ular, khawatir saya,” ujarnya.
Dika viral setelah videonya membawa 8 ekor ular sekaligus beredar di media sosial. Dalam video tersebut, Dika tampak tenang dan tidak menunjukkan rasa takut sama sekali. Ia membawa dua ekor ular di kedua tangannya, sementara enam ekor lainnya ia masukkan ke dalam baju. Awalnya, ia menjual ular-ular tersebut dengan harga Rp 100 ribu, namun pembeli kemudian menawar menjadi Rp 50 ribu.
Pertemuan dengan Panji Petualang
Keviralan Dika menarik perhatian Panji Petualang. Sebagai sesama pecinta reptil, Panji bersama tim lantas pergi menemui Dika di kampung halamannya. Dalam video yang diunggah Panji di Instagram, ia memperlihatkan bagaimana aktivitas Dika ketika sedang mencari ular. Dika terlihat lihai menelusuri area persawahan, kebun, dan memanjat pohon untuk menangkap ular-ular yang ia temukan.
Dika tampak tidak mengeluh meski sering kali digigit ular yang berontak ketika hendak ditangkap. Panji juga memberikan edukasi kepada Dika agar melakukan aktivitasnya itu dengan hati-hati. Ia mengajarkan Dika cara menghandle ular dengan lebih tepat. Selain itu, Panji juga mengajarkan Dika tentang jenis ular yang tidak boleh ditangkap karena berbisa.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”











