Pengalaman Sarapan di Demak: Mencicipi Sop Balungan yang Legendaris
Saya tiba di Demak lebih awal dari jadwal. Pukul 7 pagi, kaki saya sudah berada di pelataran masjid Agung Demak. Banyak orang sedang beraktivitas, seperti salat, berdzikir, atau membaca Al-Qur’an. Namun, pintu masjid dan juga museum serta perpustakaan yang berada dalam satu kompleks masih tertutup rapat.
Seorang penjaga mengatakan bahwa tempat-tempat tersebut baru akan dibuka pukul 8. Menunggu bukanlah hal mudah, terutama bagi mereka yang tidak memiliki rencana cadangan. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencari sarapan makanan khas daerah ini. Perut yang lapar memberi saran, dan saya pun langsung mencari informasi melalui Google.
Nama “Sop Balungan” sering muncul dalam hasil pencarian. Ini adalah ide yang bagus untuk sarapan. Kata Google, ada rumah makan terkenal yang menjual menu ini, yaitu RM Cipto Roso Spesial Sop Balungan. Dari namanya saja sudah jelas bahwa mereka ahli dalam menyajikan Sop Balungan.
Rumah makan ini telah berdiri sejak tahun 2003. Meski kini banyak tempat baru dengan menu serupa, tetapi RM Cipto Roso tetap menjadi andalan para penggemar Sop Balungan. Itulah alasan saya memilih tempat ini. Bukan hanya sekadar sarapan, tapi ingin mencicipi makanan khas Demak yang dielu-elukan oleh Google.
Dari masjid agung, saya berjalan ke arah utara menuju jalan Raya Demak-Kudus. Jaraknya sekitar 3 km. Meskipun mereka memiliki cabang lain, tapi ini yang paling dekat dengan lokasi saya saat itu.
Meskipun Google menyebutkan bahwa tempat ini baru buka jam 8, saya tetap memutuskan untuk berangkat dan menunggu di sana. Dan benar, tak ada pengunjung selain saya. Bukan karena tempat ini tidak laku, tapi memang belum siap.
Aroma amis cukup tercium ketika saya masuk ke ruangan utama. Aroma itu berasal dari dapur, yang mengisyaratkan bahwa daging sedang dimasak dalam jumlah besar. Seorang petugas perempuan datang dari arah dapur dan menghampiri saya. Saya meminta ijin untuk menunggu di dalam, dan ia membolehkan. Ia lalu menawarkan beberapa menu yang sudah siap seperti ayam dan lele, tapi saya menolak. Saya datang untuk Sop Balungan, titik.
10 menit setelah percakapan kami, petugas menghidangkan segelas es teh manis di meja. Beberapa saat setelahnya, nasi separuh porsi dan semangkuk Sop Balungan juga terhidang di meja. Waa, andai saya bisa menularkan aromanya kepada pembaca sekalian!
Balungan atau tulang sapi itu memenuhi mangkuk yang ukurannya tidak terlalu besar. Jumlahnya yang banyak membuat kuah sop seolah mau tumpah. Rasa lapar yang saya rasakan menyempurnakan semuanya.
Berbeda dengan sop ayam yang hanya berisi kuah dan ayam, Sop Balungan benar-benar berisi sayur sop (wortel, kol, seledri) dan balungan sapi. Rasa kuahnya sendiri tentu saja persis seperti sayur sop, segar dan gurih. Kaldu yang didapat dari balungan daging yang direbus berpadu dengan bumbu rempah yang membuatnya semakin kaya akan rasa.
Begitu digigit, daging langsung terlepas dari tulang tanpa perlawanan. Terlihat bahwa mereka dimasak dalam waktu yang tidak sebentar. Melihat daging-daging itu sebegitu lemahnya membuat saya ingin cepat-cepat mengigitnya lagi dan lagi.
Saya berupaya mengatur ritme makan agar tidak terlihat seperti orang yang belum makan selama 3 hari. Tapi memang benar kuah dan dagingnya membuat saya kewalahan untuk menahan diri. Beruntungnya tak ada banyak pelanggan di sana. Hanya segerombolan ibu-ibu yang sedang sarapan dengan posisi duduk sedikit jauh.
Kolesterol? Duh, saya hampir lupa soal itu. Kenapa pikiran soal kolesterol harus muncul di tengah suasana nikmat seperti ini? Maksud saya, tidakkah bisa datangnya nanti saja, atau setidaknya setelah seluruh daging habis saya telan? Ah, sudahlah, bismillah saja! Begitulah isi kepala saya di saat mulut sibuk mengunyah.
Saya merasa puas setelah berhasil (hanya) menyisakan tulang belulang. Tidak sia-sia saya berputar arah dan menunggu cukup lama. Saya mendapat hidangan sarapan yang tak hanya mengenyangkan perut tapi juga memanjakan lidah.
Total harga yang harus saya bayar adalah 36 ribu rupiah dengan rincian: 29 ribu rupiah untuk sop, 4 ribu rupiah untuk teh, dan 3 ribu rupiah untuk nasi separuh porsi. Sayangnya mereka belum menerima pembayaran via digital tapi untungnya saya punya cash. Ya, bagi kami yang terbiasa di Jakarta, punya uang cash itu prestasi luar biasa, he!
Saya cuma mau bilang, sepertinya kalau pergi ke Demak, tak ada salahnya mampir dan mencicipi kuliner yang satu ini. Trust me!











