"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Daerah  

Wilayah pesisir Aceh Tamiang kembali terendam banjir sungai meluap

Banjir Kembali Melanda Wilayah Pesisir Aceh Tamiang

Banjir kembali melanda sejumlah kampung di wilayah pesisir Aceh Tamiang. Genangan air ini disebabkan oleh meluapnya air sungai sejak Kamis (1/1/2026) petang kemarin. Sampai Jumat (2/1/2026) siang, air mulai surut, namun masih ada beberapa rumah warga yang tergenang.

Muhammad Daud, tokoh pemuda di Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang, mengatakan bahwa banjir ini merupakan banjir susulan setelah kampung mereka rusak akibat banjir pertama pada 26 November 2025. Banjir pertama itu menyebabkan tanggul di Kampung Raja rusak dan hingga kini belum ada perbaikan.

Tanggul yang jebol berada di jalan penghubung antara Kecamatan Bendahara dengan Kecamatan Seruway, tepatnya di Kampung Raja. Dampak banjir sudah melebar ke dua kampung lainnya, yaitu Lubukbatil dan Marlempang. Warga khawatir jika intensitas hujan kembali tinggi dan belum ada perbaikan, maka sebaran banjir akan semakin besar.

Daud menambahkan bahwa apabila intensitas hujan di wilayah hulu tinggi, maka kampung-kampung di Kecamatan Bendahara bisa terendam kembali, bahkan bisa melebar sampai kecamatan lainnya. Potensi bencana lebih besar ini diharapkan segera diatasi oleh pemerintah agar tidak memperparah kondisi warga.

Warga sangat terpukul karena dihantam banjir secara beruntun. Dalam lima tahun terakhir, sejumlah kawasan pesisir memang sering dilanda banjir. Banjir kiriman dari hulu membuat sektor pertanian yang menjadi andalan penduduk rusak.

Warga berharap pemerintah segera melakukan perbaikan sambil bermunajat kepada Allah SWT supaya semua masyarakat kuat dan tabah. Seperti diketahui, banjir besar yang membawa lumpur tebal di penghujung tahun 2025 ini memporandakan wilayah Kabupaten Aceh Tamiang.

Akibat banjir ini, banyak rumah masyarakat di daerah Bumi Muda Sedia (Aceh Tamiang) dilaporkan rusak berat dan bahkan hilang. Tidak sedikit pula kerugian materil lainnya seperti kendaraan roda empat dan roda dua milik korban banjir rusak terendam air lumpur, dan ada yang hanyut.

Pantauan ke lapangan pada Sabtu (6/12/2025), masih cukup banyak korban yang belum bisa kembali ke tempat tinggalnya. Rumah-rumah mereka yang tidak rusak parah masih dipenuhi lumpur cukup tebal. Batas air banjir merendam rumah mereka mencapai atap batas resplang atau sekitar tiga meter. Saat air tinggi, warga harus berjuang hidup-mati menyelamatkan nyawanya, sementara arus air cukup kencang.

Tinggi air melibihi kepala orang dewasa bahkan dua hingga tiga kali lipat dari tinggi manusia normal. Sedihnya lagi, saat ini mereka harus menempati tenda-tenda darurat seadanya yang terbuat dari terpal biru, biasanya didirikan di pinggir jalan.

Di tenda tidak layak tersebut, anak-anak, ibu hamil, orang tua atau lansia harus tidur melewati masa-masa sulit ini dengan beralaskan karton dan tikar. Sedangkan air bersih belum bisa mereka dapatkan, hanya ada beberapa suplai air tangki untuk kebutuhan memasak saja. Abunya tebal dari lumpur yang dibawa banjir juga mulai mengancam kesehatan mereka, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

Kantong-kantong pengungsian di daerah Aceh Tamiang cukup banyak, namun bantuan menurut warga belum sepenuhnya merata didapatkan. Beberapa hari sebelumnya, mereka sempat harus menahan lapar dan haus karena ketiadaan makanan dan minuman.

Aceh Tamiang adalah salah satu wilayah terparah tertimpa musibah bencana banjir di akhir tahun ini, bahkan lebih parah dari banjir tahun 2006 yang pernah melanda wilayah ini. Karena keberadaan wilayah berjuluk Bumi Muda Sedia ini dibelah oleh beberapa aliran sungai besar yang bermuara ke laut.

Orang menyebutnya Sungai Tamiang, sungai besar yang berada di tengah pusat Kota Kualasimpang, sungai yang mengalirkan air dari pegunungan Aceh Tamiang, Aceh Tenggara dan Aceh Timur. Saat banjir yang telah berlalu sekitar kurang dari sepekan lalu, air mencapai jembatan Kualasimpang, ketinggian air hingga menutupi atap rumah warga sekitar.

Kini korban banjir Aceh Tamiang hanya bisa pasrah, bantuan makanan juga belum sepenuhnya mereka dapatkan, termasuk yang sangat penting lainnya adalah air bersih. Memang saat ini bantuan selain dari pemerintah, dari berbagai pihak seperti komunitas, warga di luar daerah, serta lainnya mulai terus berdatangan.

Namun jika logistik tidak terus disokong Pemprov Aceh dan Pemerintah Pusat secara cepat, maka penderitaan masyarakat Aceh Tamiang yang mengalami cukup parah dampak banjir ini tidak akan berhujung. Belum lagi penanganan tempat tinggal bagi mereka yang rumahnya hilang dan rusak berat, Oemkab Aceh Tamiang dirasa tidak akan mampu berjalan sendiri.

Padahal jika dilihat dari kerusakan rumah dan fasilitas umum lainnya akibat ditimbulkan banjir di Aceh Tamiang ini, musibah ini sangat layak dilebel Bencana Nasional. Namun dengan berbagai alasan dan pertimbangan politis, Pemerintah Pusat sampai hari ini tidak menganggap bencana banjir besar di Aceh umumnya ini adalah Bencana Nasional.

Adriatno Majid

Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *