Kembangkan Produk Berbasis Alam, UMKM Berhasil Ciptakan Ekosistem Bisnis
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Dengan kontribusi sebesar 60,5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), UMKM menyerap tenaga kerja hingga 96,9 persen. Tidak hanya itu, banyak UMKM yang mampu menggerakkan ekonomi global dengan produk lokal yang menembus pasar ekspor.
Salah satu contohnya adalah Jarihitam Ecoprint, sebuah usaha berbasis ecoprint yang memanfaatkan dedaunan dan ranting di sekitar lingkungan. Pendirinya, Irfan Kristiyanto, mulai merintis usahanya pada 2018. Dengan modal awal sekitar Rp 25 juta, Irfan melakukan eksperimen selama dua bulan untuk menemukan teknik dan formula yang tepat dalam memanfaatkan bahan alami menjadi produk bernilai tinggi.
“Saya berpikir ini sangat menarik sekali, karena bahan bakunya dari lingkungan, semuanya ada di sekitar kita. Dan isunya sangat seksi, sampai kapan pun ecoprint tidak akan pernah mati,” ujar Irfan.
Sejak awal, Irfan melihat ecoprint bukan sekadar produk, tetapi ekosistem bisnis. Tiga bulan setelah memulai bisnis, dia membuka kelas untuk memperkenalkan ecoprint ke masyarakat sekitar. Tujuannya adalah agar bisnis dan alam bisa berkelanjutan. Penjualan boleh berkembang, tetapi kesinambungan alam harus dijaga.
Komersialisasi Jarihitam dimulai lewat pameran-pameran offline. Irfan sengaja tidak langsung masuk pasar online. Menurutnya, ecoprint perlu disentuh dan dirasakan. Langkah ke pasar global dimulai saat Disperindag Jawa Barat memboyong Jarihitam dalam misi dagang. Dari sana, pintu-pintu ekspor terbuka.
Belgia menjadi negara pertama yang disambangi pada 2018, disusul Perancis dan Jerman pada 2019, lalu Selandia Baru pada 2020. Kerja sama ekspor terpanjang dijalani dengan buyer dari Rusia dengan menjual kain buatannya pada periode 2024-2025, dan masih akan berlanjut.
Seiring meningkatnya permintaan, Irfan sadar ia tak bisa berjalan sendiri. Solusinya adalah komunitas. Warga sekitar dilibatkan, mulai dari penjahit hingga penyedia bahan. Ia juga bekerja sama dengan Koperasi Pemasaran Tlatah Nusantara Raya dan Jasa Raharja, sebagai anggota Holding Indonesia Financial Group (IFG), memberikan pelatihan kepada para ahli waris korban kecelakaan lalu lintas. Murid-murid ecoprint yang dia dampingi juga menjadi bagian dari rantai produksi.
Melalui Tlatah Nusantara Raya yang memiliki delapan butik di sejumlah hotel di Bandung, produk-produk Jarihitam Ecoprint turut dipasarkan secara berkelanjutan.
Pengembangan Produk Minyak Atsiri dan Rempah
Selain Irfan, ada juga Jejen Ahmar Jaenun yang menjalani usaha berbasis minyak atsiri dan rempah bernama Asta Nusa Warna. Setelah 24 tahun berjalan, perusahaan ini mulai fokus mengembangkan produk bernilai tambah, meski masih dalam tahap penyempurnaan.
“Kami mencoba melakukan pengembangan dan alhamdulillah sudah ada beberapa produk yang terwujud. Tapi memang ini proses yang terus disempurnakan,” ujar Jejen.
Dalam perjalanannya, Asta Nusa Warna juga mendapat pendampingan promosi melalui program aktivasi UMKM yang difasilitasi Jasa Raharja, anggota Holding IFG. Melalui sejumlah kegiatan, Jejen mengaku mendapatkan ruang belajar untuk meningkatkan kualitas produk dan memperluas pasar.
Saat ini, produk turunan Asta Nusa Warna telah hadir di sekitar delapan hotel di Bandung, dengan skema pemasaran yang difasilitasi Jasa Raharja bersama Koperasi Pemasaran Tlatah Nusantara Raya.
Membangun Ekosistem Ekonomi yang Berkelanjutan
Keterlibatan Jasa Raharja dalam pemberdayaan UMKM tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari strategi besar IFG, sebagai holding BUMN asuransi, penjaminan, dan investasi, yang memandang UMKM sebagai fondasi penting pertumbuhan ekonomi nasional.
Melalui keterlibatan anak usaha seperti Jasa Raharja dalam program pemberdayaan, IFG ingin mendorong UMKM naik kelas sekaligus memperkuat mata rantai ekonomi dari hulu ke hilir.
Sekretaris Perusahaan Indonesia Financial Group (IFG), Denny S Adji, mengatakan di balik aktivitas usaha yang tampak sederhana, tersimpan ekosistem ekonomi yang menghidupkan banyak pihak.
Pada satu unit usaha UMKM ada mata rantai panjang yang saling terhubung, mulai dari petani, pemasok bahan baku, hingga pelaku usaha pendukung lain. Seperti halnya ekosistem usaha aroma terapi yang melibatkan banyak pelaku, mulai dari petani bahan baku, pengrajin, hingga sektor angkutan yang memastikan pasokan sampai ke tempat produksi.
“Usaha seperti ini, meskipun tidak selalu berskala besar, namun memiliki kontribusi nyata dalam menggerakkan perekonomian dan menghidupi banyak pihak. Misalnya kapulaga, petaninya berbeda dengan yang menyuplai akar wangi, dan berbeda lagi dengan yang menyuplai vanila. Masing-masing memiliki ekosistem yang saling terhubung dan bernilai,” ujarnya.
Ekosistem serupa juga terlihat pada Jarihitam Ecoprint, dari dedaunan dan proses manual, usaha ini tidak hanya melibatkan pengrajin dan penjahit, tetapi juga masyarakat sekitar sebagai penyedia bahan dan mitra produksi.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."











