Dalam perjalanan panjang kembali ke dunia teater, saya menemukan diri kembali duduk di bangku penonton pada malam Sabtu, 19 Desember 2025. Pengalaman ini seperti pulang ke rumah lama yang telah lama ditinggalkan: akrab sekaligus asing. Mungkin karena terlalu lama kita dijejali drama politik yang penuh strategi dan riuh, namun sering kali kehilangan sisi kemanusiaannya. Malam itu, saya memilih untuk menyerahkan diri pada drama panggung, yang justru mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar jabatan, reputasi, atau kemenangan, melainkan tubuh yang rapuh dan pilihan yang tidak selalu adil.
Sebelum lakon dimulai, Mutiara Sani dengan cahaya lampu sorot panggung memberikan sambutan yang lebih dari sekadar pembuka. Ia membuka ruang ingatan tentang Asrul Sani, suaminya yang merupakan seorang penulis dan sutradara besar. Di ujung hayatnya, Asrul menulis naskah drama Nabila, yang direncanakan dimainkan oleh Mutiara sendiri. Namun latihan tak pernah mencapai pementasan. Kondisi Asrul semakin menurun hingga akhirnya wafat pada 11 Januari 2004. Rencana itu pun tertunda, nyaris menjadi catatan kaki dalam sejarah teater.
Dua puluh dua tahun kemudian, 19 Desember 2025 (terakhir pertunjukan 20 Desember 2025), melalui Sanggar Pelakon pimpinan Mutiara Sani, naskah itu akhirnya menemukan panggungnya di Gedung Kesenian Jakarta. Dengan pemain-pemain baru, zaman yang telah berubah, dan luka serta pertanyaan yang ternyata masih sama.
“Bapak memberikan saya ruang yang demikian luas,” kata Mutiara Sani, “sehingga saya tidak dapat meninggalkan rumah barang seinci pun.” Kalimat itu menggantung. Seperti cinta. Seperti kesetiaan. Seperti sebuah peran yang tak pernah benar-benar selesai.
Nabila adalah kisah tentang seorang perempuan, seorang ibu, seorang istri—yang berada di simpul antara cinta dan kuasa. Suaminya, Saladin, tengah menanjak karier sebagai Direktur sebuah bank. Sebuah posisi yang menuntut kebersihan, integritas, dan ketegasan. Namun masa lalu—seperti biasa—tak pernah benar-benar berlalu. Masa lalu itu bernama Suminta. Seorang pejabat bank yang pernah membantu Nabila meminjam uang ketika Saladin sakit keras. Pinjaman itu menyelamatkan nyawa. Tapi juga menyimpan dosa. Dalam keputusasaan, Nabila menggunakan tanda tangan ayahnya—dipalsukan—sebagai jaminan. Ia menyembunyikan semuanya dari Saladin, yang tak menyukai utang. Cinta, pada titik tertentu, memang sering bersekutu dengan kebohongan.
Ketika Saladin menjadi direktur baru dan memecat Suminta karena kasus penyelewengan dan pemalsuan tanda tangan, Suminta memiliki kartu truf: Nabila. Ancaman dilayangkan. Aib akan dibuka. Surat-surat dimasukkan ke kotak pos—sebuah benda yang kini terasa seperti artefak, namun malam itu menjadi pusat takdir.
Di sisi lain, hadir Martha, teman lama Nabila, yang kini menggantikan jabatan Suminta. Namun bersama perempuan itu datang pula masa lalu yang belum selesai. Ia adalah mantan kekasih Suminta, yang dulu pergi bukan semata karena kemiskinan, melainkan karena kebutuhan yang mendesak. Martha bercerita tentang ayah yang sakit keras, ibu yang renta, dan adik-adik yang menunggu biaya sekolah. Kini semua itu telah lewat: orang tuanya tiada, adik-adiknya telah berdiri sendiri, suaminya pun meninggal. Martha ingin kembali. Dan Suminta, pada akhirnya, luluh.
Surat perjanjian dengan tanda tangan palsu Nabila, disertai pencabutan ancaman, dimasukkan melalui kotak surat. Segalanya seolah beres. Namun drama—seperti hidup—tak pernah berhenti pada “seolah”. Kunci permasalahan ada di kotak surat yang kini menyimpan dilema itu.
Saladin dan Nabila pulang dari pesta malam tahun baru. Di situ Saladin teringat untuk membuka kotak pos rumah, berharap surat-surat selamat atas promosi dirinya mengalir. Nabila mencoba menahan. Tapi Saladin tetap membuka kotak surat. Dan benar saja. Ketika surat pertama dibaca, berisi ancaman dari Suminta, amarah Saladin meledak. Nabila dihina, disumpahserapahi, bahkan diusir. Ia dianggap perusak karier, noda reputasi, beban masa lalu. Di sini yang dihukum bukan kejahatan, melainkan ketidaktaatan perempuan terhadap citra moral laki-laki berkuasa.
Lalu surat kedua dibaca. Segalanya berubah. Saladin mendadak ceria. Surat itu ternyata menyatakan ancaman telah dicabut, bahkan surat yang bertandatangan palsu Nabila itu dikembalikan untuk dihancurkan. Bahaya telah lewat. Maka Saladin pun mendekat, meminta maaf, meminta pengertian. Mengajak Nabila menganggap badai tadi sebagai ujian yang telah berlalu. Apakah Nabila akan menerima kembali Saladin?
Di titik itu Nabila berhenti menjadi lakon dan menjelma cermin. Apakah cinta harus selalu menunduk pada rasa aman, dan melupakan kesetiaan? Cinta diperlakukan seperti benda rapuh yang hanya boleh disentuh setelah bahaya disingkirkan. Ia disuruh pergi ketika risiko datang, lalu dipanggil kembali saat segalanya selamat. Yang berdiri di hadapan Nabila bukan lagi seorang suami, melainkan seorang lelaki yang baru saja lolos—bukan oleh kebenaran, melainkan oleh kebetulan—dan kini lelaki itu ingin cinta hadir sebagai penutup luka kariernya. Maka kesetiaan direduksi menjadi jeda, dan cinta menjadi perhitungan yang hanya berani hidup di wilayah aman. Maka cinta pun direduksi menjadi administrasi emosi, dan kesetiaan menjadi kewajiban sepihak.
Pertanyaan terakhir lakon ini bukanlah apakah Nabila akan kembali, melainkan apakah ia masih memiliki ruang untuk memilih. Dalam dunia yang diatur oleh kuasa, pilihan perempuan sering kali hanya ilusi yang diselubungi kata “maaf”.
Varissa Camelia, sebagai Nabila, tampil menonjol: intens, rapuh, sekaligus tegak. Sebagai aktris film, ia membuktikan bahwa kemampuan akting film dapat bertransformasi utuh di panggung teater. Varissa memberi tubuh pada Nabila dengan ketegangan batin yang hidup—bukan sebagai korban pasif, melainkan sebagai manusia yang sadar akan ketidakadilan yang menimpanya.
Tak hanya Varissa. Semua lawan mainnya mengimbangi dengan baik. Bermain dengan ketepatan yang mengesankan. Tantangan teater adalah ia tak bisa diulang—dan malam itu segalanya mengalir nyaris tanpa cela.
Bahkan peran Mbok Suri yang dimainkan Ati Cancer tampil demikian alami—sehingga terasa seperti mbok-mbok sungguhan yang “nyasar” ke panggung, membuat orang hampir saja ingin memanggil satpam. Itulah pujian tertinggi bagi sebuah peran: ketika ia menghapus jarak antara panggung dan hidup.
Kontribusi Jose Rizal Manua sebagai sutradara menjadi penopang utama keberhasilan pertunjukan ini. Ia tidak sekadar “mementaskan” naskah lama, melainkan merestorasinya—dengan kepekaan pada ritme zaman tanpa mengkhianati jiwa teks. Ia membiarkan Nabila tetap berbicara dengan bahasanya sendiri, sembari memastikan konflik dan ketegangannya tetap relevan bagi penonton hari ini. Dalam kerja penyutradaraan itu, tampak upaya menjembatani masa lalu dan kini, sekaligus memenuhi impian yang tertunda: menghadirkan naskah terakhir Asrul Sani sebagai perwujudan nyata, bukan sekadar arsip. Dengan cara itu, Jose Rizal Manua tak hanya menghormati Asrul Sani, tetapi juga menggenapi harapan Mutiara Sani—bahwa ruang yang dahulu diberikan kepadanya akhirnya benar-benar menjadi panggung.
Di akhir sesi, hadir sambutan dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi, yang menyinggung kesetaraan gender dalam rumah tangga dan memuji keberanian tema yang diangkat drama ini. Sebuah penegasan bahwa panggung bukan hanya ruang estetika, tetapi juga ruang etika.
Tentu, kita sadar bahwa naskah Nabila ditulis pada masa sebelum digitalisasi merasuki hidup sehari-hari. Kotak surat, amplop dan lembar surat kertas kini terasa asing bagi generasi baru. Ada jarak waktu yang tak bisa disangkal. Namun di panggung itu, jarak waktu tak mengganggu irama batin, bahkan tak melemahkan ketegangan. Sebaliknya, ia justru mengingatkan: teknologi berubah, tetapi watak manusia tidak selalu ikut bergerak.
Ketika tokoh antagonis Suminta muncul, penonton di sebelah saya sempat beberapa kali mendesah, “Waduh.” Sebuah reaksi spontan yang menandakan keterikatan batin. Apalagi dengan didukung akustik Gedung Kesenian Jakarta yang prima, suara para aktor menjangkau hingga baris paling belakang, bahkan kostum busana para pemain yang pas karena didukung desainer kondang Samuel Wattimena, membuat keterikatan itu menjerat kita sejak awal sampai akhir pertunjukan.
Nabila adalah drama tentang cinta yang berutang, tentang kuasa yang rapuh, tentang perempuan yang dipaksa menanggung dosa demi menyelamatkan hidup orang lain. Dua puluh dua tahun setelah ditulis, ia kembali bukan sebagai fosil, melainkan sebagai cermin. Dan seperti semua cermin yang jujur, ia tak selalu menyenangkan, namun perlu.
Judul: NABILA
Drama Tiga Babak karya: Asrul Sani
Sutradara: Jose Rizal Manua
Pimpinan Produksi: Mutiara Sani
Tempat: Gedung Kesenian Jakarta
Tanggal: 19–20 Desember 2025
Busana : Samuel Wattimena
Pelaksana Produksi : Syauki Salahudin Sani
Penata Artistik: Kacit Zarkasih
Penata Tari: Maria Bernadetta | Penata Musik: Donny Irawan | Penata Rias: Dimas Mahendra
Pemeran: Ati Cancer, Hendrayan Duryan, Varissa Camelia, Ayez Kassar,
Ayu Basir Nurdin, Mulela Gayo, Uma Larasati Putrisyam











